Rifli Mubarak: Memaafkan Masa Lalu dan Merawat Inner Child yang Terluka

Luka masa kecil itu nyata. Dan nggak semua orang cukup beruntung untuk pulih sendirian.

Rifli Mubarak: Memaafkan Masa Lalu dan Merawat Inner Child yang Terluka

Luka masa kecil itu nyata. Dan nggak semua orang cukup beruntung untuk pulih sendirian.

23/07/2026

Saya selalu percaya bahwa cara seseorang memandang manusia sering kali lahir dari pengalaman paling pribadinya. Pada Rifli, keyakinan itu terasa sepanjang percakapan kami.

Ia bisa saja menghabiskan waktu menceritakan bagaimana hidup berkali-kali terasa tidak adil: perundungan, kehilangan rumah, kehilangan ibu, hingga depresi. Tapi yang lebih sering muncul justru cerita tentang memaafkan, memahami, dan menciptakan ruang yang lebih aman bagi orang lain.

Lewat obrolan kami dalam Berbagi Perspektif, Rifli membuka ruang rentan tentang perjalanannya memaafkan masa lalu, memeluk ketidaksempurnaan, hingga misinya merawat kesehatan emosional anak-anak lewat literasi.

***

Siapa Rifli Mubarak dan seperti apa lanskap yang pertama kali muncul di kepalamu tentang masa kecil di Palu?

Aku lahir dan tumbuh di Palu sekitar 18 tahun jadi Palu itu benar-benar definisi rumah buat aku. Dulu pas masih kecil, aku tuh tipe anak yang sangat lugu, lembut (soft-hearted), perasa, dan sejujurnya nggak punya terlalu banyak teman. Sangat berbeda dengan caraku membawa diri sekarang.

Kalau ingatan ditarik kembali ke Palu, lanskap yang pertama kali muncul di kepalaku adalah suasana lingkungan Perumnas Balaroa yang sangat ramah, hangat, dan kental dengan rasa kekeluargaan; apalagi saat masa puasa dan Lebaran. Semua orang saling kenal. Tapi, begitu bencana gempa dan likuifaksi Palu terjadi, semuanya berubah. Masjid besar tempat kami biasa berkumpul runtuh, rumah-rumah tertelan tanah, dan area perumahan kami yang dulunya pemukiman berubah jadi rawa-rawa akibat peristiwa toponimi atau likuifaksi itu.

Sedihnya, setelah bencana itu, aku merasa kehilangan seluruh memori fisik masa kecilku: tempat bermain, tempat berkomunikasi, hingga tempat melepas lelah. Kesimpulannya, sekarang aku seperti nggak punya fisik “tempat pulang” lagi di Palu. Itu hal yang cukup menyedihkan setiap kali mengingat lanskap rumahku dulu.

Di satu sisi kamu kangen dengan Palu, tapi di sisi lain kamu pernah bercerita kalau juga pernah mengalami perundungan (bullying) di sana sewaktu kecil. Gimana kamu berdamai dengan paradoks itu?

Iya, itu memang terasa paradoks banget. Aku mengalami perundungan sewaktu SD dan berlanjut sampai SMP. Waktu SD, aku itu anak yang sangat culun, kurus, dekil, dan nggak bisa fit in atau berbaur dengan pergaulan anak-anak pada umumnya. Aku nggak pandai berkomunikasi dan pendiam banget, jadi aku nggak punya banyak teman.

Ejekan yang paling sering aku terima itu verbal dan ofensif banget. Aku sering dikatain “kurus dekil”, dikerjain rame-rame, dan dianggap lemah atau nggak maskulin. Karena belum punya mekanisme pertahanan diri (self-defense), aku cuma nelan mentah-mentah semua perkataan jahat itu. 

Dampaknya kebawa sampai aku dewasa: aku sempat jadi orang yang terlalu mikirin omongan orang lain, penakut, dan takut jadi diri sendiri.

Tapi, yang membuatku bisa bertahan adalah fase memaafkan. Aku sadar bahwa saat itu, teman-teman kecilku pun masih seperti kertas putih; mereka polos, belum dewasa, dan mungkin nggak sadar kalo tindakan mereka itu menyakiti hatiku. Memaafkan itu ternyata powerful banget.

Pengalaman pahit itu akhirnya berubah menjadi post-traumatic growth. Sekarang, ketika bertambah usia, luka itu membuatku ingin mengedukasi anak-anak tentang pentingnya menerima keunikan dan keberagaman sejak dini. Kita harus mengajari anak-anak bahwa menjadi berbeda–entah itu kurus, gendut, hitam, atau putih–adalah hal yang wajar dan bukan alasan untuk merundung.

Di dalam rumah sendiri, seperti apa dinamika keluarga dan pola pengasuhan yang kamu terima saat itu?

Aku anak ketiga dari empat bersaudara, dan aku anak laki-laki satu-satunya. Dulu, hubungan dengan keluarga sebenarnya baik-baik aja, tapi pola pengasuhan zaman dulu itu cenderung cuek dan nggak melihat perundungan di sekolah sebagai sesuatu yang berbahaya. Orang tuaku mungkin nggak tau kalo hati anak laki-lakinya ini sedang hancur di luar rumah.

Selain itu, karena aku anak laki-laki sendiri, ada ekspektasi khusus dari Bapak. Didikannya menekankan bahwa laki-laki itu harus kuat, keras, dan nggak boleh cengeng atau nangis. Padahal menurutku, anak laki-laki juga butuh ruang untuk mengutarakan perasaannya.

Waktu kecil, aku nggak punya tempat cerita sama sekali. Aku nggak pernah curhat ke saudara atau orang tua. Setiap kali pulang sekolah habis di-bully, aku cuma bisa masuk kamar, nangis sendirian, terus menuliskan semuanya di buku harian (diary). Memendam emosi negatif sendirian di masa kecil itu ternyata toxic banget. Ibarat gelas yang terus-menerus diisi air tanpa pernah dituang, lama-lama bakal meluber dan merusak diri sendiri.

Rangkaian hidupku waktu itu terasa berat banget: mengalami perundungan dari SD-SMP, lalu pas masuk kuliah, bencana Palu terjadi dan Mama meninggal dunia di Balaroa. Kombinasi trauma perundungan, bencana, dan kehilangan Mama itu sempat membuat aku jatuh ke fase depresi yang sangat berat.

Terus gimana akhirnya kamu bisa keluar dari lingkaran traumatis itu dan mulai pulih?

Titik baliknya dimulai pas SMA. Saat SMA, aku mulai terbebas dari perundungan. Salah satu pemicunya adalah prestasi.

Waktu SD dan SMP, aku sebenarnya anak yang berprestasi dan selalu dapat juara kelas, tapi saat itu aku malah makin terisolasi karena dianggap anak aneh yang cuma bisa belajar. Nah, pas SMA, prestasi akademis dan tulisanku mulai membentuk branding diri yang positif. Orang-orang jadi mulai segan dan sadar kalo cara mereka memandangku dulu itu salah.

Selain itu, aku mulai membuka diri untuk curhat ke Mama di akhir-akhir masa hidup beliau, dan itu melegakan banget. Momen ketika aku mulai bisa berdamai dan meraih prestasi itu bikin orang-orang berbalik segan. Tapi hebatnya, pengalaman itu nggak bikin aku dendam. Aku justru berjanji pada diriku sendiri untuk spread kindness; menyebarkan kebaikan.

Karena aku tau betapa sakitnya di-bully, aku jadi sangat berhati-hati dalam menjaga perkataan. Di ruangan mana pun aku berada, aku berusaha banget untuk nggak pernah ngebentak, ngata-ngatain, atau menyakiti hati orang lain. Kita nggak pernah tau masalah berat apa yang sedang ditanggung seseorang saat dia pulang ke rumah.

***

Mendengar Rifli bercerita tentang masa kecilnya, saya makin menyadari bahwa perundungan tidak selalu meninggalkan bekas yang terlihat. Kadang yang tertinggal justru cara seseorang memandang dirinya sendiri selama bertahun-tahun.

Yang membuat saya penasaran, bagaimana seseorang yang pernah begitu takut pada penilaian orang lain akhirnya bisa berdamai dengan dirinya sendiri?

***

Kamu sering menyebut tentang pentingnya memeluk inner child (sisi anak kecil di dalam diri). Seperti apa bentuk proses penyembuhan itu buat kamu sekarang?

Proses penyembuhan buatku adalah tentang memberi belas kasih (self-compassion) ke diri sendiri. Dulu waktu kecil, ada banyak kebutuhan emosional anak kecilku yang nggak terpenuhi: kayak apresiasi, teman bermain, atau kebebasan berekspresi.

Sekarang, di usia dewasa, aku coba membagi personaku jadi dua: Rifli dewasa dan Rifli kecil. Rifli kecil di dalam diriku ini sebenarnya masih sering meronta-ronta karena luka masa lalu. Nah, tugas Rifli dewasa adalah membalas dan memenuhi kebutuhan anak kecil itu sekarang. Caranya gimana? Aku suka journaling, lakuin hobi-hobi kreatif, coba olahraga yang dulu nggak bisa aku lakukan, dan rutin memberikan afirmasi positif ke diri sendiri.

Kadang ada orang di luar sana yang nganggep konsep inner child atau kesehatan mental ini cringe, lebay, alay, atau cuma pencitraan cari perhatian. Banyak orang meremehkan hal ini. Tapi buat aku yang pernah kehilangan ibu di usia remaja, diterpa bencana alam, dan korban perundungan, aku akan berdiri di garda terdepan untuk bilang: sisi anak kecil yang terluka itu nyata dan butuh waktu untuk dipulihkan. Kita nggak bisa cuma menepisnya dengan kata-kata, “Ya udah lah, gitu aja kok dibikin rumit.”

***

Obrolan kami perlahan bergeser dari masa lalu ke masa depan.

Menariknya, Rifli tidak banyak berbicara tentang mimpi pribadi atau target hidup. Ia justru lebih bersemangat ketika membayangkan anak-anak yang kelak tumbuh dengan pengalaman yang berbeda dari dirinya. Seolah seluruh proses pulih yang ia jalani memang sedang diarahkan ke sana.

***

Sekarang kamu sedang memproses buku cerita anak bergambar bersama seorang ilustrator. Boleh cerita sedikit tentang isi dan misi di balik buku ini?

Iya, aku dan temanku (Uswa, seorang ilustrator) sedang menggarap project buku anak bergambar. Tokoh utamanya bernama Chiko, seorang anak laki-laki yang berbadan gendut. Chiko ini merasa dirinya nggak pintar dan susah banget buat fit in dengan permainan anak laki-laki pada umumnya, seperti bermain bola. Tapi ternyata, Chiko punya keahlian lain yang luar biasa, yaitu dia jago melukis.

Misi utama dari buku ini adalah mengajarkan anak-anak untuk menerima perbedaan bakat dan lebih menyayangi diri sendiri. Kita nggak perlu memaksakan diri untuk sama dengan orang lain hanya demi diterima di lingkungan (fitting in). Anak-anak perlu tau dari kecil bahwa setiap orang punya potensi yang berbeda-beda, and it’s okay.

Aku concern banget melihat berita anak-anak SD atau remaja yang nekat mengakhiri hidup hanya karena merasa terisolasi, di-bully, atau merasa nggak diterima di lingkungannya. Lewat cerita yang sederhana, aku ingin menanamkan emotional intelligence (kecerdasan emosional) sejak dini. Aku ingin memberikan bacaan yang dulu sangat aku butuhkan pas aku masih kecil.

Jika kelak kamu menjadi seorang orang tua, perspektif apa yang paling ingin kamu terapkan dalam mendidik anak?

Sebagai orang tua nanti, aku ingin “menyembuhkan” Rifli kecil dengan cara merawat anakku sebaik-baiknya. Aku ingin jadi orang tua sekaligus teman cerita yang dua arah, bukan yang menggurui.

Kunci paling penting dalam pengasuhan menurutku adalah memvalidasi perasaan anak dan menerima ketidaksempurnaannya. Orang tua itu nggak ada yang sempurna, jadi jangan menuntut anak untuk jadi sosok yang sempurna sesuai ekspektasi pribadi. Kalo anak lagi sedih atau menangis, tanyakan dengan lembut, “Kenapa kamu menangis?”, bukannya malah dimarahin dengan kalimat, “Masa gitu aja nangis, kamu harusnya kuat!”

Perasaan manusia itu seperti cuaca; kadang cerah seperti matahari, kadang hujan tertutup awan, tapi awan itu pasti akan bergerak lewat. Kalo perasaan anak terus-menerus diinvalidasi dan dituntut sempurna, anak justru akan kehilangan rasa percaya diri (confidence) dan takut untuk berpendapat. Aku ingin anakku nanti tumbuh di lingkungan yang aman untuk jujur pada perasaannya sendiri.

Dari seluruh proses dan perjalanan hidupmu sampai hari ini, apa satu hal yang paling kamu syukuri dalam hidup?

Hmmm … aku nggak pernah menyerah dan selalu mengambil opsi bangkit setelah kelam. Kayaknya itu deh.

Kalo dipikir-pikir lagi sekarang, ternyata aku bisa survive sejauh ini ya. Alhamdulillah, sesulit apa pun keadaannya, aku nggak pernah punya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Masa lalu yang buruk itu memang menyakitkan, tapi di saat yang sama, dia membentuk sense of nature di dalam diriku jadi pribadi yang resilien. Mau dijatuhkan seperti apa pun, mau kehilangan tempat tinggal dan sosok ibu, aku akan tetap memilih untuk bangkit, berjuang, dan terus melangkah maju. Aku bersyukur karena ketidaksempurnaan masa laluku justru membentukku jadi laki-laki yang tegar, punya empati tinggi, dan mampu merangkul sisi ketidaksempurnaan itu jadi sebuah karya yang bermanfaat buat orang lain.

***

Saya jadi teringat pada satu hal, bahwa Rifli tidak bisa memilih masa kecil seperti apa yang ia jalani. Ia juga tidak bisa mengembalikan rumah yang hilang atau menghadirkan kembali ibunya.

Tapi ia masih punya kuasa atas satu hal: memutus mata rantai luka itu.

Lewat buku yang sedang ia tulis, cara ia berbicara tentang kesehatan mental, hingga bagaimana ia membayangkan dirinya sebagai seorang ayah kelak, Rifli sedang melakukan sesuatu yang mungkin terdengar sederhana; memberikan kepada orang lain apa yang dulu tidak sempat ia terima.

Dan mungkin, itulah bentuk penyembuhan yang paling utuh.

Rizka Oktivani

Suka nulis ajah sih.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga