Matthew Ardian: Luka Masa Kecil Tak Harus Menjadi Dendam yang Merusak

Aku nggak pernah ngelihat sosok orang tua yang berpasangan secara harmonis di dalam rumah.

Oleh

Matthew Ardian: Luka Masa Kecil Tak Harus Menjadi Dendam yang Merusak

Aku nggak pernah ngelihat sosok orang tua yang berpasangan secara harmonis di dalam rumah.

Oleh

19/06/2026

Bagi sebagian orang, pencapaian karier adalah garis akhir. Namun bagi Matthew, perjalanan 16 tahun di dunia marketing dengan belasan gelar di belakang namanya hanyalah sebuah proses panjang untuk terus membumi. Lewat obrolan ini dan selaras dengan Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Laki-Laki, Matthew membuka ruang rentan (vulnerability) tentang masa kecil yang riuh, stigma anak tidak naik kelas, perjuangan melawan psikosomatik, hingga bagaimana berdamai dengan imposter syndrome yang sempat membayanginya.

***

Halo, Kak Matthew! Boleh dong ceritakan kesibukan Kak Matthew akhir-akhir ini. 

Saat ini aku bekerja sebagai Chief of Marketing (CMO) Fore Coffee. Tapi kali ini, aku nggak akan ngomongin soal kopi. Hahaha. Hari ini aku mau coba jujur dan vulnerable aja.

Matthew itu adalah manusia yang sedang berproses, dan aku sangat oke untuk dilihat sebagai seorang underdog. Bagiku, jadi underdog itu bukan hal yang buruk kok. 

Jadi ceritanya, sejak kecil, aku suka banget dengan dunia marketing. Ketertarikan itu lahir dari hal sederhana: dulu kalo  pergi sama orang tua, aku sering ngelihat ada satu toko yang ramai banget sampai antre, sementara toko di sebelahnya sepi. Nah, aku paling benci kalo harus ikut mengantre di toko yang viral. Aku lebih sering milih untuk ngasih kesempatan ke toko yang paling sepi.

Kenapa ya orang-orang atau hal-hal yang underrated dan underdog ini sering nggak dapet perhatian yang layak? Kira-kira gitu rasa penasaranku. Padahal mereka potensinya besar. Karena aku sendiri tumbuh sebagai underdog, aku punya empati yang besar ke mereka. Dari situlah ketertarikanku pada marketing dimulai. Marketing itu cara untuk membantu hal-hal yang underrated supaya bisa dilihat dunia.

Sampai hari ini, aku udah kerja hampir 16 tahun di 8 perusahaan dengan 14 jabatan berbeda. Merangkak dari bawah, dari anak magang, staf biasa, sampai akhirnya berada di level direktur di perusahaan terbuka. Tapi, aku nggak nganggap ini sebagai sebuah achievement. Aku kurang nyaman jika orang-orang hanya melekatkan diri aku dengan sebuah titel jabatan. Di luar itu semua, aku cuma manusia yang terus berproses. Ini bukan end goal.

Apakah lingkungan keluarga atau masa kecil Kak Matthew ikut memengaruhi pandangan bahwa It’s okay to be an underdog?

Nggak semua anak kecil beruntung. Nggak semua dari kita bisa tumbuh dengan parenting yang membantu kita untuk menyadari bakat atau kemauan. Dulu, alih-alih kita tau mau jadi apa, orang tua biasanya udah mendikte masa depan kita. Pilihannya kalo nggak dokter, presiden, ya pilot. Nah, aku tuh nggak cocok sama tiga-tiganya.

Sejak kecil aku sukanya seni, khususnya menggambar. Aku ngerasa lukisanku cukup bagus. Tapi, dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD, kayaknya nggak ada satu orang pun yang sadar sama bakatku. Aku juga semalu itu untuk “menjual diri”. Aku tau guru-guru pasti akan milih teman-teman lain untuk menang lomba gambar, dan aku nggak pernah dilirik. Ibu aku pun nggak sadar.

Sampai akhirnya, suatu hari saat SMP kelas 1, aku melukis dan menempelkannya di mading sekolah. Di balik kertasnya ada namaku. Guru seni rupa ternyata ngelihat dan kaget, “Loh, ini lukisan kamu?” Akhirnya aku didaftarin lomba lukis. Aku harus nunggu hampir 7 tahun hanya untuk dapet pengakuan itu. Aku keluar sebagai juara satu dan mendapat trofi pertama sekaligus beasiswa.

Trofi itu, buatku, adalah bentuk kesetiaan sama kepercayaan diri. Ternyata, percaya diri nggak selalu harus diwujudkan dengan berkoar-koar di atas panggung. Kalo kita yakin sama talenta kita dan tekun menjalaninya, meskipun prosesnya nggak semudah orang lain, waktunya bakal tiba.

Aku tuh lahir tahun 1987, usia sekarang 38 tahun. Aku bukan Gen Z. Di generasi aku dulu, kami nggak punya banyak privilege untuk memilih. Kebanyakan dari kami sudah dipilihkan jalannya oleh orang tua.

Benar atau salah, Matthew sebenarnya sudah mulai bekerja sejak usia 10 tahun?

Bener. Umur 10 tahun aku udah kerja. Salah satu bentuk pemberontakan diri aku waktu kecil adalah karena aku ngerasa sangat keras kepala dan nggak bahagia dengan lingkunganku. Akhirnya aku nekat ngambil kontrol atas hidupku sendiri.

Waktu itu tahun 1998-1999, ada audisi penyiar radio cilik di sekolah. Meskipun aku seorang introvert dan nggak punya latar belakang itu sama sekali, aku nekat ikut dan ternyata lolos. Itu adalah pekerjaan pertamaku. Aku nerima honor Rp6.000 sekali siaran. Aku bangga untuk bilang bahwa di usia 10 tahun, aku dapet gaji pertama dengan usaha sendiri.

Untuk anak sekecil itu, bekerja tanpa mentor dan dituntut profesional ya jelas berat. Aku harus siaran jam 6 pagi. Karena belum bisa menyetir, aku naik bus kota transit sampai 4 kali dari luar kota ke Surabaya, nempuh perjalanan sekitar satu jam. Bayangin betapa gugupnya aku. Dulu belum ada Google Maps dan risiko diculik itu nyata. Tapi aku melakoninya setiap hari. Selesai siaran, aku langsung pergi ke sekolah, ikut ekskul, dan melanjutkan hasrat di dunia seni.

Di masa ABG, saat anak-anak lain mulai mencoba memakai narkoba karena pengaruh lingkungan yang kurang baik, aku beruntung karena terlalu sibuk bekerja dan berorganisasi. Aku nggak punya waktu untuk mengeksplorasi hal-hal itu. Jika ditotal dari umur 10 tahun sampai sekarang, aku udah bekerja selama 26 tahun. Aku kerja bukan semata-mata karena butuh uang, tapi karena haus sama koneksi dan pengin menciptakan dunia baru yang bisa aku kendalikan.

Bicara soal masa kecil dan profesi, apakah sejak dulu Kak Matthew memang bercita-cita di dunia marketing?

Ini menarik, dan aku baru pertama kali ceritain ini. Waktu SD, kalau ditanya mimpiku apa, secara spesifik saku jawab: pengin jadi kasir Indomaret. Hahaha.

Kenapa? Karena di pikiran masa kecilku, kasir tuh bisa membantu dan melayani banyak orang untuk belanja. Rasanya menyenangkan ngelihat mereka berinteraksi dengan orang-orang. Butuh waktu bertahun-tahun bagi aku untuk memahami anomali dari jawaban tersebut. Ternyata, esensi dari rasa senang menawarkan produk dan ngasih pengalaman baru ke pelanggan itu adalah bagian dari marketing. Aku emang senang menjual sesuatu sejak dulu.

Saat kuliah pun Kak Matthew juga sambil bekerja ya? Bagaimana ceritanya sampai kamu sengaja memilih tidak naik kelas waktu SMA?

Saat kuliah di Universitas Airlangga (Unair) jurusan Sastra Inggris, aku sempat bekerja di perusahaan tembakau (tobacco company). Perusahaannya besar, gajinya bagus, tapi aku nggak punya passion di sana. Bagaimana bisa kita semangat menjual sesuatu yang bisa membunuh orang? Rasanya aneh dan bertolak belakang dengan nilai hidupku. Tapi berkat kerja keras itu, aku bisa membayar biaya kuliah sendiri dari dompet pribadi.

Nah, soal nggak naik kelas saat SMA, itu adalah keputusan emang yang sengaja aku ambil. Waktu itu aku ngerasa sistem sekolah terlalu akademis dan kaku. Gurunya pun sering melakukan body shaming, bahkan menyinggung soal warna kulit, ras, dan agama ke aku. Aku coba lapor ke orang tua, tapi mereka lebih percaya sama pihak sekolah ketimbang anak sendiri.

Guru bahkan ngetawain aku di depan muka dan bilang, “Mau jadi apa kamu ke depannya? Kamu nggak akan sukses. Nikmati aja ketidaknaikkelasanmu itu.” Kalimat itu ninggalin luka yang dalam. Orang-orang sering kali ngambil jalan pintas dengan menghakimi bahwa anak yang nggak naik kelas itu bodoh. Padahal, bisa aja mereka tuh nggak dapet kesempatan untuk dieksplorasi bakatnya, baik oleh diri sendiri, guru, maupun orang tua.

Nah, akhirnya, aku sengaja ngincer nilai jelek dan sering absen supaya nggak naik kelas. Aku tau konsekuensinya. 

Aku coba jelasin, lah, ke orang tua, “Lebih baik aku nggak naik kelas satu tahun daripada harus menyia-nyiakan 365 hari ke depan di sekolah yang bikin aku tertekan. Lebih baik aku ngulang di sekolah baru yang bisa memfasilitasi kreativitasku.” Akhirnya aku pindah dan ngulang dari kelas 1 SMA lagi.

Itu adalah keputusan terbaik dalam hidupku. Di tahun pertama di sekolah baru, aku nyumbang 6 trofi dari berbagai perlombaan. Sekolah baru ini memfasilitasi bakatku.

Meniti karier dari bawah hingga ke level direktur tentu bukan hal mudah. Bagaimana proses jatuh bangunnya?

Jatuh bangun itu relatif, ya. Aku tumbuh di budaya keluarga yang melarang kami untuk mengeluh dan menuntut kami untuk selalu bersyukur. Di satu sisi itu baik, tapi di sisi lain bisa menjadi toxic kalau dipaksakan. Kadang di mulut kita bilang bersyukur, tapi di dalam hati sebenarnya kesal setengah mati karena nggak selaras.

Aku melewati banyak keragu-raguan dalam hidup. Karena udah terbiasa menjadi underdog, aku sering ngerasa fine-fine aja dengan penolakan. Pernah aku diwawancara di perusahaan yang sangat aku impikan, tapi ditolak. Anehnya, 10 tahun kemudian, perusahaan yang dulu menolak aku itu malah nawarin posisi yang sangat tinggi ke aku. Ini bukan soal balas dendam, tapi ini tentang bagaimana kita bisa mengorbankan ego dan ambisi kita.

Ketika kita jatuh, kita harus sadar bahwa ini memang waktunya kita jatuh, dan nanti akan ada saatnya kita berdiri lagi. Berdiri akan terasa sangat berat kalo fokus kita hanya mengeluh, “Kenapa Tuhan jahat banget sama aku?” atau sibuk membanding-bandingkan proses kita dengan orang lain. Itu adalah kesia-siaan terbesar dalam hidup. Dulu aku sering terjebak di sana, ngerasa susah banget membuat orang lain ngelihat potensi aku.

Sekarang, jatuh bangun itu bukan lagi tentang faktor luar atau orang lain, melainkan tentang bagaimana aku mengontrol diri sendiri. Dulu aku selalu ngerasa butuh diselamatkan oleh orang lain. Sekarang, ketergantungan aku sama validasi orang lain udah hampir minus.

Bagaimana dinamika masa kecil di dalam rumah membentuk dirimu yang sekarang?

Menjadi sadar atau mindful tuh penting. Aku berharap setiap orang tua punya kemampuan untuk mindful dan memberikan kebebasan memilih bagi anak-anaknya.

Orang tuaku cerai sejak aku masih kecil, dan hubungan mereka nggak pernah baik. Aku nggak pernah ngelihat sosok orang tua yang berpasangan secara harmonis di dalam rumah. Jadi kalo ambil rapot sekolah, selalu ibu aku yang datang. Waktu kecil aku sering bingung ngelihat teman-teman lain yang ditemani ayahnya, “Oh, ternyata ada ya fungsi seorang bapak di dalam rumah?” Nah, aku nggak punya privilege itu.

Namun, ketimbang mengasihani diri sendiri, aku justru merasakan empati yang mendalam sama ibuku. Kasihan banget dia harus menghidupi tiga orang anak sendirian, termasuk aku. Sebelum mereka memutuskan berpisah, rumah kami itu rasanya seperti medan perang. Ada kekerasan fisik, saling pukuk, dan terus bertengkar. Bagi aku di masa kecil, pemandangan itu adalah makanan sehari-hari yang rasanya “normal”.

Ibuku tipikal Asian parent yang tegas. Garis besarnya cuma dua: dapat nilai bagus atau kena kemoceng. Kalau nilai di bawah 7, bersiaplah. Dulu belum ada istilah KDRT kayak sekarang. Sayangnya, aku juga menerima banyak kekerasan fisik dari senior hingga guru di sekolah. Di masa-masa itu, sulit mencari support system di dalam keluarga karena mereka sendiri pun sedang kesulitan dan butuh bantuan.

Bagaimana cara Kak Matthew bertahan menghadapi masa-masa sulit tersebut?

Waktu kelas 5 SD, aku melakukan hal yang mungkin terdengar gila untuk anak seumur itu. Aku ngasih saran terbesar dalam hidupku: “Sebaiknya kalian pisah aja deh.”

Di saat anak-anak lain berdoa agar keluarga mereka rukun, aku justru berdoa agar orang tua aku cepetan cerai. Aku nggak sanggup lagi ngelihat kekerasan yang terjadi setiap hari. Aku baru sadar betapa beratnya masa-masa itu ketika ceritain hal ini. Haha.

Apakah pengalaman pahit bersama keluarga itu menjadi pelajaran penting buat Kak Matthew?

Bukan sekadar jangan sampai kayak mereka aja sih. Aku ngambil banyak pelajaran lebih dari itu. Komitmen tuh penting. Saat ini aku emang belum berpasangan, tapi bukan karena aku trauma akibat perceraian orang tua.

Pelajaran terbesar justru datang dari cara lingkungan sosial merespons kami saat itu. Di tahun-tahun itu, perceraian adalah hal yang tabu dan memalukan. Bayangin, aku keluar rumah pake seragam SD merah-putih, terus tukang becak di depan rumah nanya, “Eh, kemarin pukul-pukulan mama sama papa menang mana? Seru deh kayaknya.” Aku harus menghadapi hal-hal kayak gitu setiap hari.

Di sekolah, wali murid akan mengecek badan aku untuk memastikan apakah aku baik-baik aja. Untungnya, wali kelasku saat itu menjadi support system yang luar biasa. Dia menggantikan posisi orang tua dan keluarga yang absen secara emosional.

Dulu aku sering ngerasa bersalah dan mikir, “Coba kalo gue nggak lahir, mungkin mereka nggak akan sestres ini. Gue cuma jadi beban.”

Apakah perasaan menjadi beban itu masih ada sampai sekarang?

Kalo dalam urusan keluarga, 100% sudah nggak ada. Itu udah jadi sejarah. Tapi, pola yang sama masih aku hadapi di lingkungan kerja sampai sekarang: aku hampir nggak pernah memprioritaskan diri sendiri. Aku lebih sering mendahulukan orang lain.

Mungkin kalo di tempat kerja, orang ngelihat Matthew memimpin rapat tuh kesannya sangat fierce, punya kontrol kuat, dan powerful. Tapi aslinya, aku jauh banget dari situ. Aku dibekalin satu kelebihan oleh Tuhan, yaitu kemampuan untuk memahami perspektif manusia dan jalan pikirannya.

Semua konflik, perselisihan, bahkan perang di dunia ini terjadi karena ego dan ketidakmampuan kita memahami perspektif orang lain. Karena aku terlalu memahami jalan pikiran orang, kayak “Oh, mungkin dia begini karena itu”, aku memilih untuk nggak larut dalam ego aku sendiri. Pengalaman masa kecil itu ternyata menjadi latihan yang membentuk cara aku memandang manusia hari ini.

Sekarang, bagaimana cara Kak Matthew mendahulukan orang lain tanpa harus mengorbankan diri sendiri?

Wah, berat ini. Haha. Batas antara mendahulukan orang lain dan mengorbankan diri sendiri tuh setipis tisu. Aku sempat baca buku Mel Robbins, The Let Them Theory. Hidup ini tentang keseimbangan. Nggak apa-apa kalo ini bukan waktu kita. Kita mesti tau kapan harus membiarkan mereka (let them), dan kapan harus bilang sama diri sendiri, “Kali ini, giliran aku (let me).”

Membiarkan orang lain sebenernya lebih mudah karena kita kan nggak bisa mengontrol perilaku orang ke kita. Tapi kalo kita tau tindakan orang tersebut bisa membahayakan orang banyak dan kita punya kemampuan untuk mengontrolnya, di situlah kita harus ngambil peran. Ini kayak menyeimbangkan dua tombol di kanan dan kiri. Butuh proses panjang untuk bisa melatih keseimbangan ini.

Apalagi aku ini produk yang melewati zaman kerusuhan ’98, krisis moneter, pergantian presiden berkali-kali, hingga survive dari pandemi. Ketangguhan Milenial kan salah satunya dibentuk dari banyaknya transisi zaman.

Apa titik terendahmu dalam hidup ini?

Fase terendah itu datang beruntun karena hidupku terlalu turbulens dan aku terlalu maksain diri jadi kuat. Dulu aku nggak kenal apa itu mindful. Aku orangnya realistis: kalo mau uang 1 miliar, ya kerja keras.

Tanpa aku sadari, ambisi itu bikin aku nggak sayang sama diri sendiri. Aku jadi sangat egois sama tubuh sendiri. Aku nggak punya waktu istirahat dan selalu berburuk sangka sama kemampuan diri sendiri. Puncaknya terjadi di tahun 2017. Itu adalah the lowest point of my life.

Fisik ambruk. Setiap hari aku muntah, diare, pusing, dan demam. Aku periksa ke dokter di Indonesia hingga ke luar negeri, tapi secara medis hasil laboratorium menyatakan tubuhku bersih dan nggak ada penyakit apa-apa. Sampai akhirnya dokter mendiagnosis aku mengidap psikosomatik.

Tahun 2017 itu aku ngalamin quarter life crisis sekaligus psikosomatik yang merusak segalanya: karier, hubungan pertemanan, hubungan keluarga, asmara, hingga keuangan yang abis untuk biaya bolak-balik ke dokter. Aku sampai di titik ngerasa harus sakit supaya dapet perhatian. Akhirnya dokter nyaranin aku untuk mencari bantuan profesional (psikiater/psikolog).

Dari situ aku mulai berbenah, belajar bagaimana cara bernapas yang benar, dan belajar mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan sama tubuhku.

Apa pemicu utamanya?

Tiga tahun lalu, dengan penuh keegoisan aku akan jawab bahwa pemicunya adalah lingkungan kerja yang nggak sehat dan atasan yang toxic

Tapi sekarang, setelah aku bisa meregulasi emosi dan memiliki ketenangan berpikir, aku menyadari bahwa bos aku nggak melakukan kesalahan. Dia justru mengatakan hal yang benar untuk menegur waktu itu. Cuman, ego aku belum bisa memproses kritiknya dengan baik.

Dulu aku hidup di Jakarta dengan ritme yang serba cepat. Isinya hanya reaksi, reaksi, reaksi, proyeksi ego, dan kepanikan. Pikiran selalu berada dalam mode bertahan hidup: “Gue harus sukses, kalo nggak orang lain akan nyerang gue.” Padahal nggak ada yang mengejarku.

Kita nggak punya deadline dari siapa pun untuk sukses. Semua kepelikan itu ternyata hanya ada di dalam pikiranku sendiri karena aku nggak sadar sama apa yang sebenarnya aku cari dalam hidup.

Siapa support system terbaik yang menjaga Kak Matthew tetap membumi?

Ada tiga lingkaran support system dalam hidupku. Pertama, tentu ibu. Meskipun masa lalu kami keras, aku tau dia sangat sayang sama aku dan dia pun memendam penyesalan atas waktu-waktu yang hilang dulu.

Kedua adalah para mentor kehidupan atau life mentors. Mereka bukan cuma mentor profesional di dunia kerja, melainkan siapa aja yang aku temui di perjalanan hidup. Mulai dari wali kelas masa SD, atasanku saat ini, hingga para petani kopi yang sering aku ajak ngobrol di kedai. Dari mereka aku belajar banyak hal tentang kehidupan.

Ketiga adalah tim aku di kantor. Aku bersyukur punya hubungan yang sehat dengan tim. Sebagai seorang pemimpin di perusahaan, aku ngerasa tim yang dititipkan kepadaku adalah tanggung jawab moral dari Tuhan. Tugasku adalah membina, melatih, dan menumbuhkan karier mereka. Menjadi bagian dari proses bertumbuhnya orang lain adalah support system batin yang luar biasa bagiku.

Apakah masih ada mimpi besar atau target yang ingin Kak Matthew kejar?

Jujur, udah nggak ada. Ketakutanku sekarang cuman satu: takut mati sia-sia tanpa sempat memberikan dampak yang berarti bagi orang lain.

Sekarang, definisi kebahagiaanku sangat sederhana. Ketika bangun tidur, buka mata, bisa napas dengan lega, dan badan terasa sehat tanpa ada beban pikiran yang mengganjal. Itu udah lebih dari cukup. Menjalani hidup yang damai jauh lebih penting daripada bangun tidur dengan kepanikan mengejar jadwal rapat yang nggak mindful

Cita-citaku sekarang kayaknya cuman satu: pengin bangun tidur tanpa beban. Udah. Itu aja.

Apa pesan Kak Matthew untuk teman-teman di luar sana yang saat ini sedang berada di fase ingin menyerah pada hidup?

Ngelihat hidup itu harus seperti ngelihat bab demi bab di dalam buku. Kita harus tau kita lagi ada di bab mana saat ini. Dan inget, ini bukan bab terakhir dari hidupmu.

Kita adalah penulis dari buku kita sendiri. Kalo kamu menyerah dan menganggap ini adalah akhir, maka bab itu akan benar-benar selesai sebagai cerita yang menyedihkan. Tapi kalo kamu milih untuk terus jalan, kamu punya peran untuk mengubah jalan ceritanya jadi lebih indah.

Yang bisa mengubah hidupmu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Jangan pernah ngerasa takdirmu udah dikunci sama perbuatan orang lain ke kamu. Di atas semua faktor eksternal yang nggak bisa kita kendalikan, kita masih memiliki 100% kontrol atas respons diri kita sendiri.

Apa definisi Menjadi Manusia menurutmu?

Karena duniaku adalah marketing dan seni, aku mendefinisikan menjadi manusia sebagai sebuah seni. Seni untuk menahan ego, seni untuk menyaring pikiran negatif, dan seni untuk mengatur perspektif.

Manusia bukan benda rapuh yang gampang pecah saat terbentur masalah. Menjadi manusia adalah seni untuk tetap utuh di tengah badai. Kuncinya adalah temukan nilai hidup, gabungkan dengan prinsip hidup yang kuat, nikmatin hidup ini sebagai sebuah berkah.

Jangan pernah ngerasa semuanya terlalu berat. Ketika hal buruk terjadi, bisa jadi saat itulah tindakan dan kehadiranmu sedang dibutuhkan banget sama orang lain di sekitarmu. Di situlah letak keindahan dari seni menjadi manusia.

***

Di Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Laki-Laki, perjalanan Matthew Ardian adalah refleksi tentang bagaimana luka lama tidak harus berakhir menjadi dendam yang merusak. Stigma masa remaja, riuhnya ruang masa kecil, hingga benturan akibat psikosomatik justru dia kalibrasi ulang menjadi sebuah bahan bakar yang melahirkan empati. Baginya, menjadi underdog bukan lagi sebuah kutukan ketidakberdayaan, melainkan sebuah ruang kendali untuk merangkul dan mengangkat hal-hal yang sering kali luput dari pandangan dunia.

Pada akhirnya, hidup ini bukanlah tentang seberapa cepat kita berlari mengejar tenggat waktu sukses yang diciptakan oleh kepala kita sendiri. Seperti selembar kanvas kosong, kita adalah penulis dari bab-bab kehidupan kita sendiri. Dan barangkali, esensi tertinggi dari menjadi manusia yang utuh berada pada titik yang paling sederhana: ketika kita mampu menahan ego, mengatur perspektif, dan menemukan kedamaian mutlak untuk bisa bangun di pagi hari–tanpa beban.

Yudhistira

Orang biasa yang suka menulis.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga