Di Balik The Sounds Project: Gerhana Banyubiru dan Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Selama hal itu baik menurut gue, gue nyaman ngejalaninnya, dan gue yakin itu bisa punya impact ke banyak orang, ya gue jalanin aja.

Di Balik The Sounds Project: Gerhana Banyubiru dan Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Selama hal itu baik menurut gue, gue nyaman ngejalaninnya, dan gue yakin itu bisa punya impact ke banyak orang, ya gue jalanin aja.

24/06/2026

Saya tidak benar-benar “bertemu” Ghana Banyubiru dalam arti duduk satu meja dan saling menatap lama. Percakapan kami terjadi lewat layar. Tapi anehnya, ada sesuatu dari cara Ghana bercerita yang membuat jarak itu seperti menghilang. Ia tidak terdengar seperti sedang menyusun jawaban yang rapi, melainkan seperti seseorang yang sudah lama berjalan dengan keyakinannya sendiri.

Bagi Gerhana Banyubiru—atau Ghana, sebagaimana ia lebih sering disapa—keyakinan bukan lahir dari kepastian, melainkan dari keberanian untuk tetap melangkah di tengah hal yang belum sepenuhnya bisa ia pastikan.

Simak percakapan kami dengan Ghana dalam Berbagi Perspektif.

***

Tahun ini menuju gelaran The Sounds Project (TSP) yang ke-9. Gimana sih rasanya, masih ada perasaan deg-degan atau udah ngerasa biasa aja karena hampir tiap tahun dilewati?

Gue sendiri ngelewatin ini setiap tahun dari 2015, ya. Maksudnya, bikin festival TSP itu hampir tiap tahun, terus sempat ngelewatin pandemi Covid juga. Nah, pandemi selesai, size festivalnya malah makin besar dan pengunjungnya makin banyak.

Sampai detik ini pun, jujur excited-nya masih sama kok, dan masih deg-degan juga. Buat gue yang punya pengalaman 11 tahun bikin festival, hal ini tuh masih sulit. Ada aja problem yang berbeda setiap tahunnya. Apalagi seiring dengan makin besarnya festival, tentunya responsibility-nya makin besar juga kan buat penonton, partner, artis, sampai sponsor. Jadi, makin ke sini ngerasanya bukan makin tenang, tapi malah makin banyak tanggung jawabnya. 

Tapi ya itulah, dijalani aja lah.

Kalau sedikit menengok ke belakang, waktu kecil pernah kepikiran nggak sih bakal jadi orang di balik festival musik tahunan sekelas TSP ini?

Nggak pernah kebayang sama sekali. Waktu kecil juga nggak ada cita-cita jadi promotor atau bikin festival. Tapi dari kecil gue memang udah dekat sama musik karena selalu diperdengarkan musik di rumah.

Sampai akhirnya waktu kuliah, gue ikut organisasi di BEM dan mulai bikin konser-konser kampus. Dari situ gue sadar kalau di musik kita nggak harus jadi musisi yang ada di depan layar. Di balik layar pun impact-nya bisa sama besarnya.

Gue percaya musik bisa bring people together. Dari yang awalnya cuma bikin konser kecil-kecilan waktu kuliah, akhirnya berkembang sampai hari ini.

Dulu gue sering nonton video konser di YouTube karena belum mampu nonton langsung. Dari situ gue melihat kalau musik punya impact yang besar banget ke society. Akhirnya gue punya mimpi untuk bikin festival yang bisa menjangkau banyak orang, mempertemukan mereka di satu tempat, sekaligus memberi ruang bagi musisi baru dan orang-orang yang ingin belajar bersama.

Karena buat gue, bikin festival bukan cuma soal panggung dan musik, tapi gimana bikin banyak orang terlibat dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar.

Waktu kecil dulu, emangnya jenis musik kayak gimana sih yang sering lo dengerin, Mas?

Musik pertama kali gue kenal dari orang tua dan kakak. Kebanyakan band luar negeri seperti Oasis, The Beatles, dan musik-musik era 80-an sampai 2000-an. Dari situ gue mulai suka musik, lalu pelan-pelan ngulik band lokal lainnya.

Waktu mulai fokus bikin konser sendiri di tahun 2015, gue sadar bahwa bikin festival bukan soal selera musik pribadi. Gue harus terus ngulik dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan market. Karena yang terpenting adalah gimana sebuah konser bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin orang.

Buat gue, musik nggak bisa dikotak-kotakkan. Semua musik punya pendengarnya sendiri, dan nggak ada musik yang jelek atau bagus selama produksinya berkualitas.

Makanya di TSP, gue nggak pernah membatasi genre tertentu. Kalau bisa mengundang band yang gue suka sejak kecil seperti Noah atau Dewa, tentu ada kepuasan personal. Tapi yang selalu gue prioritaskan tetap audience terlebih dahulu, baru selera pribadi.

Boleh ceritain nggak gimana ide awal tercetusnya TSP pas kuliah dulu? 

Lucunya, jurusan kuliah gue dulu IT, yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama profesi gue sekarang. Tapi waktu kuliah di Gunadarma, gue aktif di BEM dan bertanggung jawab bikin konser-konser kampus. Dari tahun 2013 kami mulai bikin acara kecil-kecilan. Menjelang lulus di tahun 2015, gue dan teman-teman pengin bikin sesuatu yang lebih besar sebagai persembahan terakhir, dan untuk pertama kalinya mencoba membuat konser di luar kampus.

Di umur segitu, gue sudah percaya kalau suatu hari bisa bikin festival besar. Gue juga sadar kalau kayaknya gue nggak akan bekerja di jalur IT. Gue pengin berkarier di industri musik.

Dari yang awalnya cuma iseng-iseng bikin acara kampus, akhirnya The Sounds Project terus berjalan sampai sekarang. Tantangan terbesarnya adalah mengubah acara yang awalnya berbasis komunitas kampus menjadi festival yang bisa dinikmati semua orang.

Karena nggak punya modal besar, semuanya dibangun bertahap. Dari satu panggung, lalu dua panggung, sampai sekarang TSP memiliki tujuh panggung dan lebih dari 120 musisi dari dalam maupun luar negeri.

Ini proses yang panjang. Gue nggak pernah membayangkan akan menjalaninya lebih dari satu dekade. Tapi sekarang, bikin festival setiap tahun udah jadi bagian dari hidup gue. Kalau nggak bikin, rasanya kayak ada yang kurang.

Membangun TSP dari nol, apa hal paling berat yang pernah lo rasain? 

Kegagalan tentu banyak, apalagi gue belajar bikin event secara otodidak. Dulu gue nggak ngerti produksi, nggak tau cara cari sponsor, bahkan belum paham gimana membangun sebuah festival sebagai brand. Tantangannya banyak, karena bikin festival memang nggak ada sekolahnya.

Tapi gue selalu balik ke alasan awal kenapa memulainya, yaitu karena suka musik dan ingin bekerja di bidang yang gue suka, sekaligus bisa punya impact buat orang lain. Itu yang bikin gue nyaman menjalaninya sampai sekarang.

Dari awal, prinsip gue cuma satu: suatu saat festival ini akan besar. Jadi kalau sekarang harus susah dulu, ya dijalani aja. Gue belajar membangun relasi dengan vendor, artis, media, dan banyak hal lainnya dari nol.

Untungnya, banyak teman yang ikut membantu. Mungkin karena niatnya baik, selalu ada dukungan dari sekitar. Makanya sampai sekarang TSP tetap membuka ruang bagi mahasiswa dan anak muda untuk belajar lewat berbagai program volunteer. Karena gue tau rasanya memulai tanpa pengalaman, tanpa relasi, dan tanpa tau harus mulai dari mana.

Kalau diingat-ingat lagi, apa keputusan paling nekat yang pernah diambil demi menjaga TSP tetap hidup?

Salah satu momen paling nekat sekaligus paling berat adalah saat pandemi COVID-19. Waktu itu festival tinggal sebulan lagi menuju hari-H, tapi akhirnya harus dibatalkan. Bahkan pelaku industri yang lebih senior pun sama-sama nggak tau harus ngapain.

Di saat yang sama, tim juga berkurang karena praktis nggak ada pekerjaan. Tapi gue selalu percaya kalau di setiap kesulitan pasti ada silver lining.

Karena TSP nggak mungkin berjalan sebagai festival besar, gue akhirnya membuat IP baru bernama Music First, sebuah konser intim dengan protokol kesehatan ketat dan kapasitas terbatas. Awalnya lahir sebagai cara untuk bertahan, tapi ternyata masih berjalan sampai sekarang.

Selama pandemi, fokus gue sederhana: bertahan satu tahun demi satu tahun. Tahun 2020 gue berpikir gimana caranya bisa sampai ke 2021. Masuk 2021, ternyata konser masih belum bisa jalan, jadi gue cari cara bertahan sampai 2022.

Gue nggak pernah berpikir terlalu jauh. Masuk ke survival mode aja. Karena saat itu sebagian besar tantangan harus gue hadapi sendiri, hanya ditemani beberapa orang yang masih bertahan bersama gue.

Gimana caranya lo meyakinkan penonton yang udah telanjur beli tiket, orang-orang sekitar, bahkan meyakinkan diri lo sendiri di masa sulit itu?

Gue nggak tau ya, mungkin karena dari awal gue dibentuk di lingkungan yang emang nggak penuh resource. Dari awal emang nggak ada modalnya. Jadi pas pandemi datang dan resource-nya nol, insting bertahan hidup gue otomatis keluar.

TSP ini dibentuk secara organik, bukan festival modal gede yang disokong investor dari awal. Ini murni dibentuk karena kecintaan gue terhadap musik. Gimana caranya gue memperjuangkan hal yang menurut gue bener dan gue yakin bakal berhasil suatu saat nanti. Pure pakai passion aja. Cara meyakinkannya waktu itu ya dengan nggak terlalu mikir nanti TSP bakal jadi segede apa, yang penting dipikirin gimana caranya bertahan dulu aja.

Nah, berkat kesabaran gue dan beberapa tim saat itu, pas kita bikin lagi TSP di tahun 2022, boom! Yang datang langsung rame banget. Bener-bener di luar ekspektasi kita, sampai sekarang akhirnya festival ini bisa jadi salah satu destinasi tahunan buat para penonton musik. 

Intinya, kalau hidup lagi terasa sulit, ingat aja tujuan awal kita. Tujuan awal gue bukan yang muluk-muluk pengin bikin festival raksasa, tapi lebih ke value ketika gue pengin berkarya dan bikin sesuatu. Jadi apa pun kondisinya, gue bakal tetap bertahan untuk terus menghasilkan karya. Namanya juga industri kreatif, kita dituntut buat putar otak terus.

Lo percaya, nggak, kalau festival musik itu dampaknya nggak cuma sekadar tempat hiburan (entertainment) aja?

Festival musik seharusnya nggak cuma jadi tempat hiburan untuk nonton band yang kita suka. Kalau melihat festival-festival besar di luar negeri, impact-nya bisa sangat luas, bahkan menjadi peristiwa budaya dan penggerak ekonomi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari sponsor, artis, vendor, hingga komunitas.

Berbeda dengan konser tunggal, festival harus punya value yang kuat. Buat TSP, value itu berangkat dari akar kami sebagai acara kampus yang tumbuh menjadi festival besar. Karena itu, meskipun sekarang sudah berkembang, kami tetap melibatkan mahasiswa dan komunitas lewat berbagai program mentoring serta Campus & Community Lounge.

Gue percaya sesuatu yang besar selalu dimulai dari hal-hal kecil. Makanya sampai sekarang gue tetap ingin memberi ruang bagi komunitas-komunitas kecil untuk berkembang dan mendapatkan kesempatan yang dulu nggak gue miliki saat merintis.

Karena di balik kegembiraan yang terlihat di depan panggung, ada kerja keras banyak orang yang mendedikasikan waktu dan tenaganya agar festival ini bisa berjalan dan membahagiakan banyak orang.

Ada, nggak, sih, satu lagu atau musisi yang pernah nemenin seorang Ghana lewatin fase-fase sulit dalam hidup?

Banyak. Kalau musisi lokal, gue suka banget sama Chrisye karena dari kecil memang sering diperdengarkan orang tua. Kalau musisi luar negeri, gue tumbuh dengan Oasis dan The Beatles.

Yang menarik, mereka semua datang dari kota-kota kecil dan latar belakang kelas pekerja. Oasis dari Manchester, The Beatles dari Liverpool, tapi musik mereka bisa dikenal di seluruh dunia. Buat gue, itu bukti bahwa musik punya impact yang luar biasa besar.

Perjalanan mereka terasa dekat dengan hidup gue sendiri. Dulu, waktu kuliah, gue juga cuma punya mimpi sederhana: suatu saat festival yang gue bikin bisa punya impact yang besar. Dan ternyata perlahan mimpi itu bisa terwujud.

Dari mereka, gue belajar bahwa untuk membangun sesuatu yang besar, kita nggak harus punya semua resource atau koneksi sejak awal. Kalau dijalani dengan tulus, hal-hal itu akan datang seiring perjalanan. Gue percaya musik bisa membuat seseorang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Sebuah mimpi yang terus membesar biasanya menuntut pengorbanan. Apa sih hal yang paling banyak berubah atau harus dikorbankan sejak TSP jadi festival semasif sekarang?

Yang paling terasa tentu waktu untuk keluarga dan teman-teman jadi jauh berkurang. Sebagian besar waktu gue habis untuk kerja dan istirahat. Tapi itu bukan sesuatu yang gue sesali. Gue rasa hampir semua entrepreneur mengalami hal yang sama. Waktu pribadi memang lebih sedikit, tapi dari awal tujuan gue juga bukan cuma untuk diri sendiri. Gue selalu berpikir bagaimana caranya bisa memberikan impact ke sebanyak mungkin orang.

Ketika TSP bisa mendatangkan puluhan ribu penonton, gue merasa impact yang gue dan tim berikan juga semakin besar. Karena itu, beberapa kepentingan pribadi sering kali harus dikesampingkan terlebih dahulu.

Untungnya, keluarga sudah memahami kesibukan gue. Teman-teman gue juga memang nggak banyak, tapi setiap pertemuan jadi terasa lebih bermakna. Buat gue, itu udah lebih dari cukup.

Kalau lo punya kesempatan buat kembali dan nemuin sosok Ghana di masa lalu, ada pesan yang pengin lo sampaikan ke dia?

Gue nggak akan ngomong banyak. Paling cuma bilang, “Apa yang lo lakuin dari dulu tuh udah bener kok, karena impact-nya berasa sampai sekarang.”

Waktu awal merintis, banyak orang meragukan jalan yang gue pilih. Bahkan orang tua juga sempat melarang karena mereka ingin gue menempuh jalur yang lebih aman. Dulu, musik masih sering dianggap sekadar hobi, bukan profesi yang bisa dijalani dengan serius.

Tapi gue bersyukur tetap bertahan. Karena kalau dulu gue menyerah atau terlalu banyak mendengarkan omongan orang, mungkin TSP nggak akan ada sampai hari ini.

Buat gue, kalau kita percaya sesuatu itu baik dan positif, ya jalanin aja. Kadang yang kita butuhkan bukan jalan yang lebih mudah, tapi keyakinan untuk terus melangkah.

***

Menurut lo yang cukup lama berkecimpung di ekosistem ini, ada, nggak, sih, festival musik yang ideal?

Menurut gue, festival musik itu sangat personal, layaknya manusia yang punya karakter dan sejarahnya masing-masing. Setiap festival punya identitas yang berbeda, dan identitas itu biasanya sangat dipengaruhi oleh founder-nya.

Di TSP misalnya, meskipun sekarang udah berkembang besar, kami tetap berusaha menjaga nilai organik yang berangkat dari akar sebagai acara kampus. Energi anak mudanya masih terasa karena memang itu bagian dari identitas kami.

Jadi kalau bicara soal festival yang ideal, secara teknis mungkin standarnya jelas: antrean tertata, sound system bagus, dan fasilitas memadai. Tapi fondasi sebuah festival sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh hal-hal yang nggak kasatmata, seperti value, pengalaman, dan rasa yang ingin dibangun.

Karena itu, gue nggak percaya ada festival yang benar-benar ideal untuk semua orang. Yang bisa dilakukan adalah terus mendengarkan audience, memperbaiki kekurangan, dan berusaha menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.

Buat gue, festival itu kayak sebuah karya aja. Nggak akan pernah sempurna, dan justru di situlah letak keindahannya.

Boleh diceritain nggak apa tema TSP tahun ini, dan kenapa penonton harus datang lagi kali ini?

Tema The Sounds Project tahun ini adalah “Beyond Memories”, yang ingin mengangkat berbagai kenangan dan core memory dari penonton maupun semua yang terlibat di dalamnya.

Banyak cerita lahir dari TSP, ada yang udah datang sejak awal festival, ada yang bertemu pasangan di sini lalu menikah dan kini tetap kembali setiap tahun, sampai cerita dari volunteer yang berkembang jadi bagian inti tim. Bahkan musisi seperti The Adams atau Hindia juga tumbuh bersama TSP, dari panggung kecil hingga kini jadi panggung utama.

Karena itu, TSP bukan sekadar festival musik, tapi ruang yang melahirkan dan menyimpan memori yang bisa ikut membentuk perjalanan hidup seseorang. Penonton harus datang karena TSP punya karakter yang kuat; dari venue, activity, sampai kolaborasi komunitas yang berbeda dari festival lain. Experience-nya yang jadi pembeda, bukan hanya line-up. 

Jadi ini bukan cuma soal nonton musik, tapi soal pulang dengan pengalaman yang bisa jadi kenangan jangka panjang.

Dari seluruh perjalanan hidup lo sampai sekarang, apa sih satu hal yang paling disyukuri dalam hidup?

Satu hal yang paling gue syukuri adalah bisa membuktikan bahwa hal yang dulu dianggap nggak menjanjikan ternyata bisa jadi nyata dan berdampak.

Dulu banyak orang bilang kerja di industri musik itu nggak punya masa depan, tapi gue berhasil jalanin itu dan membuktikan sebaliknya. Gue jadi punya pegangan hidup: selama gue yakin, nyaman, dan merasa itu bisa bermanfaat buat orang lain, gue akan jalanin tanpa terlalu banyak dipengaruhi opini orang lain.

Di tengah era yang penuh perbandingan seperti sekarang, gue bersyukur punya prinsip itu karena bisa tetap konsisten dengan pilihan yang dulu sempat diragukan banyak orang. Di luar urusan rutin bikin festival tiap tahun, gue juga bersyukur bisa berbagi ilmu dan bantu anak-anak muda belajar bikin festival musik. Itu yang bikin gue tetap semangat, karena gue merasa apa yang gue lakukan punya dampak buat orang lain.

***

Ghana kembali ke nada yang sama sejak awal: tenang, tidak meyakinkan siapa pun, tapi juga tidak ragu dengan dirinya sendiri.

Mungkin memang tidak semua yang besar dimulai dari keyakinan yang utuh. Sebagian justru tumbuh dari keberanian untuk tetap berjalan, bahkan ketika yang terlihat hanya samar.

Rizka Oktivani

Suka nulis ajah sih.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga