Cinta Itu Diperjuangkan, hingga Mengudara

Catatan setelah mendengarkan “Jadi Udara” dari Dee Lestari.

Cinta Itu Diperjuangkan, hingga Mengudara

Catatan setelah mendengarkan “Jadi Udara” dari Dee Lestari.

11/06/2026

Hal yang kuingat, roti buaya itu tergantung di bawah tenda penjual kue subuh di Pasar Senen. Bahkan belum tiba waktu subuh, kita berdua sudah melangkah di sana. Entah kenapa pukul dua kukirim pesan mengajakmu keluar jalan-jalan.

Sebab, sejak melihatmu untuk pertama kalinya tiga tahun lalu, aku tak berkutik. Bahkan mencoba berkenalan saja sampai tak sanggup. Minder. Merasa belum layak dalam segala hal.

Maka kupendam rasa itu. Biar terkubur dalam-dalam sampai tak pernah tergapai. Tapi aku bintangnya Leo. Ternyata tak bisa dinego. Dan akhirnya kuperjuangkan agar semuanya menjadi layak.

Nekat betul. Padahal kamu saat itu milik orang. Desas-desus kerenggangan kalian, tak kusia-siakan barang sedetik pun. Kusiap berperkara. Bukan karena ingin menambal rasa sepi. Tapi aku tau betul yang aku mau, yaitu kamu.

Rupanya hatiku kala itu di Pasar Senen mesam-mesem. Bungah. Menyala malam yang panjang. Persis dalam potongan lagu milik Dee Lestari di lagu “Jadi Udara” yang baru saja dirilis. Malam itu jadi prakencan yang paling mengasyikkan.

Rasanya belum lama. Hitungan hari berlalu. Tak sampai seminggu. Segalanya, di kepalaku hanya senyum dan sinar matamu yang terbayang-bayang hingga terus menarik jemari ini untuk mengetik, “Kamu lagi apa?”. Pesan yang membosankan tapi tetap kulakukan. Untukmu yang tinggal di Kedoya.

Aku upayakan selalu hadir setiap waktu kerja. Bahkan siaga di parkiran kantor untuk ambil alih meluruskan kendaraanmu yang selalu terparkir miring itu.

Di dunia pekerjaanmu, ada istilah “jika sudah mengudara, maka sudah melalui proses yang panjang dan punya konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan”. Artinya sudah benar-benar final. Tak ada revisi. Aku pun demikian, kamu jadi titik awal untuk aku menjalani kehidupan di fase orang dewasa. Dan perjuangan itu tak pernah mengkhianati hasil. Kita akhirnya resmi jadian.

Saat ini ada lagu baru yang aku rasa paling pas untuk diberikan kepada kamu, yang kini menjadi istriku. Jadi Udara. Setelah lagu band Inggris yang sempat kunyanyikan sambil bergitar lewat Skype sedekade lalu. Lagu ini berpotensi untuk kupersembahkan langsung. Itu pun kalau kamu ora ngenyek aku. Paling tidak kumainkan salah satu instrumennya.

Koor dalam lagu ini dengan beragam warna vokal memberikan energi yang berlebih. Hingga dorongan untuk menembus segala kenangan manis kita begitu kuat. Bahkan tanpa perlu menghafal lirik. Harmoninya indah dan bahagia. Sampai tak terasa durasi lagunya 3 menit lebih. 

Dee Lestari dan para tim produksi yang terlibat paham betul menempatkan lagu ini menjadi jagoan untuk memperkenalkan album barunya, (Jangan) Jatuh Cinta setelah 18 tahun hiatus.

Malam tadi kita ulang perjalanan itu di pasar ikan, tapi menggendong anak kita. Dari Senen sampai Pluit, rasanya tetap sama. Entah berapa malam berganti dalam sedekade. Pilihanku mengakhiri ketidakpastian saat itu, berlanjut hingga hari ini. Kita dibuai cinta, lepas landas dan mengudara. Entah sampai lapisan ke berapa. Yang pasti, aku sudah ketergantungan, menghirup untuk hidup (bersama). Sampai di titik ini, kau selalu jadi yang terutama, Lillahi Ta’ala.

Dzulfikri Putra Malawi

Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku “LOKANANTA” secara kolektif.
  • Dzulfikri Putra Malawi

    Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku "LOKANANTA" secara kolektif.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga