Memaknai Jalan yang Berbelok

Catatan setelah mendengarkan “Laut yang Tenang” dari Bernadya.

Memaknai Jalan yang Berbelok

Catatan setelah mendengarkan “Laut yang Tenang” dari Bernadya.

26/06/2026

Rencana perjalanan ke Monas dengan vespa biru di malam tahun baru tak akan pernah kulupakan. Sebab bapak tak pernah mewujudkannya sampai di titik yang dituju. Belum sampai setengah jalan, beliau berbisik ke telingaku yang posisinya tepat di bawah mulutnya. “Kita mampir ke rumah saudara dulu ya di Gandaria.

Dalam seperempat perjalanan itu, hatiku penuh keceriaan. Kembang api dan ingar bingar musik sudah muncul dalam potongan gambar di kepala sambil ditemani semilir angin malam berbau bensin campur yang menyibak rambut dan berhembus ke mata hingga berair. Aku membonceng di depan.

Potongan gambar itu masih ada di kepala. Tapi waktu sudah melewati jam 12 malam. Berganti tahun. Dan merayakannya di Monas tidak pernah kejadian. Hanya dalam layar TV saluran TVRI yang kita lihat bersama-sama. Betapa meriahnya kembang api dan konser musik di sana.

Kami pulang dan sampai di rumah dengan selamat. Aku berpindah posisi, digendong di kursi penumpang belakang oleh ibu. Tak ingat apa-apa. Esok harinya, aku masih berharap peristiwa semalam hanya mimpi. Kita bisa ulang lagi malam ini untuk merayakan tahun baru di Monas. Sayangnya, ini hanya keinginan seorang anak kecil yang tak pernah tercapai.

Bapakku tidak jahat. Beliau hanya orang tua yang punya keterbatasan ilmu parenting di zamannya. Tapi beliau justru mengajarkan hal penting dalam perjalanan hidup, yaitu tentang hal-hal yang belum selesai. Dan kita sebagai manusia, selalu punya kesulitan untuk berdamai dengannya. Unfinished business selalu jadi alasan kita untuk menjemput kembali urusan yang kebanyakan berdampak buruk. Kentang, kata anak Jaksel.

Puluhan tahun berlalu. Hampir tiap malam, mimpiku tak pernah rampung. Rupanya kejadian itu membekas begitu dalam. Masuk ke dalam alam bawah sadar. Membatasi urusan yang tak akan pernah selesai. Serba nanggung.

Mimpi mau cetak gol. Tau-tau bangun. Mimpi ingin berciuman. Tau-tau bangun. Mimpi mau dapat uang. Tau-tau bangun. Mimpi mau traveling ke Jepang. Tau-tau bangun. Semua serba mendadak terbangun jika tujuan itu akan tercapai di dalam mimpi. Sejengkal lagi.

Persis yang Bernadya bilang di lagu terbarunya berjudul “Laut yang Tenang”: semoga yang kutakutkan hanya di mimpi. Lirik ini seperti menjelaskan apa yang selama ini sulit aku utarakan.

Semua yang dimimpikan tidak pernah benar-benar terjadi secara utuh. Apalagi jika yang diinginkan tervisualisasikan dalam mimpi dan tak pernah terjadi di kehidupan nyata? Mengerikan. Harapku sama, biarlah ketakutan itu tetap tinggal di mimpi.

Untung saja Bernadya hadir dengan suara yang khas. Seperti punya frekuensi tersendiri dan banyak energi baik yang tersublimasi dalam harmoni lagu ini. Ritmis yang mengulang seperti rapalan mantra yang memanjatkan harap untuk kita tetap mengingat kekhawatiran. Hal yang harus tetap ada dalam rangka menjaga kewarasan insan manusia. Ada keberhasilan dan bahaya yang selalu datang. Kadang bersamaan. Seperti laut yang tenang. Kalau bisa yang bahayanya hanya cukup sampai di mimpi saja.

Saya mengimani, jika mimpi kita besar dan berupaya diwujudkan, maka di kehidupan nyata juga bisa diupayakan. Walaupun, “separuh hatiku memaksa untuk waspada nanti ombak kan datang”. Tak pernah benar-benar berani. Selalu ada ketakutan, kekhawatiran, dan rasa cemas yang tinggi. Berkeyakinan akan baik-baik saja menjadi hal yang sangat sulit. Minder.

Setiap langkah yang diikhtiarkan selalu memunculkan pertanyaan, apakah ini hal yang nyata dan benar-benar bisa digapai dengan baik?. Sebab laut yang tenang patut dicurigai. Nanti ombak akan datang tiba-tiba. Begitu isi kepala adanya. Was-was. Celaka mengintai dan mengikuti.

Di pekerjaan ataupun percintaan, perjalanannya selalu sama: dibayang-bayangi ketakutan untuk gagal dan mengecewakan. Tidak enak punya perasaan seperti ini. Sampai sekarang, yang kutakutkan semoga hanya benar-benar di mimpi.

Sebab banyak orang yang selalu takut ketika hampir berhasil. Ada orang yang nyaman saat berjuang, tetapi gelisah ketika kemenangan sudah di depan mata. Karena kegagalan sudah terasa familier, sedangkan keberhasilan menjadi rasa yang asing di tubuh ini.

Takut ketika hubungan terasa bahagia. Takut ketika pekerjaan mulai stabil. Takut ketika mimpi mulai terwujud. Takut jika teman-teman di sekelilingnya benar-benar mendukung ide-ide gilanya. Karena dalam kepala ini seperti ada suara yang bilang, “Ini terlalu baik untuk menjadi kenyataan.”

Sampai akhirnya aku sadar, kita harus punya kendali penuh atas cara kita dalam memaknai perjalanan, mulai dari apa yang kita inginkan hingga meninggalkan ketakutan yang melekat itu.

Sebuah pengalaman di malam tahun baru saat itu sudah kumaafkan. Aku yakin bapakku sangat merasa bersalah, namun dia tidak bisa utarakan secara langsung kepada diriku. Tapi aku sangat paham penyesalan itu ada. Sebab dia bapakku. Tak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya untuk tidak berhasil.

Jika aku tidak mengalami perjalanan seperti ini, mungkin aku akan menjadi orang yang sangat arogan dan tidak menyadari perkara ini. Tidak ada urgensi untuk mendengarkan suara separuh hatiku yang memaksaku untuk waspada jika nanti ombak akan datang, tidak akan pernah siap untuk kemunculannya yang bisa tiba-tiba.

Kini aku sudah menjadi orang tua. Anak-anakku beranjak dewasa. Masa kecilnya aku perhatikan betul agar tidak ada trauma yang diwariskan kepada mereka. Pola asuh berbeda sesuai zamannya. Namun satu yang pasti, memberikan dorongan untuk rasa percaya diri dengan tetap eling dan seimbang bersama hal-hal yang harus dirayakan dan diwaspadai secara bersamaan. Hidup mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sering datang bersama kemungkinan kehilangan.

Aku memang tidak pernah sampai ke Monas di malam tahun baru. Tapi perjalanan berbelok ke Gandaria, membawaku ke tempat yang lebih bermakna. Tidak semua harapan harus sampai ke tujuan dengan mulus. Justru yang tidak pernah terwujud malah berkontribusi terhadap jalan hidup kita.

Bisa jadi, jika malam itu aku sampai ke Monas, aku hanya akan mengingat kembang api dan ingar bingar konsernya saja. Tetapi karena tidak sampai, aku mengingat pelajarannya seumur hidup. Hal-hal baik yang datang dalam hidup patut dirayakan dengan rasa syukur, bukan dicurigai dengan ketakutan yang muncul bersamaan. Apa yang kita terima hari ini sering kali merupakan hasil dari perjalanan panjang yang bahkan tidak kita pahami saat menjalaninya.

Mungkin itu pula yang ingin diajarkan bapakku. Hidup tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita tuju. Namun jika kita bersedia memaknai jalan yang berbelok, selalu ada kebaikan yang bisa diwariskan kepada diri sendiri, anak istri, hingga orang lain.

Faktanya, dulu aku tidak pernah sampai ke Monas. Sekarang kerjaku melintasi Monas. Pemandangan kantorku tepat melihat pucuknya.

Dzulfikri Putra Malawi

Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku “LOKANANTA” secara kolektif.
  • Dzulfikri Putra Malawi

    Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku "LOKANANTA" secara kolektif.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga