Dulu aku suka. Aku suka yang meledak, yang membuat orang mendongak, yang membuat langit sesaat terasa milikku. Kukira itu tanda bahwa aku hidup. Kalau ada yang bertepuk, kalau ada yang berkata “wah,” kalau ada seribu wajah yang serentak memandang ke atas dan sebagian dari cahaya itu, kupikir, adalah cahayaku.
Aku mengejar itu bertahun-tahun. Panggung yang lebih tinggi, angka yang lebih besar, momen yang lebih megah dari momen sebelumnya. Aku pikir hidup yang baik adalah hidup yang terus naik, terus terang, terus diperhatikan. Dan setiap kali sebuah pencapaian selesai, aku hampir tidak sempat menikmatinya, karena aku sudah sibuk mencari ledakan berikutnya.
Tapi kembang api menyimpan satu rahasia yang baru kumengerti belakangan. Ia paling terang justru di detik ia habis. Ia dirancang untuk hilang. Semakin megah ledakannya, semakin cepat ia menjadi asap. Ia tidak pernah dimaksudkan untuk tinggal. Ia hanya dimaksudkan untuk dilihat, lalu dilupakan, digantikan oleh ledakan lain yang lebih baru, besar, dan ramai.
Dan aku pernah menjadi kembang api.
Aku tau rasanya menjadi terang di depan banyak orang lalu pulang ke rumah dalam gelap yang sama. Aku tau rasanya dipuji banyak orang di siang hari dan tetap merasa kosong di malam hari. Karena cahaya yang bergantung pada tepuk tangan akan selalu padam ketika tepuk tangan berhenti. Dan, tepuk tangan selalu berhenti.
Sekarang aku lebih memilih lilin.
Lilin tidak diminta mengagumkan siapa pun. Ia tidak meledak, memenuhi langit, atau membuat orang mendongak. Tugasnya hanya satu, yaitu tetap menyala. Ia berdiri di atas meja, di sudut ruangan, di samping orang yang sedang berdoa. Ia menerangi bukan dengan kemegahan, tapi dengan kesetiaan.
Ada yang lebih dalam lagi yang kupelajari dari lilin. Ia menerangi dengan cara menghabiskan dirinya sendiri. Ia meleleh pelan-pelan supaya yang di sekitarnya bisa melihat. Tidak ada lilin yang menyala tanpa berkurang. Mungkin itulah bedanya cahaya yang megah dan cahaya yang benar. Yang satu ingin dilihat, yang satu rela habis. Yang satu mengambil perhatian, yang satu memberi kehangatan.
Lilin bisa menyalakan lilin lain tanpa kehilangan apa pun dari nyalanya sendiri. Kembang api tidak bisa. Kembang api meledak satu kali, untuk dirinya sendiri, lalu selesai. Tapi satu lilin kecil bisa menyalakan seratus lilin lain di ruangan yang gelap, dan ketika seratus lilin itu menyala, tidak ada satu pun yang menjadi lebih redup. Baru belakangan aku sadar bahwa hidup yang paling berarti bukan hidup yang paling terang sendirian, melainkan hidup yang membuat orang lain ikut menyala.
Maka aku mulai mengukur hidup dengan pertanyaan yang berbeda. Bukan lagi seberapa banyak yang melihat, tapi seberapa lama ini bertahan. Bukan apakah ini megah, tapi apakah ini benar. Bukan apakah ini membuatku terlihat besar, tapi apakah ini membuat orang di sekitarku ikut hidup.
Ternyata hal-hal terpenting dalam hidupku tidak pernah meledak. Mereka tumbuh pelan, nyaris tanpa suara. Anakku tidak lahir disambut tepuk tangan satu stadion. Ia lahir dalam sunyi, dan sunyi itu lebih besar dari kembang api mana pun yang pernah kulihat. Cinta tidak diumumkan di langit. Ia dirawat di dapur, di ruang tunggu rumah sakit, di doa-doa yang tak seorang pun dengar selain Yang Maha Mendengar. Iman tidak datang dengan ledakan. Ia menetes pelan, seperti lilin yang meleleh, sampai suatu hari kau sadar kau sudah menjadi orang yang berbeda tanpa pernah tau persis kapan perubahan itu terjadi.
Aku tidak menolak yang besar. Aku tidak membenci panggung, tidak membenci cahaya, tidak membenci mimpi yang tinggi. Aku hanya berhenti mengejarnya sebagai bukti bahwa aku ada. Karena aku tidak lagi butuh langit untuk mengonfirmasi bahwa aku hidup. Aku sudah tau aku hidup dari napas yang masih diberi, dari orang-orang yang masih bisa kupeluk, dari kerja yang bisa kukerjakan dengan tenang tanpa harus meledak.
Dan di titik itulah aku belajar melepaskan.
Bagianku sudah kukerjakan sekeras yang aku bisa, senyala yang aku bisa. Sisanya bukan lagi urusanku. Apakah dilihat, apakah dikenang, apakah orang mendongak atau berpaling, apakah ini akan meledak atau tidak, semua itu urusan Yang Maha Menyimpan segala yang tak terlihat, Yang menghitung bahkan cahaya yang tak seorang pun saksikan. Hal ini mengajariku sesuatu yang sederhana, tapi butuh bertahun-tahun untuk kupahami. Hidup yang tidak berkedip-kedip pun tetap dihitung. Nyala yang paling sunyi pun tetap dilihat oleh Yang Tidak Pernah Tidur.
Jadi kalau malam ini ada yang bertanya kenapa aku tak ikut mendongak saat langit penuh warna dan kenapa aku tetap duduk sementara yang lain berdiri dan bersorak, itu bukan karena aku tak lagi percaya pada keindahan. Aku masih percaya. Aku hanya sudah tau di mana keindahan itu sebenarnya tinggal.
Aku sudah memilih cahaya yang tidak perlu meledak untuk membuktikan bahwa ia nyata. Cahaya yang tidak menuntut ditonton. Cahaya yang rela habis demi menghangatkan. Cahaya yang, ketika akhirnya padam, meninggalkan bukan asap, tapi ruangan yang pernah ia terangi, dan wajah-wajah yang pernah ia buat merasa tidak sendirian dalam gelap.
Aku tidak lagi suka kembang api.
Aku sudah jatuh cinta pada lilin.