Seandainya ada cukup pilihan di antara riuh rendah kehidupan masa ini, barangkali tidak ada yang lebih menenangkan selain bangun pagi dan menghirup udara kampung halaman sendiri, Kota Bukittinggi. Tempat gunung-gunung indah berbaris rapi menjulang, disertai angin lembut yang perlahan merangkak menuju hening lembah Ngarai Sianok. Jika ada kesempatan dan ruang untuk tumbuh di tanah kelahiran, aku pasti memilih untuk tetap tinggal di sana. Berada dekat dengan keluarga dan menyusuri rimbun pematang yang sudah aku hafal di luar kepala, tentu lebih menenteramkan ketimbang harus tersesat di hiruk pikuk kota orang yang tak kenal posisi jarum jam. Tetapi seperti yang sering terjadi, realitas sering kali berbenturan dengan keinginan.
Bagi kami, masyarakat Minangkabau saban hari sudah familier dengan adegan berulang seperti ini: seorang ibu yang berdiri di ambang pintu sambil menahan sebak di kantung mata mengecup dahi anak lelakinya yang menenteng tas melebihi besar kuali pengaduk rendang dengan koper di tangan, lalu berlalu menjauh setelah transportasi angkutan datang. Entah itu menuju terminal, bandara, ataupun pelabuhan yang akan menjadi gerbang untuk bertolak jauh dari rumah. Tidak ada jaminan bahwa batang hidung si buyung tersebut akan terlihat kembali saat Lebaran tahun depan, atau lebih pahitnya, bisa jadi dia terlihat kembali setelah bendera duka berkibar di halaman depan.
Sejarah mencatat, kebiasaan merantau ini bukanlah cerita baru. Jauh di masa lalu, salah satunya eksodus pasca-pergolakan PRRI yang lahir dari jalinan rumit antara tuntutan otonomi daerah, kekecewaan pada pusat, seta percaturan politik yang jauh dari alasan hitam dan putih. Kejadian ini telah terlebih dulu memaksa banyak langkah kaki untuk bergerak dari tanah kelahiran dengan dada yang panas. Mereka mencari ruang yang lebih lapang dan aman untuk sekadar bernapas, termasuk menanggalkan identitas berbau “Minang” setiba di perantauan karena trauma dengan label “pemberontak”. Ketakutan dari sejarah kelam tersebut serupa diwariskan antargenerasi dalam diam, menjadi dorongan tak kasatmata untuk meninggalkan kampung halaman. Di sisi lain, adat juga ikut memberikan lecutan yang tak kalah getir, terutama kepada lelaki Minang.
Dalam adat Minangkabau, ada kiasan yang menggambarkan kerapuhan posisi seorang laki-laki di rumah gadang, tak terkecuali kepada sumando (menantu laki-laki), yaitu: “bak abu di ateh tungku” (serupa abu di atas tungku). Sebuah kiasan yang terdengar indah, namun menikam tajam bagi setiap laki-laki di Minangkabau. Sederhananya, serupa abu, dihembuskan angin sedikit saja ia akan terbang. Kiasan yang cukup sulit untuk ditepis karena dalam adat Minang, setiap harta memang diturunkan kepada anak perempuan sehingga laki-laki tidak memiliki harta warisan di rumah gadang. Hal tersebut secara tidak langsung membuat kita berpikir panjang dan harus mulai mengemasi barang untuk menyeberangi lautan jika sudah menginjak usia balig. Entah ini kutukan struktural atau naluri dasar, aku merasa setiap laki-laki di Minangkabau seolah-olah harus menjadi penakluk Batavia supaya dapat pengakuan oleh ninik-mamak.
Aku jadi kembali mempertanyakan alasanku untuk berada di rantau setelah membaca sebuah kalimat di buku yang berjudul Inyik Balang. Kurang lebih bunyinya begini: “Haruskah semua lelaki Minang pergi merantau? Hina dinakah mereka yang tinggal di kampung halaman? Hilangkah marwahmu sebagai laki-laki kalau tidak pernah kau jejakkan kakimu di pulau seberang?”
Padahal, untuk berada di kampung halaman bukanlah satu kesalahan.
Namun sepertinya, alasanku pergi dari kampung halaman melampaui unsur sejarah dan adat itu sendiri. Aku memilih merantau karena situasi yang cukup pelik di kampung halaman. Di kampung halaman, hak istimewa atau privilege merupakan barang mewah yang tidak mungkin didapatkan oleh semua orang. Bagi orang-orang biasa sepertiku yang tidak memiliki harta warisan sama sekali, tidak mempunyai ladang untuk digarap, maupun usaha milik orang tua untuk dilanjutkan, menyambung hidup adalah jalan mendaki yang terlalu terjal jika masih berdiam diri di kampung halaman. Kepala ini mungkin penuh dengan gairah, tapi ide tanpa sumber daya yang memadai sama saja dengan menaruh baskom penampung air hujan di tengah terik gurun. Pada titik ini aku mulai menyadari bahwa resource dan wadah belajar yang ideal tidak semuanya tersedia di Sumatera.
Mungkin kita bisa menyepakatinya bersama bahwa pembangunan tidak melulu tentang hutan beton dan gedung pencakar langit, tetapi akses kesempatan untuk mengembangkan diri yang sama di tiap daerah juga bagian dari pembangunan.
Maka akibat dari ketimpangan tersebut, orang-orang dengan situasi yang sama harus angkat koper untuk mengadu nasib ke pusat. Ke tempat di mana lampu jalan tidak pernah mati. Di tempat serupa, mesin pelumat beragam emosi yang tanpa memedulikan tiap-tiap kepala sudah terbiasa mengeluarkan peluh sebesar biji jagung perdetiknya. Sadar atau tidak sadar, kami yang merantau seperti berserah melempar diri untuk masuk ke dalam gerigi mesin raksasa yang menggerakkan roda perekonomian.
Ada sebuah kalimat pahit yang sering berputar di kepalaku saat menatap deretan gedung tinggi di ibu kota: Jakarta adalah proyek dan kita semua adalah tumbalnya. Tenaga, mimpi, dan masa muda kami yang datang dari daerah ini diperas perlahan-lahan untuk membangun sebuah kota, yang bahkan tidak peduli apakah kelak kita punya cukup sisa uang untuk pulang dan kembali membangun kampung halaman.
Pada akhirnya, menjejakkan kaki di tanah rantau bagiku bukanlah murni sebuah petualangan membanggakan. Ini adalah sebuah pelarian logis dari ketidakadilan pembangunan dan perekonomian. Kami merantau karena tidak ada lagi pilihan yang tersisa sebab pembangunan dan kesempatan yang setara tidak pernah menoleh untuk seluruh pulau. Berbeda dengan Jakarta yang proyek besarnya selesai dengan sekejap mata dan gemerlapnya potensi-potensi lain untuk mengembangkan diri yang sulit didapatkan jika berdiam diri di kampung halaman. Barangkali kelak, ketika pembangunan itu akhirnya sudi menoleh ke arah barisan Gunung Marapi, Gunung Singgalang, Bukit Barisan, dan Ngarai Sianok yang kutinggalkan, aku bisa pulang bukan sebagai orang yang kalah dan menyerah pada rantau, melainkan sebagai orang yang akhirnya punya pilihan untuk tinggal.