Waktunya Merelakan Kehendak

Catatan setelah mendengarkan “Sementara” dari Barasuara.

Waktunya Merelakan Kehendak

Catatan setelah mendengarkan “Sementara” dari Barasuara.

10/07/2026

Deru Trooper oranye makin dekat menghampiri. Aku jegat di ujung portal. Lima rumah darinya, berbelok di ujung jalan, dan kau turun dari kursi pengemudi. Rambutmu dicepol waktu itu.

Aku datang dua jam lebih awal. Dari Bulungan sampai Pancoran butuh setengah jam perjalanan. Aku cabut di jam mata pelajaran Geografi sebab aku sudah paham betul tanpa perlu melihat peta digital, denah rumahmu sudah kukuasai.

Satpam perumahanmu belum sadar bahwa dirinya sedang aku kelabui. Aku bilang, ada janji les Matematika bareng nanti. Sambil menunggu kau benar-benar tiba. Mio Thailand aku parkir agak jauh agar kau tak melihatku langsung yang sedang mengamati.

Aku kirim pesan di Facebook tentang skor pertandingan Inggris lawan Meksiko. Tentu kau senang. Inggris lagi jitu-jitunya menaklukkan Meksiko di kandangnya, 3-2.

Hampir tiap hari aku habiskan rute perjalanan sebelum pulang untuk melewati rumahmu. Memastikan tidak ada pria lain yang berkunjung. Sesekali aku tinggalkan setangkai mawar di gagang pagar. Warnanya sengaja kupilih sama dengan Trooper-mu. Warna favoritmu. Persis sewarna Trooper bau solarmu itu.

Sampai akhirnya aku beranikan diri untuk “main jazz” sedikit, improvisasi gitu. Nekat saja aku tulis di selembar surat bersama tangkai mawar itu. Gue mau jadi pacar lo. Tanpa instruksi selanjutnya untuk bagaimana menjawab dan tanpa keterangan nama pengirim, ada pesan masuk ke handphone. Kau nekat mencari tau nomerku dari sahabat yang jadi mak comblang kita.

Pesanmu juga singkat bin padat. Oke, aku mau! Tidak ada momen yang romantis dan menggebu-gebu. Serba canggung di pertemuan pertama setelah resmi jadian. Kita kencan sambil ngopi di Ohlala Cafe. Sampai empat tahun berlalu, kita lulus kuliah dan masih saling mendampingi. Keluarga kita saling kenal dekat.

Tapi Mamakku rupanya sudah punya rencana diam-diam. Beliau siapkan calon istri. Berkali-kali aku mengelak. Tapi tak mampu sudah beradu jurus dengannya.

Kita terpaksa menyudahi. Oleh sebab itu, hati kita tidak saling tenang. Kita punya harapan yang perlahan-lahan pasti memudar seiring waktu. Persis seperti lagu Barasuara yang baru. Judulnya “Sementara”. Sesudah dentuman drum dan alunan bas yang mengayun di ujung bar, Iga masuk melantunkan lirik bait pembuka, Harapan hatimu memudar. Lelah mencoba untuk tegar. Yang kau cintai, melangkah pergi. Sendiri.

Artwork Lagu “Sementara” oleh Yogi Kusuma

Mendengarkan lagu ini, menyadarkan diri untuk merelakan. Kita hanya manusia. Kita sama-sama sadari ini. Apalagi ragam ritmis dan melodi yang membentuk harmoni lagu ini terasa sungguh ringan dan mudah dicerna, resep jitu untuk dinikmati telinga pengantin baru. Butuh sedikit ketenangan sebagai bekal persiapan menghadapi kehidupan dewasa sesungguhnya.

Walaupun faktanya, dapat aku rasakan betul kau masih belum rela sepenuhnya. Kau tutupi kesedihan dengan aktivitas bernyanyi di berbagai pesta pernikahan.

Kau bilang, itu cara satu-satunya membiasakan diri untuk melihat orang lain bahagia dan kau bisa berkontribusi untuk menghibur di dalam momen kebahagian itu: satu hari yang paling sakral dari tiap perjalanan sepasang kekasih.

Sampai kita sadari, ternyata perasaan ini memang hanya sementara sampai kita mampu merelakan semua. Hari-hari yang datang tak mesti disesali. Menerima adalah satu hal yang pasti. Bahwa kamu memang bukan jodohku yang bisa dimiliki. Ijab sudah terkabul.

Kini giliran hari sakralku yang tiba. Kau sepakat untuk menjadi penyedia musik di pesta pernikahanku. Aku tidak punya kenalan lain. Mengandalkanmu adalah cara terbaik saat itu.

Dari beberapa daftar lagu yang diminta, memang ada yang kebetulan disukai oleh istriku. Dan terpaksa dibawakan olehmu. Semua ini bukan dengan sengaja. Aku masih ragu kita sudah merelakan semua kenangan yang berlalu.

Biarpun aku disibukkan oleh tamu-tamu yang sebagian aku tak kenal, memasang senyum dan mengucapkan terima kasih, berkali-kali aku curi pandang ke panggung.

Dari kejauhan aku lihat kau tahan tangismu hingga bergetar tubuhmu. Dari air muka dan pancaran sinar matamu, ada pesan tersirat, Kau tanyakan kapan kau akan jadi pemenang. Sesaat, seperti ada harapan untuk bisa bersama lagi karena energinya begitu kuat. Namun sia-sia. Di situasi ini, aku tidak ingin skenario kawin lari terjadi. Banyak hati yang harus aku jaga.

Istriku jelas tak tau soal masa lalu kita. Aku harus menjaga perasaannya di hari bahagia kami. Kelak akan aku ceritakan padanya. Tapi kelak, entah kapan. Aku pun tak yakin perlu atau tidak.

Semua perasaan ini sureal. Ternyata apa yang kita senangi dan miliki memang hanya sementara. Bahkan kita tak punya kontrol atas keinginan sesuai apa yang kita mau. Semua ditentukan waktunya. Kan dijawab pada saatnya. Sudah dituliskan takdirnya.

Rupanya mawar itu memang hanya untuk digantungkan di pagar rumahmu saja, bukan untuk dirangkai dalam dekorasi pelaminan kita.

Walaupun kesempatannya ada dan masih mungkin untuk diperjuangkan, takdir Tuhan tak menggariskannya. Kalaupun dipaksakan, pasti hanya akan jadi asap knalpot yang bisa tertiup angin begitu saja.

Dzulfikri Putra Malawi

Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku “LOKANANTA” secara kolektif.
  • Dzulfikri Putra Malawi

    Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku "LOKANANTA" secara kolektif.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga