Kita Semua Gagal: Musim Tak Berganti, Hidup yang Sulit, Kendali yang Blong

Melihat perang melalui layar dengan resolusi tinggi, lalu lima belas detik kemudian algoritma menyarankan video kucing atau diskon kacamata.

Kita Semua Gagal: Musim Tak Berganti, Hidup yang Sulit, Kendali yang Blong

Melihat perang melalui layar dengan resolusi tinggi, lalu lima belas detik kemudian algoritma menyarankan video kucing atau diskon kacamata.

09/08/2026

Belakangan ini saya lebih sering melihat wajah saya di layar daripada di cermin.

Kalimat itu terdengar sepele. Saya baru menyadarinya beberapa bulan lalu ketika sedang membuka kamera depan untuk memastikan rambut saya tidak berantakan sebelum berangkat kerja. Kamera ditutup, lalu saya melihat notifikasi. Dari notifikasi pindah ke media sosial. Dari media sosial pindah ke berita. Dari berita pindah ke komentar orang. Dari komentar orang pindah ke iklan. Dari iklan pindah lagi ke video lain. Hampir satu jam berlalu sebelum saya benar-benar berdiri dari kursi dan telat berangkat kerja.

Saya belum memulai hari.

Tapi dunia sudah lebih dulu masuk ke kepala saya.

Saya rasa banyak orang mengalami hal yang sama. Kita bangun bukan dengan suara burung atau matahari yang masuk lewat jendela, melainkan oleh layar. Sebelum sempat bertanya “bagaimana kabarku hari ini?”, kita sudah tau siapa yang sedang viral, siapa yang dibenci, siapa yang sedang perang, siapa yang sedang menjual sesuatu, siapa yang sedang menangis, siapa yang sedang berpura-pura bahagia.

Kita mengonsumsi kehidupan orang lain sebelum sempat mengalami kehidupan kita sendiri.

Lama-lama saya curiga, mungkin yang berubah bukan teknologinya.

Mungkin cara kita mengalami kenyataan.

Saya sering merasa kita hidup di dalam permukaan. Semua hal terlihat. Semua hal bisa diakses. Semua hal bisa direkam. Anehnya, semakin banyak yang bisa dilihat, semakin sedikit yang benar-benar kita pahami.

Saya bisa melihat wajah teman setiap hari, tetapi tidak tau apakah dia sedang baik-baik saja.

Saya bisa membaca ribuan opini dalam sehari, tetapi semakin sulit menemukan percakapan.

Saya bisa melihat perang melalui layar dengan resolusi tinggi, lalu lima belas detik kemudian algoritma menyarankan video kucing atau diskon kacamata.

Semuanya hadir dengan bobot yang sama.

Mungkin itu yang paling menakutkan. Bukan karena dunia menjadi lebih kejam. Tetapi karena perlahan kita kehilangan kemampuan untuk merasakan perbedaan antara tragedi dan hiburan.

Saya tidak menyalahkan internet.

Saya juga hidup di dalamnya.

Saya mengunggah karya.

Saya melihat angka.

Saya menunggu pesan.

Saya memeriksa statistik.

Saya juga pernah merasa senang ketika sesuatu yang saya buat mendapat perhatian.

Saya juga pernah kecewa ketika tidak ada yang melihat.

Saya juga sedang dibentuk oleh mesin yang sama.

Dan mungkin justru itu yang membuat saya takut.

Karena kekuasaan hari ini tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali.

Ia tidak selalu memakai seragam.

Tidak selalu berbicara lewat pengeras suara.

Tidak selalu memukul.

Kadang ia datang sebagai kemudahan.

Sebagai efisiensi.

Sebagai rekomendasi.

Sebagai fitur.

Sebagai kenyamanan.

Kadang ia datang sebagai keinginan kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya saya semakin sulit membedakan mana keputusan saya, mana keputusan yang sudah disiapkan untuk saya.

Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan.

Tentang keluarga.

Tentang pekerjaan.

Tentang karya.

Tentang diri sendiri.

Ternyata pola yang sama terus muncul.

Ada suara-suara yang terdengar lembut, tetapi perlahan mengatur bagaimana kita berbicara.

Ada perhatian yang terasa hangat, tetapi diam-diam menentukan bagaimana kita harus hidup.

Ada pujian yang membuat kita terus mengulang perilaku tertentu.

Ada rasa takut yang bahkan tidak perlu diucapkan lagi karena tubuh kita sudah menghafalnya.

Mungkin kekuasaan memang tidak selalu bekerja melalui rasa takut.

Mungkin ia bekerja melalui kebiasaan.

Melalui pengulangan.

Melalui hal-hal kecil yang lama-lama terasa normal.

Dengarkan “Glass Season” di sini.

Di situlah “Glass Season” mulai menemukan bentuknya. Lagu ini terdengar lebih repetitif, lebih penuh noise, lebih seperti mantra daripada lagu-lagu DPL sebelumnya. Jawabannya sederhana. Karena kehidupan kita juga repetitif.

Bangun.

Lihat layar.

Bekerja.

Menggulir.

Membalas.

Mengunggah.

Menghapus.

Mengulang.

Besok lagi.

Pengulangan bukan sekadar bentuk musik.

Ia adalah cara hidup.

Saya percaya banyak sistem tidak bertahan karena kekerasan. Mereka bertahan karena berhasil menjadi rutinitas. Kita tidak lagi mempertanyakannya. Kita hanya mengulanginya.

Dan mungkin saya juga sedang mengulanginya ketika menulis ini. Saya tidak ingin “Glass Season” dipahami sebagai lagu tentang politik. Kalau politik hanya dipahami sebagai sesuatu yang terjadi di gedung parlemen atau kantor pemerintahan, lagu ini memang akan terasa terlalu abstrak.

Tapi buat saya, politik selalu dimulai dari tubuh.

Dari cara kita bekerja.

Dari cara kita mencintai.

Dari cara kita mendengar.

Dari cara kita memandang diri sendiri.

Dari siapa yang boleh berbicara.

Dari siapa yang harus diam.

Dari siapa yang dianggap berhasil.

Dari siapa yang dianggap gagal.

Kekuasaan tidak hanya hidup di negara.

Ia juga hidup di ruang tamu.

Di kantor.

Di sekolah.

Di panggung.

Di tongkrongan.

Bahkan di kepala kita sendiri.

Mungkin karena itu saya tidak pernah menganggap “Glass Season” sebagai lagu tentang kehampaan. Ia adalah lagu tentang bagaimana kehampaan diproduksi. Tentang bagaimana kita perlahan dipisahkan dari pengalaman yang benar-benar kita miliki, lalu diberi pantulan sebagai gantinya. Kita melihat diri sendiri setiap hari. Tetapi semakin sulit mengenali siapa yang sedang kita lihat.

Ada kalanya saya berpikir mungkin semua ini berlebihan.

Lalu saya sadar, bahkan keraguan itu pun mungkin sudah menjadi bagian dari sistem yang sama. Mungkin memang tidak ada posisi yang benar-benar bersih. Kami membuat musik untuk didengar. Kami mengkritik citra sambil merancang visual. Kami menggunakan media sosial untuk berbicara tentang dunia yang terlalu bergantung pada media sosial.

Kontradiksi itu tidak kami sembunyikan. Karena kami juga hidup di dalamnya. Kami bukan orang-orang yang berhasil keluar dari mesin. Kami hanya mencoba mendengarkan bunyi mesin itu sedikit lebih lama. Cukup lama sampai kami menyadari bahwa suara paling keras yang kami dengar selama ini mungkin bukan berasal dari luar. Melainkan dari kepala kami sendiri.

Mungkin “Glass Season” bukan tentang kaca. Mungkin ia tentang kehidupan yang perlahan berubah menjadi permukaan. Dan mungkin yang paling mengganggu bukanlah kenyataan bahwa kita hidup di dalam cermin. Melainkan kenyataan bahwa setelah sekian lama, kita mulai merasa nyaman berada di sana.

Jan-pierre M.G.

A multidisciplinary artist from Bogor, Indonesia, working across sound, installation, visual media, and spatial practice. He is the founder of T3N Archive, an independent platform for experimental sound and publishing, and a member of the Bogor-based neo-sun contemporary rock group Det-Plag Lust. His work explores archives, memory, and urban environments through performance, field recording, found objects, and experimental media.
  • A multidisciplinary artist from Bogor, Indonesia, working across sound, installation, visual media, and spatial practice. He is the founder of T3N Archive, an independent platform for experimental sound and publishing, and a member of the Bogor-based neo-sun contemporary rock group Det-Plag Lust. His work explores archives, memory, and urban environments through performance, field recording, found objects, and experimental media.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga