Kalis Mardiasih: Bertumbuh dari Kemiskinan, Berdaya dengan Mencatat Pengalaman Perempuan

“Nggak ada satu pun manusia yang layak merendahkan manusia lain.”

Kalis Mardiasih: Bertumbuh dari Kemiskinan, Berdaya dengan Mencatat Pengalaman Perempuan

“Nggak ada satu pun manusia yang layak merendahkan manusia lain.”

03/07/2026

Ada orang yang ketika ditanya satu pertanyaan akan menjawab seperlunya. Ada juga yang satu jawaban bisa membuka begitu banyak pintu percakapan. Kalis Mardiasih termasuk yang kedua.

Saya cukup mengenal Kalis lewat tulisan-tulisannya yang beredar di media sosial dan buku-bukunya. Namun ketika akhirnya berbincang langsung dengannya, saya justru menemukan sesuatu yang berbeda. Di balik sosok yang selama ini dikenal lantang menyuarakan isu perempuan, ternyata ada seorang anak dari kota kecil di Blora yang berkali-kali kembali pada cerita tentang kemiskinan, buku, dan ibunya.

Obrolan kami terus bergerak, dari pengalaman masa kecil, pendidikan, feminisme, sampai kecemasan menjadi seorang ibu hari ini. Hampir setiap cerita yang disampaikan selalu berakhir pada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana seseorang bisa hidup dengan lebih adil, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Inilah percakapan saya bersama Kalis Mardiasih dalam segmen Berbagi Perspektif.

***

Pikiranmu belakangan ini lagi banyak dipenuhi oleh keresahan apa sih, Mbak?

Wah… banyak banget dan bercabang. Tapi kalau dikerucutkan, tentu saja masih soal isu perempuan. Banyak persoalan yang sampai hari ini belum tertangani dengan baik di negara ini. Misalnya femisida, yaitu pembunuhan terhadap perempuan karena identitas gendernya sebagai perempuan. Belakangan ini kasusnya makin mengkhawatirkan: ada perempuan dibunuh karena menolak cinta, diputusin, bahkan karena menjadi target pasangan yang terlilit utang pinjol atau judi demi mengambil uangnya. Kenapa ya, konflik seperti ini ujung-ujungnya harus berakhir dengan pembunuhan?

Lalu ada filisida, yaitu pembunuhan anak oleh orang tuanya sendiri. Fenomena ini juga semakin sering terjadi, dipicu depresi akibat tekanan ekonomi. Ada ibu yang mengajak anak-anaknya bunuh diri karena merasa nggak sanggup lagi menjalani hidup. Buatku, ini adalah bentuk kekerasan paling ekstrem terhadap perempuan dan anak.

Padahal, kita sempat punya harapan ketika UU TPKS disahkan pada 2022. Sayangnya, sekarang rasanya kita sedang melangkah mundur. Efisiensi anggaran membuat banyak program pencegahan, penanganan, dan pemulihan korban kekerasan berbasis gender nggak berjalan optimal. Misalnya, layanan SAPA 129 milik Kementerian PPPA yang kini sering nggak bisa merespons karena keterbatasan operasional. UPTD PPA di berbagai daerah pun kesulitan bergerak karena anggarannya ikut terdampak.

Keresahan-keresahan itulah yang akhirnya membuat aku memilih untuk terus menyuarakan isu ini dan turun langsung ke jalan.

Kalau kita mundur ke belakang, saat membayangkan masa kecil di Blora, seperti apa lanskap yang pertama kali melintas di pikiranmu?

Aku lahir di Blora, sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang menurut data selalu masuk nominasi kota paling miskin di sana. Ibuku buruh cuci gosok dan pekerja rumah tangga, sedangkan bapakku kerja serabutan apa saja untuk menyambung hidup. Tapi karena semua tetanggaku juga miskin, kemiskinan itu terasa normal-normal saja buat kami. Untungnya zaman dulu belum ada YouTube atau TikTok, jadi kami tetap bisa bahagia tanpa perlu membandingkan diri.

Di lingkungan itulah aku merekam langsung pengalaman pahit para perempuan. Aku sering melihat tetangga perempuan bertengkar hebat dengan suaminya karena sang suami pulang nggak bawa uang, padahal besok anaknya harus bayar kebutuhan sekolah. Siklus kemiskinan itu berputar terus. Banyak anak orang miskin yang nggak bisa lanjut sekolah, akhirnya terperosok ke tindakan kriminal atau mengalami kehamilan tak diinginkan (KTD). Teman-teman perempuan seangkatanku biasanya setelah lulus SMA langsung jadi SPG susu di swalayan, jadi buruh, atau jadi pekerja migran. Salah satu sahabat dekatku bahkan menjadi pekerja migran ke Malaysia sejak lulus SMP dan nggak pulang-pulang sampai puluhan tahun. Tragisnya, dia tetap nggak bisa menabung karena uang yang dia kirimkan habis dipakai judi oleh orang tuanya.

Kemiskinan ini erat banget kaitannya dengan keterbatasan akses pengetahuan. Karena mereka nggak tau harus mencari akses ke mana, mereka jadi sulit mencapai kesejahteraan.

Lalu, apa titik balik yang akhirnya menolong kamu keluar dari siklus keterbatasan itu?

Yang menolongku adalah perjumpaan dengan buku-buku. Kebetulan aku cukup berprestasi di sekolah, jadi bisa masuk ke SMP terbaik di kotaku. Di sana aku aktif di organisasi pengajian remaja Islam. Kebetulan, alumni-alumni organisasi itu banyak yang kuliah di kampus besar seperti UGM atau Undip. Nah, kalau liburan pulang kampung, mereka suka membawakan buku-buku bagus untuk kami.

Gara-gara membaca buku, salah satunya novel chicklit atau teenlit terbitan Gramedia, aku jadi punya imajinasi baru yang berbeda dengan cara hidup keluargaku dan tetangga-tetanggaku. Buku-buku itu menceritakan kehidupan mahasiswa dan dinamika persahabatannya. Aku jadi tau, oh, ternyata ada cara lain ya dalam menjalani hidup ini. Jalur hidup setelah lulus sekolah itu nggak cuma mentok jadi buruh lalu menikah. Ada dunia perkuliahan yang bisa mempertemukan kita dengan pergaulan lintas isu dan mewujudkan cita-cita yang lebih tinggi.

Dulu kalau ditanya cita-cita, aku cuma bisa menjawab pengin jadi guru. Kenapa? Karena di lingkungan sekitarku, profesi kelas pekerja atas yang mataku lihat ya cuma guru. Bapak, ibu, dan orang tua teman-temanku rata-rata cuma pekerja kasar atau dagang es di depan perkantoran. Aku nggak punya imajinasi untuk menyebut profesi kayak hakim, ilmuwan, atau peneliti. Buku-bukulah yang membuka mataku kalau tenaga kesehatan itu nggak cuma dokter, dan di dunia pertanian itu ada yang namanya ilmuwan pertanian. Begitu imajinasi baru itu masuk ke kepala, mimpi kita nggak akan bisa di-stop oleh keadaan lagi.

Saat menjalaninya, ada nggak momen ketika keadaan ekonomi memaksa kamu untuk realistis dan membatasi mimpi itu, Mbak?

Sedari awal, anak orang miskin itu sering kali udah membatasi mimpinya sendiri. Bukan sekadar realistis, tapi karena realitas sosial tempat kita bertumbuh memang membatasi imajinasi kita. Waktu memilih jurusan kuliah, aku langsung mengincar pendidikan keguruan karena biaya masuk dan SPP-nya paling terjangkau.

Pas diterima di beberapa perguruan tinggi, Bapak langsung bilang kami nggak punya biaya. Tapi mimpi ini telanjur terlalu besar untuk dihentikan. Beruntung, ikatan alumni SMA-ku patungan membiayai kuliahku. Awalnya mereka bilang itu pinjaman, tapi ketika aku lulus dan ingin mengembalikannya, mereka menolak. Mereka cuma bilang, “Just pay it forward.”

Kalimat itu terus aku pegang sampai sekarang. Setiap tahun aku berusaha membantu mahasiswa yang kesulitan biaya kuliah, butuh laptop, atau buku untuk menyelesaikan skripsinya. Aku semakin yakin bahwa pendidikan bukan cuma memutus rantai kemiskinan, tapi juga mengembalikan harga diri. Anak orang miskin sering kali bukan hanya kekurangan uang, melainkan juga tumbuh dengan rasa rendah diri karena terus dipandang sebelah mata.

Buatku, mobilitas sosial itu seperti lompatan vertikal. Saat kita berusaha melompat, keadaan sering menarik kita kembali ke bawah. Tapi kalau berada di lingkungan yang suportif, akan selalu ada tangan-tangan yang ikut mendorong kita naik.

***

Semakin lama mendengarkan Kalis bercerita, saya mulai sadar bahwa yang membentuk dirinya sebenarnya adalah kesempatan untuk membayangkan hidup yang berbeda.

Buku-buku memberinya bahasa baru, tapi pengalaman melihat perempuan-perempuan di sekitarnya yang kemudian memberinya alasan untuk terus bersuara.

***

Lalu, bagaimana awal mulanya kamu bersentuhan dengan isu kesetaraan gender dan gerakan perempuan?

Perjumpaanku dengan isu perempuan dimulai pas aku jadi mahasiswa. Aku mulai melahap buku-buku yang ditulis oleh penulis perempuan, membaca surat-surat Kartini, komik Marjane Satrapi, sampai karakter Nyai Ontosoroh di novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Nyai Ontosoroh itu bisa dibilang feminis pertama dalam hidupku. Dari tokoh-tokoh itu aku berefleksi: kok bisa ya ada perempuan-perempuan pemberani yang sanggup mengambil keputusan sendiri dan melawan ideologi lingkungan sosialnya yang bertentangan dengan visinya?

Lalu aku merefleksikannya ke sosok ibuku sendiri. Jujur, aku selalu menggambarkan ibuku sebagai potret perempuan yang nggak berdaya. Karena miskin dan bekerja sebagai PRT, ibuku selalu merasa derajatnya lebih rendah dari orang lain. Bukan cuma soal materi, tapi cara tubuh dia merespons lingkungan itu menunjukkan mental ngawulo, merasa dirinya abdi (pelayan/bawahan). Kalau ada tamu datang ke rumah kami, ibuku otomatis memilih duduk lesehan di lantai bawah sementara tamunya duduk di atas kursi. Itu respons tubuh yang merasa nggak berdaya. Sejak kecil pun, kalau aku meminta izin apa saja ke Ibu, jawabannya pasti, “Nanti tanya Bapak dulu.” Ibu nggak pernah bisa membuat keputusan sendiri untuk hidupnya.

Sementara aku tumbuh menjadi anak yang sangat berbeda dari Ibu. Pas SMP aku jadi ketua OSIS, ketua Pramuka, dan sangat vokal. Pas kuliah pun aku aktif menyuarakan pendapat dan mulai rutin menulis opini di koran-koran. Tanpa kusadari, kepribadianku yang keras dan vokal ini terbentuk karena aku ingin menjadi antitesis dari ibuku. Aku nggak suka kelemahan, dan aku nggak mau hidup lemah tanpa daya seperti Ibu. Aku nggak mau jadi perempuan yang kalau punya keinginan harus menunggu ketukan palu laki-laki dulu cuma karena merasa nggak punya uang dan takut sama dunia.

Mengapa akhirnya memilih kuliah di UNS mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris?

Balik lagi ke poin awal: karena aku anak orang miskin, jurusan itu adalah pilihan yang paling realistis dari segi biaya masuk dan SPP-nya yang paling murah saat itu.

Alasan kedua, dulu ada guruku yang menasihati, “Kalis, kalau kamu ambil jurusan Bahasa Inggris, senggaknya kamu bisa langsung kerja sampingan buka les-lesan.” Pertimbangan itu nyata banget buat aku. Ketika kuliah dan bapakku nggak bisa ngasih uang bulanan, aku udah bisa mandiri, punya uang sendiri hasil mengajar les bahasa Inggris sejak semester awal. Kebetulan aku juga merasa jago di bidang itu karena sejak sekolah sering ikut lomba debat bahasa Inggris. Walaupun pas dijalani, kuliah di FKIP itu ternyata nggak fokus bikin kita makin casciscus bahasa Inggris, tapi lebih ke belajar teknis gimana caranya mengajar, bikin silabus, dan merancang rencana pembelajaran. Hahaha.

Pas pertama kali merantau dari Blora ke Solo, kesenjangan apa sih yang paling menampar kamu sebagai anak daerah?

Kesenjangan of everything! Di Blora aku mungkin dikenal sebagai anak yang pintar karena sering mewakili kabupaten lomba debat. Tapi begitu kuliah di Solo, aku langsung sadar kemampuan bahasa Inggrisku jauh tertinggal dibanding teman-teman dari sekolah-sekolah favorit.

Bukan cuma soal akademik. Aku juga mengalami culture shock. Teman-teman di kota jauh lebih percaya diri, referensi musik, film, sampai buku yang mereka baca juga lebih luas. Aku yang merasa udah banyak membaca, mendadak minder.

Tapi dari situ aku makin banyak melahap biografi tokoh-tokoh besar. Aku terpengaruh banget sama pidato-pidatonya Hos Tjokroaminoto tentang Sosialisme Islam. Esensi tauhid dari Cokro itu yang jadi peganganku sampai sekarang dalam melawan isu ketidakadilan. Kalimat “La ilaha illallah” itu maknanya dahsyat: tiada sesembahan selain Allah, hanya Allah yang Maha Besar, dan semua manusia itu derajatnya setara sebagai sesama hamba. Jadi, nggak ada satu pun manusia yang layak merendahkanmu hanya karena dia lebih kaya, dan kamu nggak patut merasa kerdil di hadapan orang lain hanya karena fisik atau penampilanmu berbeda.

Dulu Cokro pakai prinsip tauhid ini untuk menggerakkan rakyat melawan penjajah kulit putih yang mendoktrin orang Jawa itu lebih rendah derajatnya. Gerakan sujud dalam salat itu maknanya kita cuma tunduk sama Tuhan, selain itu kita semua setara. Kalau ada manusia yang memperlakukan manusia lain secara nggak setara, dia punya mental penjajah dan sedang merasa bertindak jadi Tuhan. Konstruksi berpikir ini juga yang aku pakai di isu perempuan: bahwa kita nggak boleh diletakkan lebih rendah karena kita sama-sama manusia.

Karier menulis Mbak Kalis melesat cepat bahkan sejak masih mahasiswa. Gimana ceritanya tulisan kamu bisa langsung dilirik oleh media-media besar saat itu?

Sebelum lulus kuliah, aku emang udah rajin menulis di koran-koran lokal kayak Solopos, Harian Jogja, sampai Jawa Pos. Pas era media bergeser ke platform website sekitar tahun 2015, aku rutin menulis opini di Mojok.co dan Islami.co. Nah, momen perubahan gelombang industri konten itu pas banget sama produktivitas mengetikku, jadi tulisan-tulisanku sering viral.

Sampai suatu hari, ada email langsung dari Pemimpin Redaksi Detikcom. Mereka menawari aku untuk punya kolom khusus reguler setiap hari Jumat di Detik News. Itu aneh dan luar biasa banget buat ukuran anak muda seumuranku saat itu, karena biasanya slot kolumnis di media sebesar Detik itu cuma dikasih ke tokoh-tokoh besar atau pengamat senior yang udah punya korespondensi lama dengan newsroom. Tapi karena tulisan-tulisanku di website lain dinilai populer, mereka yang langsung menghubungi aku, bukan aku yang melamar. Slot kolom itu berjalan selama dua tahun dan makin membukakan jalan buat aku jadi editor penerbitan sampai akhirnya rutin merilis buku sendiri.

Tulisan apa sih yang pertama kali bikin nama Kalis Mardiasih viral di jagat maya?

Itu tulisan pertamaku di tahun 2015, judulnya “Sebuah Curhat untuk Girlband Hijab Syar’i”. Waktu itu Twitter atau Instagram belum punya fitur repost atau quote seperti sekarang. Jadi kalau sebuah tulisan bisa viral, berarti memang menyebar dari banyak orang yang membicarakannya.

Tulisan itu lahir dari kegelisahanku melihat fenomena hijrah yang saat itu mulai berkembang. Di satu sisi, itu tentu hal baik. Tapi di sisi lain, aku melihat mulai muncul kecenderungan untuk menghakimi perempuan lain karena pilihan berpakaiannya dianggap belum sesuai dengan pemahaman tertentu. Padahal aku sendiri udah berjilbab sejak SD, tapi tetap dianggap “belum cukup syar’i”.

Dari situlah aku mulai menulis. Belakangan, tulisan itu ikut membuka ruang diskusi tentang cara beragama yang lebih inklusif dan nggak membatasi pilihan hidup perempuan.

Saat itu juga berkembang narasi yang mendorong perempuan untuk membatasi ruang geraknya di ranah publik. Aku melihat sendiri beberapa teman memilih meninggalkan pekerjaan atau pendidikannya karena merasa itulah pilihan yang paling benar.

Kegelisahan-kegelisahan itulah yang kemudian melahirkan banyak tulisanku, termasuk buku Muslimah yang Diperdebatkan, sebagai ikhtiar untuk menghadirkan perspektif lain tentang perempuan, agama, dan kebebasan memilih jalan hidupnya.

***

Selama ini banyak orang mengenal Kalis sebagai penulis atau aktivis yang konsisten mengkritik berbagai ketimpangan. Namun di titik ini, saya justru penasaran pada satu hal yang lebih personal. Bagaimana ketika semua keresahan tentang perempuan, pendidikan, dan masa depan itu akhirnya bertemu dengan satu identitas baru: menjadi seorang ibu?

***

Buku kamu yang berjudul Parenting di Negara Gagal kemarin sempat ramai dibicarakan juga. Bahkan cetak ulangnya cepat banget ya, Mbak. Sebenarnya isu apa sih yang ingin kamu diskusikan di sana?

Aku menyebut buku itu sebagai buku “Parenting Politik”. Kebanyakan genre buku parenting yang beredar di pasar kita kan ditulis oleh psikolog tumbuh kembang atau dokter spesialis anak yang sifatnya pedagogi. Atau kalau nggak, buku terjemahan dari negara-negara Eropa yang udah sejahtera seperti Denmark atau Finlandia.

Masalahnya, teknik parenting dari negara maju itu nggak akan pernah bisa langsung diterapkan di Indonesia. Kenapa? Karena faktor eksternal dan realitas lingkungan sosial kita beda jauh. Di negara maju, tips membiasakan anak agar suka membaca ya murni soal teknis membaca. Tapi kalau di kita, anak orang miskin baru mau pegang buku, ibunya udah teriak, “Itu adiknya udah dimandiin belum? Jagain adiknya dulu!” Belum lagi si anak harus mendengar orang tuanya berantem tiap hari karena nggak punya uang. Segala teori gentle parenting atau gentle discipline tanpa kekerasan itu jadi mental semua kalau dihadapkan pada sistem negara kita yang justru mempromosikan kekerasan dan militerisme.

Kita mengajarkan anak di rumah, “Ayo rajin belajar ya Nak, nanti kalau kamu jujur dan rajin, kamu bisa jadi orang sukses.” Tapi pas si anak melihat berita di TV, ada orang yang nggak rajin belajar dan nggak merangkak dari bawah tiba-tiba bisa jadi Wapres. Atau anak muda yang baru kemarin sore masuk partai langsung instan dideklarasikan jadi pemilik partai. Sistem yang timpang dan korup ini kan bikin kita sebagai orang tua merasa tersinggung dan hak kita untuk waras jadi terganggu.

Sebagai orang tua dari satu anak perempuan yang masih balita, aku cemas memikirkan ketidakpastian masa depan anak-anak kelak. Generasi adik-adik kita yang kelahiran tahun 90-an akhir atau 2000-an sekarang banyak yang memilih childfree atau malah memutuskan nggak mau menikah sekalian. Alasannya masuk akal banget akibat UU Cipta Kerja; sistem kontrak kerja diperpanjang tiap 6 bulan sekali, setelah itu mereka jadi pengangguran lagi dan harus cari kerja dari nol. Gaji cuma pas-pasan buat bayar kos dan makan tanpa ada kejelasan jenjang karier. 

Jadi buku ini sebenarnya pengin membuka ruang diskusi jujur sesama orang tua: gimana caranya kita bisa membesarkan anak dengan waras di tengah pengelolaan negara yang korup dan penuh ketidakpastian masa depan ini?

Apa visi terbesar kamu dalam mendidik anak perempuanmu sendiri, Mbak?

Visiku sederhana banget: aku ingin anak perempuanku kelak nggak perlu mengalami segala ketakutan, kecemasan, dan pengalaman sosial traumatis yang membuat hidup perempuan merasa nggak aman, seperti yang pernah aku rasakan dulu.

Dulu di generasiku, kalau anak perempuan mau pulang malam dikit saja, nasihatnya selalu, “Anak perempuan harus bisa jaga diri.” Di generasi anakku, narasi itu harus diubah. Bukan anak perempuannya yang terus-menerus dibebani tugas untuk jaga diri, tapi tugas kita bersama adalah mendobrak dan mewujudkan ruang publik yang aman untuk semua orang. 

Selebihnya, biarkan anakku tumbuh bebas menjadi dirinya sendiri.

Nah, kalau novel debut fiksi terbaru kamu yang berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah, ceritanya tentang apa sih?

Novel ini bisa dibilang debut fiksi pertamaku. Kelihatannya jomplang ya dari buku-buku aktivisme sebelumnya, tapi kalau orang udah membaca, mereka pasti tau kalau ini tetap suaraku. Aku cuma memakai cara yang berbeda untuk membicarakan isu kesetaraan, trauma antargenerasi, dan konflik keluarga.

Tokoh utamanya adalah seorang Ibu yang merupakan pensiunan PNS Pemprov zaman dulu. Di masa mudanya sebelum umur 30 tahun, dia adalah sosok boomer yang sangat dihormati, punya jabatan, dan udah mapan; bisa menabung banyak. Sementara tiga anaknya adalah representasi dari generasi kita hari ini yang hidup di tengah hancurnya industri media dan agensi yang serba nggak pasti. Anak laki-lakinya malah memilih membuka usaha jasa grooming kucing. Si Ibu ini kebingungan setengah mati, “Kok tiga anakku gedenya nggak ada yang sukses kayak aku dulu ya?”

Ini adalah potret generation gap yang riil tentang cara pandang para boomer melihat dunia kerja dan masa depan, dikonfrontasikan dengan cara anak muda hari ini menjalani kehidupan, mengelola hubungan romantis, hingga caranya menggugat hubungan traumatis dengan orang tua mereka sendiri. Cerita ini aku olah dari riset membaca ribuan komentar curhatan netizen di YouTube dan TikTok dua tahun lalu pas isu kepribadian narsistik (NPD) lagi marak-maraknya dibahas. Kisah-kisah nyata di dunia digital itulah yang aku ramu menjadi narasi fiksi ini.

Lebih dari 10 tahun konsisten speak up tentang isu-isu sensitif tentu memakan banyak energi psikis. Gimana cara seorang Kalis Mardiasih mengelola kesehatan mentalnya sendiri?

Jujur, selama lebih dari satu dekade aku udah kenyang menerima serangan digital dan pelecehan karena vokal menyuarakan isu perempuan, keberagaman, hingga menolak militerisme. Awalnya aku denial. Aku pikir selama nggak membaca komentar kebencian atau menonaktifkan media sosial, mentalku akan baik-baik saja.

Sampai suatu ketika, tubuhku sendiri yang memberi alarm. Setiap membaca hate comment yang ekstrem atau mengolah data kekerasan seksual, kepalaku terasa berat, tanganku tremor, jantung berdebar, dan seluruh energiku seperti hilang. Di situ aku sadar, otak mungkin bisa menyangkal, tapi tubuh nggak pernah berbohong. Tubuh merekam semua luka yang kita simpan.

Akhirnya aku mengakui kalau aku memang nggak baik-baik saja. Aku mulai rutin konseling ke psikolog dan belajar menerapkan konsep holistic security. Dulu aku cuma memikirkan keamanan fisik dan digital. Sekarang aku sadar, menjaga kesehatan mental sama pentingnya. Kalau memang lagi nggak kuat, ya mundur dulu satu langkah. Kita nggak harus menjadi martir sendirian. Perjuangan ini harus dijalani bersama, saling berbagi beban, dan saling menjaga agar kita bisa bertahan lebih lama.

Bagaimana peran sosok suami di mata kamu dalam mendukung pilihan jalan hidup yang penuh risiko ini?

Suamiku tau banget kalau istrinya ini tipe manusia yang susah dilarang, hahaha. Misalnya habis bikin konten kritik politik, aku sering bilang, “Mas, aku agak takut upload ini.” Dia paling cuma jawab, “Kalau takut, ya nggak usah di-upload.” Padahal dia juga tau, lima menit kemudian, kemungkinan besar tetap akan aku upload. Aku sebenarnya cuma butuh diyakinkan. Dia sering bilang, “Mau aku larang pun, kamu tetap bakal turun ke jalan, kan?” Jadi dia memilih memberi aku kebebasan.

Padahal, dia bukan berasal dari dunia aktivisme. Dia bekerja di industri kreatif. Tapi dia mau belajar memahami isu-isu yang aku perjuangkan, ikut panik saat aku mengalami serangan digital, dan tetap memilih untuk nggak membatasi ruang gerakku. Buatku, keputusan pasangan untuk nggak melarang istrinya bersuara lantang itu sendiri udah merupakan sikap politik yang sangat berani.

Kalau mentalku lagi drop, dia juga paham aku nggak butuh dipaksa bercerita. Biasanya dia cukup bikinin teh hangat, nanyain mau makan apa, lalu memastikan aku bisa terhubung dengan mentor-mentorku, seperti Bu Najelaa Shihab atau Mbak Alissa Wahid. Dia selalu tau, kadang bentuk dukungan terbaik bukan memberi jawaban, tapi menemani sampai aku menemukannya sendiri.

Sebagai pertanyaan penutup, dari seluruh lika-liku perjalanan hidup seorang Kalis Mardiasih, apa sih satu hal yang paling kamu syukuri?

Aku sangat bersyukur bisa bertumbuh menjadi manusia yang nggak serakah, tau diri, dan memiliki kesadaran penuh untuk selalu merasa cukup.

Aku melihat banyak orang di sekitarku, begitu masuk ke lingkaran kekuasaan atau lingkar sosialita baru, mendadak langsung kehilangan akal sehatnya. Mereka jadi norak, pamer kemewahan, dan merasa bangga cuma karena diajak dinas naik jet privat. Aku sering banget dapat tawaran menggiurkan untuk masuk ke lingkaran-lingkaran seperti itu. Tapi alhamdulillah, aku selalu punya kekuatan untuk menolak itu semua karena aku tau hal itu nggak sesuai dengan panggilan hati dan berpotensi merugikan kelompok masyarakat yang lemah.

Merasa cukup adalah ajaran agama yang paling mewah buat aku. Toh, pada hakikatnya kebutuhan biologis dasar kita sebagai manusia itu cuma sebatas makan dan buang air saja, kan? Kalau mau menikmati kesenangan dunia, ya dikit-dikit aja lah, nggak perlu berlebihan sampai serakah. Karena kalau kesenangan itu terlalu banyak, kita bakal mudah lupa diri dan kehilangan kompas kemanusiaan kita. Aku bahagia dan cukup dengan diriku yang sekarang.

***

“Pendidikan bukan cuma memutus kemiskinan, tapi juga mengembalikan harga diri.”

Mungkin itu yang sejak awal sedang dikerjakan Kalis lewat banyak cara: tulisan, buku, media sosial, ruang diskusi, atau ketika turun langsung ke jalan. Ia berusaha membuat lebih banyak orang percaya bahwa mereka layak hidup dengan lebih bermartabat.

Mungkin memang perubahan besar sering kali berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: seseorang yang percaya bahwa hidup nggak harus berhenti pada keadaan yang diwariskan kepadanya.

Rizka Oktivani

Suka nulis ajah sih.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga