
Bagi sebagian besar masyarakat modern, tidur kerap dipandang sebagai formalitas belaka; sesuatu yang bisa dipangkas demi mengejar ritme hidup yang serba cepat. Kita sibuk dari pagi hingga malam, lalu heran mengapa pikiran tetap riuh ketika kepala sudah menyentuh bantal.
Namun bagi Vishal Dasani, seorang sleep educator dan sleep coach, tidur justru merupakan fondasi utama kehidupan. Lewat perjalanannya—dari dunia finance ke wellness, dari pengalaman menjadi korban bullying hingga pulih dari insomnia kronis—Vishal mengajak kita memahami satu hal sederhana: bahwa tubuh manusia bukanlah mesin yang bisa dimatikan hanya dengan membalikkan sakelar.
***
Boleh dijelaskan kembali, Pak Vishal, sebenarnya apa sih profesi seorang sleep educator itu, dan gimana ceritanya bisa kepikiran banting setir ke dunia “pertiduran” ini?
Kalau ingatan ditarik ke 13 tahun lalu, saya itu sama sekali bukan orang yang bergerak di bidang wellness. Saya lulusan MBA UGM jurusan Wealth Management, dan sempat bekerja sebagai konsultan keuangan untuk nasabah prioritas. Saya tuh suka banget dengan dunia pekerjaan itu. Tapi, pas menikah dan honeymoon di tahun 2013, ada kejadian unik, yaitu berat badan saya tiba-tiba naik 15 kilo hanya dalam waktu 3 minggu!
Pas pulang dan ngelihat cermin, saya ngerasa penampilan kok kurang cocok lagi untuk masuk ke dunia finance yang menuntut looks rapi demi kepercayaan klien. Akhirnya saya “pamit” ke istri untuk ngurusin badan dulu. Saya ikut gym di Yogyakarta, nyobain berbagai diet (termasuk diet OCD yang dijalani dengan ngawur sampai kena binge eating disorder), hingga akhirnya memilih merancang personal gym sendiri karena saya sempat merasa insecure ngeliat orang-orang berotot di gym umum.
Rasa insecure itu lahir karena saya punya trauma pernah jadi korban bullying fisik pas SD dan SMP. Waktu itu, lantai tiga ruko milik ayah yang rencananya mau dijadikan kantor masih kosong. Iseng-iseng, saya ubah jadi personal gym untuk latihan sendiri. Lama-lama, saya melihat potensinya lebih besar. Akhirnya seluruh bangunan itu saya sulap menjadi commercial gym yang terbuka untuk umum. Dari situlah saya menjalani profesi sebagai gym owner sekaligus fitness trainer sejak 2014 hingga awal 2020.
Lalu, pandemi datang dan menghantam semuanya. Dua gym yang saya kelola harus tutup total. Orang-orang berhenti berlatih, sementara biaya operasional dan gaji karyawan tetap harus berjalan. Di tengah masa-masa bertahan hidup itu, saya ngobrol dengan seorang teman sesama pemilik gym di sebuah kafe. Tiba-tiba dia nyeletuk, “Kenapa kamu nggak belajar soal tidur aja? Kan fitness ada hubungannya sama tidur buat recovery.”
Celetukan out of nowhere itu saya tanggapi serius.
Saya cari pelatihan di Google dan menemukan Sleep Recovery Specialist Course. Begitu dipelajari, saya baru paham kenapa pas honeymoon dulu berat badan bisa naik 15 kilo dalam 21 hari.
Penyebab utamanya adalah jetlag. Tidur yang berantakan bikin hormon lapar dan kenyang (ghrelin dan leptin) jadi nggak seimbang. Kita jadi gampang lapar, gila cravings, tapi susah ngerasa kenyang. Saya baru sadar kalau edukasi soal tidur di Indonesia ini masih dangkal banget. Akhirnya saya coba dalami ilmu insomnia, pola tidur anak, lansia, hingga breathwork, dan memulainya dari bikin webinar serta konten edukasi. Semua ini berawal dari momen meratapi nasib pas Covid bareng teman, hahaha.

Sebagai sleep educator, keluhan apa sih yang paling sering Pak Vishal terima dari klien belakangan ini?
Keluhan paling klasik yang paling sering saya terima belakangan ini adalah:
“Coach, kenapa ya di malam hari badan aku udah capek banget, tapi mata ini kok nggak bisa tidur? Ujung-ujungnya jadwal tidur aku mundur sampai tengah malam atau bahkan Subuh.”
Uniknya, kalau beberapa tahun lalu keluhan ini didominasi oleh kelompok usia 35 tahun ke atas, belakangan ini klienku justru didominasi oleh anak-anak muda usia 20 sampai 30-an. Keluhannya serupa: badan udah remuk capek, tapi rasa ngantuknya nggak datang-datang. Pas tidur pun sering terbangun tengah malam, dan pas bangun pagi rasanya nggak segar.
Kenapa fenomena itu bisa terjadi massal di kalangan anak muda sekarang?
Hasil analisis saya menunjukkan bahwa masyarakat modern sekarang hidup di era yang serba cepat dan serba back-to-back. Dari pagi sampai malam, ritme hidup kita digas terus tanpa henti; mau itu back-to-back meeting atau back-to-back workout.
Kita kehilangan kemampuan untuk slow down (memperlambat diri). Banyak orang merasa bersalah kalau mereka mengambil jeda sebentar di siang hari.
Ada narasi bahwa kalau berhenti sebentar, kita bakal ketinggalan (FOMO). Lalu pas malam hari datang, mereka merasa butuh me time sebagai bentuk penghargaan diri setelah kerja seharian. Tapi celakanya, me time yang mereka lakukan di malam hari—seperti main game atau scrolling medsos—sifatnya masih menstimulasi otak (ngegas).
Padahal, tidur yang berkualitas memerlukan proses yang namanya unwinding atau periode relaksasi untuk memberi sinyal ke tubuh bahwa “it’s safe to rest”. Karena sepanjang hari berada dalam survival mode dan otak terus distimulasi, tubuh tidak sempat melambat, sehingga sistem saraf kita nggak siap untuk menerima kedatangan tidur.
Tidur itu sebenarnya bakat alami yang dimiliki semua makhluk hidup. Tidur nggak bisa dikejar, tidur hanya bisa dipersiapkan melalui praktik sleep hygiene yang konsisten: memastikan durasinya cukup, minim distraksi, dan terasa memulihkan pas bangun.

Pak Vishal sendiri pernah ngalamin gangguan tidur yang parah nggak sih?
Pernah banget. Saya pernah kena insomnia di tahun 2017 selama satu tahun penuh. Bayangin, tiap malam saya cuma bisa tidur 3–4 jam.
Masa-masa itu gelap banget. Anak pertama saya baru lahir akhir 2016 dan kena kolik, jadi tidurnya susah. Di sisi lain, saya sebagai ayah kena insomnia. Karena energi habis terkuras, secara emosional, saya jadi absent. Pas si kecil menangis, saya nggak punya energi batin untuk mengasuh, cuma bisa panggil istri. Saya sama istri jadi sering cekcok, gampang tantrum, defensif, serta sering mengkritik karena kami sama-sama lelah dan nggak bisa meregulasi emosi. Istri dan keluarga saya yang akhrinya menerima dampak buruk dari insomnia saat itu. Saya bahkan sempat mengalami sedikit halusinasi.
Beruntung di tahun 2018, insomnia saya bisa sembuh. Dari pengalaman kelam itulah saya makin paham bahwa gangguan tidur itu dampaknya merusak ke seluruh aspek kehidupan. Sekarang pun sebagai sleep coach, kalau ada pemicu stres yang kencang, sesekali tidurnya bisa berantakan. Tapi bedanya, karena sekarang saya paham mekanisme cara kerja tidur, saya nggak overthinking lagi. Cukup menjalankan praktik sleep hygiene dan membiarkan tidur itu datang sendiri.
***
Mendengar Vishal bercerita tentang insomnia, saya sempat berpikir bahwa perjalanan ini dimulai ketika ia belajar soal tidur. Ternyata tidak.
Semakin jauh kami berbincang, semakin terasa bahwa akar dari banyak hal yang ia kerjakan hari ini justru berawal jauh sebelum itu, dari seorang anak kecil yang tumbuh dengan rasa kesepian, pernah menjadi korban perundungan, dan lama belajar memahami emosinya sendiri.
***
Kalau kita mundur jauh ke belakang, seperti apa sih sosok Vishal Dasani kecil dan rumah tempat Bapak tumbuh?
Wah, masa kecil itu berandal total, Rizka, hahaha. Saya lahir tahun 1985. Dulu pas kelas 2 SD, kakak saya dikirim orang tua untuk sekolah di Jakarta. Jadi praktis di Jogja tuh saya seperti anak tunggal. Orang tua juga sibuk banget dengan usaha mereka.
Saya sempat menyalahkan mereka karena nggak punya waktu buat saya, tapi setelah sekarang jadi orang tua sendiri, saya baru bisa memahami alasan mereka saat itu. Dulu, demi mendapatkan perhatian orang tua, saya melakukan segala cara nakal: mencuri uang, ngajak berantem, sampai mukulin ART di rumah. Saya juga benci banget belajar. Kalau dipanggilkan guru les ke rumah jam 6 sore, saya bakal alesan ke dapur makan mi goreng, terus pas naik ke atas, saya pura-pura sakit perut di kamar mandi sampai jam lesnya selesai. Ini nggak baik ditiru, ya.
Sifat nakal itu baru berubah total pas umur 14 tahun saat dikirim orang tua sekolah ke India selama 5 tahun. Di India, lingkungan sekolahnya keras banget. Karena saya bertubuh gemuk dan sempat jadi korban bullying, survival strategy saat itu cuma satu: saya harus jadi anak pintar. Saya belajar mati-matian, apalagi pas tes masuk bahasa Inggris cuma dapat nilai 7 dari 100. Nilai 7 itu menampar ego, bikin nggak naik kelas, dan memaksa saya belajar bertahan hidup. Dari situlah sisi rajin akademis ini baru keluar.
Trauma bullying seperti apa yang paling berbekas dari masa kecil Pak Vishal?
Dulu pas kelas 3 SD di Jogja, pas mau keluar halaman sekolah, saya pernah dihadang sama dua orang teman seangkatan. Tanpa alasan yang jelas, pipi dihantam. Saya nahan nangis sambil jalan pulang. Karena kakak saya di Jakarta dan orang tua sibuk, kenangan itu hanya bisa dipendam sendiri. Berbulan-bulan setelahnya, setiap kali mau pulang sekolah, saya selalu cemas.
Dua anak itu di mata saya kayak karakter Giant dan Suneo, dan saya adalah Nobita-nya yang selalu berharap Doraemon akan datang menolong.
Lalu pas SMP, saya juga sering diejek di kamar mandi pas ganti baju olahraga karena punya bulu tangan yang lebat. Tapi pas dipindah ke India malah diejek karena bulu ini dianggap terlalu sedikit dibanding anak-anak sana.
Pengalaman-pengalaman buruk itu memicu rasa minder yang panjang. Dulu saya nggak ceritakan ke siapa-siapa karena mikir orang tua udah stres dengan urusannya. Tapi belakangan, begitu bertemu dengan istri yang sangat sensitif, dia mengajari saya cara mengekspresikan emosi tanpa harus meledak-ledak.

Sekarang setelah menjadi seorang ayah, nilai pengasuhan apa yang paling Bapak jaga agar tidak mengulangi masa lalu?
Istri adalah tempat saya belajar. Dulu kalau saya mau mengungkapkan perasaan, bawaannya pasti lewat marah-marah karena nggak tau cara lain. Istri ngajarin untuk jujur pada perasaan tanpa perlu marah-marah.
Dinamika itu yang sekarang kami turunkan ke anak. Kepada anak, kami selalu bilang:
“Kalau kamu merasa marah, ya udah marah aja, perasaan itu valid kok. Tapi setelah itu, kasih tau Papa dan Mama kenapa kamu marah dan apa yang bisa kita bantu. Kalau kamu mau nangis, ya nangis aja. Air mata itu privilege untuk meluapkan emosi.”
Kami mengajarkan anak untuk feel and express, jangan feel and suppress. Dan yang paling penting, kami tidak pernah memposisikan diri sebagai orang tua yang sempurna. Kalau kami melakukan kesalahan, kami akan jujur mengaku salah di depan anak.
Sebagai pertanyaan penutup, dari seluruh perjalanan hidup naik-turun yang sudah diproses sampai hari ini, apa satu hal yang paling kamu syukuri?
Saya bersyukur dengan seluruh hal baik dan hal buruk yang pernah dilakukan di masa lalu. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada masa laluku. No regrets. Karena tanpa keberadaan semua patahan, kegagalan, nakalnya masa kecil, hingga insomnia dulu, saya nggak akan berdiri sebagai Vishal Dasani yang ada di sini hari ini.
Semua kejadian itu adalah bahan bakar yang membentuk diriku sekarang, dan saya berharap masa depan bersama keluarga kecil saya bisa jauh lebih cerah.
***
Saya jadi bertanya pada diri sendiri. Sudah berapa lama kita menganggap istirahat sebagai hadiah, bukan kebutuhan?
Barangkali itu yang sedang diingatkan Vishal. Bahwa tubuh tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Ia hanya ingin didengar sebelum terpaksa berteriak lewat kelelahan, stres, atau tidur yang tak lagi nyenyak.
Sesekali, melambatlah. Bisa jadi, itu justru cara paling baik untuk kembali pulang pada diri sendiri.