Bangun pagi, apply lagi, bandingkan diri, coba tenangkan hati, tapi malah pusing sendiri.
Beberapa bulan ke belakang hidup terasa dua kali lebih cepat dibanding awal tahun. Setiap hari, mata otomatis membuka job portal, mencocokkan mana yang sesuai dengan kemampuan, dan berdiskusi bersama para AI mana yang probabilitasnya paling tinggi untuk menerima lamaranku, agar aku segera merasa sebagai “pemenang” kembali di timeline hidupku hari ini.
Perlahan rutinitas ini berubah fungsi menjadi identitas diri.
Melihat ada notifikasi job update dari seseorang, ada perasaan aneh yang masuk. Walaupun dalam hati, aku tau betul perasaan ini bukan perasaan yang baik untuk tinggal lebih lama lagi. Perasaan ini kemudian berubah menjadi vonis kalau aku adalah orang yang gagal. Kemenangan baru didapat kalau aku sudah punya pekerjaan. Pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi, lokasi strategis, lingkungan pekerjaan yang penuh dengan rekomendasi, dan peluang kenaikan karier yang memberi angin segar untuk segala ketidakpastian di masa depan nanti.
Aku pun mencoba mendistraksi diri, menemukan cerita-cerita teman sepernasiban di media sosial yang jadi bagian dari ekosistem pekerjaan di Indonesia in this economy. Cerita-cerita kualifikasi posisi nyaris setara manajer untuk level intern, persaingan ketat para jobseeker lintas generasi, sampai cerita-cerita karyawan yang sudah memiliki pekerjaan, namun tidak merasa benar-benar hidup di lingkungan pekerjaannya yang toksik. Baik kondisi bekerja maupun mencari pekerjaan, tidak ada satu pun yang lebih baik.
Belum selesai sampai di situ, semua cerita ini seakan ditimpa lagi dengan berita kalau negara ini lebih mencintai proses rekrutmen lewat morat-marit sistem dibandingkan meritokrasi yang selama ini selalu diagungkan dan hanya menjadi dongeng bahwa akan diwujudkan seluruh perusahaan, terutama perusahaan-perusahaan besar milik negara.
Rasanya masuk akal kalau aku mencoba untuk memberi label bahwa saat ini aku orang yang gagal.
Usaha-usaha yang aku lakukan belum berbuah hasil yang signifikan. Apalagi di dunia yang jarang menghargai sebuah proses, kita semua dituntut untuk bisa menaruh hasil jadi yang bisa ditawarkan. Atau mungkin lebih tepatnya dipamerkan untuk ditaruh di atas meja.
Namun, di saat kepala ini sedang seru-serunya bertengkar, tiba-tiba aku tertegun sejenak melihat sebuah catatan binder sewaktu aku kuliah.
Suara berisik itu mereda dan terdengar sebuah pertanyaan:
Sebenarnya apa definisi hasil yang aku percayai?
Apakah offering letter, request masuk dari job portal freelancer, atau kesempatan untuk diajak kerja project-an bersama orang yang aku idolakan?
Aku mulai berpikir kalau hasil yang aku percaya mungkin bisa digeser ke hal yang lebih kecil.
Bisa belajar satu skill hari ini, mempertajam kembali skill bahasa asing lagi, sadar diri saat perasaan doom scrolling mulai muncul, hingga mengajak badan bergerak sebagai wujud syukur untuk kesehatan di balik badan yang penuh kafein ini.
Namun, satu hal yang beberapa kali kucoba dan terbukti memberi kesan yang baik adalah menuliskan kembali apa saja yang sudah dilewati, apa yang perlu dievaluasi, dan hal-hal yang patut untuk apresiasi hari ini. Ternyata kegiatan kecil seperti itu bisa memberi sebuah makna baru kalau setiap hari yang dijalani bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.
Seiring berjalannya waktu, perlahan aku sadar, menggeser definisi hasil yang aku percaya juga membuat aku lebih tenang untuk mengevaluasi diri sendiri. Dari yang awalnya langsung memberi label “aku orang gagal”, kini pikiran dapat beralih ke “mungkin banyak rutinitas yang sebaiknya dikurangi, scrolling nggak jelas yang bisa dialihkan, metode belajar yang lebih tepat untuk digunakan, dan konsistensi yang terus dilakukan tanpa terlalu memikirkan implikasi kesuksesan di ujung jalan”.
Tentu bukan perkara yang mudah. Membuka media sosial terutama di akun pertama itu seperti ikut bersama pasukan Odysseus di tengah lautan Mediterania. Lengah sedikit, rencana baik yang sudah ada di awal hari bisa mudah goyang terombang-ambing dengan semua rentetan informasi yang sebenarnya tidak diperlukan. Tapi, kok, ya mudah sekali mengambil alih suasana hati dan pikiran?
Namun aku percaya, semoga aku terus berusaha untuk menunaikan apa yang telah kutelisik.
Apa yang kutemukan di lembar catatan binder sewaktu aku kuliah? Tulisannya sederhana, hanya “tenang dan kuasai”. Sebuah lelucon di masa lalu, tetapi bisa menjadi kompas untuk fokus menguasai diri sendiri di masa sekarang, melewati lautan yang berisik.