Algoritma YouTube Music secara tak terduga membawa saya pada sebuah lagu yang langsung menempel di kepala. Ya, lagu itu adalah “Langkah” dari Ministry Of. Mungkin karena selama ini saya cukup akrab dengan band-band seperti Swellow, FSTVLST, The Jansen, Jirapah, atau Sajama Cut. Ketika lagu terputar, saya langsung merasa ada sesuatu yang familier: petikan gitar yang catchy, lirik yang lugas, pelafalan vokal yang mudah diikuti, serta pilihan kata dalam bahasa Indonesia yang sederhana namun tetap puitis.
Oke saya harus dengarkan lagu ini sampai habis.
Jujur, ini adalah perkenalan pertama saya dengan Ministry Of. Dan lagu pertama yang saya dengar dari mereka ini langsung nyangkut. Tak perlu intro panjang, lagu ini langsung menghajar pendengarnya lewat bait pembuka:
“Mesin bergerak cepat, ribuan langkah kau harus sempat, kau hanya merona.”
Rasanya seperti gambaran dunia yang menyerbu kita begitu mata terbuka di pagi hari.
Bangun tidur, mengucek mata, mematikan alarm, lalu tanpa sadar membuka ponsel. Mengecek notifikasi WhatsApp, melihat Instagram Stories teman-teman, menertawakan unggahan akun meme, menghela napas membaca berita terbaru, lalu tiba-tiba sadar tiga puluh menit berlalu tanpa benar-benar beranjak dari kasur.
Setelah itu semuanya berlangsung cepat. Mandi terburu-buru, dandan secepatnya, berlari mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kerja. Sesampainya di tempat kerja, kita mengeluarkan “senjata” masing-masing. Ada yang berupa laptop, pena, perkakas, mesin, atau kemampuan berbicara untuk menawarkan produk dan jasa yang kita punya.
Lalu lirik berikutnya:
“Kau ajakku dengan bisikan sesak, ribuan langkah kau harus sempat, kau hanya merana.”
Bahkan saat istirahat, kita sering kali tidak benar-benar beristirahat.
Saat sendiri, kita menggerus rasa percaya diri dengan membandingkan hidup kita dengan pencapaian orang lain yang tampak sempurna di media sosial atau berita selewatan. Saat bersama teman, kita semua pun mengenakan topeng: berpura-pura baik-baik saja karena tau semua orang juga sedang lelah. Baiknya derita dipendam sendiri-sendiri, ya kan?
Jam istirahat habis, saatnya kembali bekerja agar tidak tergilas dunia. Begitu setiap hari. Yang lelah ternyata bukan hanya badan. Mental kita pun perlahan porak-poranda. Rebahan sedikit timbul perasaan bersalah. Mau pindah kerja pun rasanya susah sekali mencarinya. Mau berhenti pun seperti hidup tak tau diuntung di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
Setiap hari kita dibanjiri informasi tanpa henti. Belum lagi berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepala saat mau tidur:
Mau jadi apa saya?
Apakah pekerjaan saya sekarang sudah sesuai dengan yang saya impikan?
Apakah Indonesia akan baik-baik saja di masa depan?
Atau pertanyaan yang mungkin paling universal:
Apakah sekarang saya sudah bahagia?
Ribuan informasi dan pertanyaan itu terus melangkah di kepala. Kita bergerak setiap hari, tetapi sering kali merasa tidak menuju ke mana-mana. Siklus yang berulang. Stres yang menumpuk kemudian mencari jalan keluarnya masing-masing. Ada yang tiba-tiba rajin berolahraga. Ada yang tenggelam dalam pekerjaan. Ada pula yang meluapkannya menjadi kemarahan di jalan atau kerakusan yang tak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Itulah ajaibnya manusia, baik dan buruknya.
Setelah mendengarkan lagunya berkali-kali, saya akhirnya tergerak untuk menonton video klipnya. Dari video ini saya teringat pada konsep hedonic treadmill yang pernah saya baca. Menurut Psychology Today, hedonic treadmill adalah gagasan bahwa tingkat kebahagiaan seseorang, setelah naik atau turun akibat berbagai peristiwa hidup, pada akhirnya cenderung kembali ke titik semula.
Kemudahan teknologi mendorong banyak dari kita yang jadi impulsif. Diskon bermunculan, transaksi sesimpel mengarahkan kamera. Barang terbeli, rasa senang muncul sesaat, lalu perlahan memudar. Setelah itu kita mencari kesenangan berikutnya. Siklusnya berulang. Ternyata, tidak hanya barang yang kita beli. Kadang juga validasi. Mencari pengakuan. Mengejar kesenangan-kesenangan kecil yang terasa penting dari orang lain, tetapi cepat menguap dan terlupakan juga.
Kita terus melangkah. Terus berlari. Pokoknya harus sempat! Tak peduli apakah langkah itu tergopoh-gopoh, apakah hati mulai cedera, atau tubuh perlahan melemah seiring bertambahnya usia. Pada bagian lain lagu ini terdapat lirik:
“Sesuatu yang harus sembuh, dirayu kau habis itu, tak ragu kau melantur.”
Kata melantur dalam KBBI berarti menyimpang, tersesat, atau teralih dari pokok pembicaraan maupun tujuan. Bagi saya, ini salah satu bagian paling puitis dalam lagu tersebut. Kita memang sering melantur. Melompat dari satu angan-angan ke angan-angan lain. Dari satu rencana ke rencana berikutnya. Dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran yang lain. Soal melantur rasanya orang Indonesia itu jagonya.
“Langkah” bagi saya tidak terdengar menggurui para pendengarnya karena terlalu sibuk, terlalu konsumtif, atau terlalu lelah. Sebaliknya, “Langkah” menjadi pengingat tentang apakah kita masih sempat menikmati perjalanan? Atau jangan-jangan kita hanya sibuk bergerak tanpa pernah berhenti memaknai?
Sebagai seseorang yang baru mendengarkan Ministry Of, saya cukup terkejut ketika mengetahui bahwa “Langkah” merupakan lagu pertama mereka yang menggunakan lirik berbahasa Indonesia saat googling. Menurut saya, percobaan ini berhasil. Bahasa yang sederhana justru membuat pesannya terasa dekat dan mudah mengendap. Salam kenal!
Lagu “Langkah” terasa seperti soundtrack kehidupan banyak orang hari ini: terus bergerak, terus mengejar sesuatu, terus berusaha bertahan di tengah dunia yang berjalan semakin cepat.
Semoga di antara langkah-langkah yang kita tempuh setiap hari, masih ada rasa syukur yang sempat kita lihat, rawat, dan latih keberadaannya.
Begitulah cerita yang sedikit melantur dari saya tentang lagu ini. Pada akhirnya, kita sendiri yang harus kuat-kuat berjuang hidup layak di ruang yang makin terhimpit dan kembali menyadari sebuah kalau “istirahat” itu juga merupakan kata kerja.