Alea iacta est–hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan.
Pada Januari tahun 49 SM, berabad-abad yang lalu, Julius Caesar berdiri di tepi Sungai Rubicon dalam gelapnya kekalutan. Di belakangnya berdiri legiun yang setia, reputasi yang dibangun bertahun-tahun, dan sebuah keputusan yang akan berdampak besar. Barangkali lebih besar dari batu yang diangkat oleh Sisyphus setiap harinya. Di depannya mengalir sebuah sungai kecil yang dangkal, tetapi dengan konsekuensi yang tidak bisa dikatakan dangkal. Menyeberangi aliran air tersebut berarti sama saja dengan melawan Senat Roma dan nyawa adalah pertaruhannya. Tidak menyeberanginya berarti menyerahkan semua yang sudah ia perjuangkan.
Ia memilih menyeberang. Dan sebelum kakinya menyentuh air, ia mengucapkan sesuatu:
Alea iacta est.
Dadu telah dilempar.
Aku suka kalimat itu. Bukan karena gagahnya, bukan karena aku adalah penikmat judol yang setiap hari garuk kepala melihat tagihan, tetapi karena kejujurannya. Caesar tidak berkata “aku pasti menang” atau “ini keputusan terbaik.” Ia hanya berkata: dadu sudah di udara. Apa pun hasilnya, aku yang melempar dan konsekuensinya ada di pundakku.
***
Aku berkuliah di jurusan Sastra Indonesia di sebuah kampus Kota Padang.
Di tahun-tahun itu, aku banyak belajar bahwa bahasa bukan sekedar alat komunikasi, sastra bagiku adalah cara manusia bernegosiasi dengan realita. Walaupun saat itu banyak senior yang ingin kupukul kepalanya karena sikap feodalnya, aku sadar bahwa sebuah tindakan bisa menyimpan lebih banyak kebenaran. Kita tidak bahas teori simulakra atau semantik di sini. Hanya saja, aku melihat bahwa ada pekerjaan di dunia ini yang tugasnya bukan hanya menghitung, tapi memahami. Bagiku, pekerjaan semacam itu sangat menarik melihat bagaimana para penyair, aktor teater, maupun pelaku akademik bisa bertahan hidup di bidang tersebut, walaupun tidak banyak.
Lalu aku beranjak dari bangku perkuliahan, menjahit langkah dari Sumatra hingga Nusa Tenggara, hingga pada akhirnya kapal yang kukemudikan serupa kompas kehilangan kutub mata angin selama dua tahun, bersandar pada dermaga berbentuk korporasi sebagai staf audit. Sebuah posisi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku menerima posisi tersebut setelah mengarungi kejamnya samudra ibu kota dengan pendapatan yang tidak pasti, hidup meloncat dari satu kos ke satu kos teman yang lain karena industri kreatif memang angin-anginan.
Aku mengambil posisi tersebut bukan karena terpaksa, lebih tepatnya karena itu ada, karena itu terlihat aman. Lagi pula, negara tidak memberikan opsi cita-cita yang banyak untuk seorang lulusan sastra. Saat itu aku merasakan nominal pasti yang selalu datang tepat waktu, seolah setiap bulan terasa seperti bukti bahwa hidupku berjalan di jalur yang benar. Masalahnya, rel yang benar belum tentu menuju ke tempat yang benar untukku.
Berbulan-bulan aku duduk di depan angka-angka, kertas kerja berbentuk laporan berita acara, sampai turun ke lapangan (pabrik) untuk memastikan engsel penggerak kekayaan bos tetap lancar dinamikanya. Aku menjalaninya tanpa kesalahan yang signifikan. Shout out kepada teman-teman timku yang bersedia membantu kala itu, walaupun latar disiplin ilmuku berbeda dengan mereka. Tetapi, di sana aku menyadari ada perbedaan yang cukup menyiksa antara kompetensi dan kecocokan batin. Aku bisa mengerjakan pekerjaan tersebut, tapi setiap kali aku melakukannya, ada suara kecil di kepala yang berbisik: ini bukan bahasamu. Oleh karena itu setiap di luar jam kerja aku menyempatkan diri untuk mencari kesempatan lain yang masih relate dengan kerja-kerja kebudayaan sebagai bentuk dari profesionalitas.
Barangkali kutipan John Keating dalam sinema Dead Poet Society benar, yang bunyinya kurang lebih:
“Ilmu kedokteran, bisnis, hukum, atau teknik adalah bidang yang mulia dan diperlukan untuk mempertahankan hidup. Tetapi puisi, keindahan, romansa, dan cinta adalah hal yang membuat kita tetap memaknai hidup.”
***
Ada sebuah istilah yang belakangan ramai dibicarakan di lingkar percakapan tentang karier, yaitu job hugging. Fenomena ketika seseorang bertahan di pekerjaannya bukan karena cinta, bukan karena passion, tetapi karena takut kehilangan apa yang sudah ada dan gonjang-ganjing minimnya lapangan pekerjaan yang dijanjikan berjumlah 19 juta tersebut. Orang-orang yang terjebak pada situasi ini seperti harus memeluk benda yang sudah tidak lagi hangat, hanya karena tangan yang sudah terlalu hafal dengan bentuknya, tetapi tetap ragu untuk melepaskannya. Sebagai anak rantau, aku sangat memahami situasi ini.
Job hugging tidak selalu terlihat seperti kelemahan. Ia sering menyamar sebagai jawaban dari celotehan “Gua besok bakal resign!”, tetapi terbentur dengan kalimat setelahnya: “Memangnya kamu mau makan apa jika berkirap segera dari tempat ini?”
Bagiku, ada harga yang tidak tertera di slip gaji, sebuah harga yang dibayar diam-diam setiap hari serupa energi yang terkuras untuk pekerjaan yang tidak pernah sungguh-sungguh dicintai. Kreativitas yang perlahan layu bukan karena tidak subur, tapi karena ditanam di tanah yang keliru. Aku mengenali diri sendiri di sana, dan aku tidak bisa menikmati apa-apa saja yang kulihat di sana.
Idealisme memang tidak membantuku untuk membayar uang kos bulanan. Idealisme tidak hadir sebagai intensif pada slip gaji, tetapi ia membayar sesuatu yang tidak kalah penting, bagiku kejujuran pada diri sendiri melebihi nominal yang kudapatkan tiap bulannya.
***
Maka hari pengajuan tersebut aku berdiri di tepi Rubicon-ku sendiri. Tanpa legiun, tetapi dengan harapan yang melebihi besarnya armada perang.
Aku berada pada dua sisi, yang satu adalah gaji tetap tiap bulannya dengan pertumbuhan tiap tahun, posisi yang jelas, dan ocehan atasan yang sudah aku kenal titik komanya. Di sisi lain dalam hatiku tetap hadir keinginan untuk kembali pada arus industri yang dipandang sebelah mata–dunia yang membuat aku merasa aman di dalamnya walaupun dengan angka yang tidak pasti jumlahnya setiap bulan.
Aku tidak berdiri di sana dengan keyakinan yang tenang dan rapi. Aku berdiri dengan sedikit ragu, tetapi ragu bukan alasan yang cukup untuk tidak bergerak. Julius Caesar pun saat itu kurasa juga ragu, tetapi ia tidak membiarkan keraguannya menjadi penjara.
Aku memantapkan diri untuk resign.
Sebelum surat itu resmi aku ajukan kepada atasan, ada kalimat yang tanpa sadar berputar di kepalaku, seolah kalimat tersebut sudah ribuan tahun menunggu momennya untuk kembali diucapkan:
Alea iacta est.
***
Dadu sudah dilempar. Aku tidak tahu persis ke mana ia akan jatuh terjerembab ke kemungkinan yang mana. Bisa jadi hasilnya bakal terlihat bulan ini, tahun ini, atau nanti setelah Fufufafa menjabat menjadi presiden, yang pasti industri kreatif tidak pernah memberi jaminan kelayakan hidup, tetapi bagiku ia memberikan kemungkinan-kemungkinan yang tak akan kudapatkan jika masih saja meniup nasi dingin. Barangkali itulah yang ruang untuk kemungkinan-kemungkinan lain, bukan kepastian yang membuat aku berdiri diam.
Pada buku novel, cerpen, esai, maupun puisi yang telah khatam kubaca, dunia sastra tidak selalu mengatakan siapa yang paling jujur pada dirinya akan berakhir bahagia, tetapi yang pasti, setiap tindakan adalah pertaruhan.
Kini, Rubicon versiku telah aku sebrangi. Tidak akan ada jalan kembali ke tepi yang sama. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama aku tidak merasa itu sebuah ancaman.
Aku merasa titik sebagai awal kembali, layaknya kalimat dari Syahrir yang berkata “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan”. Bagiku, pengajuan surat resign dan menyandang kembali ransel usang berisi idealisme tersebut adalah satu dari sekian tabuhan genderang dadu pertaruhan dalam hidupku.
Untuk itu, yang membaca artikel ini sampai habis, bolehlah info-info project kebudayaan agar probabilitas pertaruhanku meningkat. Terima kasih.