Foto: AFP/CHOO YOUN-KONG
I know that you’re not ready to see it goes down
But don’t worry ’cause it won’t forever go
Ada lagu yang cocok menjadi backsound perjalanan, diputar sepanjang jalan untuk menemani kendaraan melaju, lalu selesai begitu saja ketika perjalanan usai. Namun, ada juga lagu yang dapat perlahan masuk menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri. Bukan sekadar diputar sebagai soundtrack, melainkan ikut hidup dalam cara-cara kita memandang kota, ingatan, bahkan manusia-manusia yang ditemui sepanjang perjalanan itu.
Bagiku “Sunshine” milik The Panturas masuk dalam kategori yang kedua.
Mungkin aku sudah lupa kapan momen pertama kalinya mendengarkan lagu tersebut, tampaknya sudah beberapa tahun yang lalu dan entah kapan pastinya. Aku juga pernah bertemu mereka langsung dalam sebuah acara musik tahun lalu, namun karena terlambat datang, aku belum berkesempatan memenuhi daftar keinginanku untuk mendengarkan lagu itu secara live.
Pada awalnya aku mengira-ngira lagu ini adalah sebuah pengantar yang hangat, dengan alunan yang manis, aku ingin sekali membahas instrumen dan melodinya yang indah. Tapi entahlah aku tak begitu berbakat mengulik musik, intinya lagu ini selalu masuk ke daftar putarku karena aku sangat menyukainya.
Semakin lagu itu terputar, seperti ada kesedihan yang disembunyikan di balik maknanya. Seakan “Sunshine” yang dimaksud bukan tentang cahaya matahari saja.
Melainkan tentang cara manusia bertahan hidup setelah kehilangan sesuatu yang tak mungkin kembali karena waktunya telah habis, dibalut harap-harap masih dapat bertemu kembali.
Lagu ini berhubungan dengan tragedi 1998. Tragedi kelam dalam sejarah negeri ini dan kehilangan-kehilangan yang terjadi meliputinya. Walaupun secara eksplisit The Panturas tidak sedang terang-terangan menuliskan lagu bertema demonstrasi atau gejolak politik yang meromantisasi perjuangan.
Ia mengangkat perspektif lain, berangkat tentang ingatan kegelapan dan satu-satunya cahaya, ibarat proses berduka dan nostalgia yang muncul dalam perjalanan, seseorang yang masih ingin menghabiskan waktunya sedikit lebih lama lagi bersama orang yang dicintai.
Lagu ini bagai menyembunyikan maknanya yang pedih di balik alunan surf rock yang nyaman didengarkan. Seperti kota yang bisa saja menyimpan luka di balik keramaian dan rutinitas. Di balik itu semua sebenarnya ada yang hilang atau diam-diam dihilangkan, ada ingatan yang tak lagi terpelihara oleh semua orang, padahal di bagian yang lain masih ada yang mencari keadilan.
Sampai Akhirnya Perjalanan Itu Dimulai
Aku sering kali memikirkan makna-makna yang hidup di balik musik yang kudengarkan, hingga beberapa waktu lalu ada ajakan dari temanku, yakni Tiara, untuk turut serta dalam kegiatan Napak Reformasi Mei 1998 bersama Komnas Perempuan di kawasan Jakarta.
Perjalanan seperti ini rasanya penting bagi generasi sepertiku yang bahkan belum lahir saat peristiwa-peristiwa itu meletus, generasi yang saat ini mewarisi demokrasi pasca-Reformasi, tapi tidak ikut membayar harganya.
Sebagaimana yang seharusnya diketahui, Mei menyimpan luka-luka dalam sejarah panjang negeri ini. Tepat dua puluh delapan tahun yang lalu, Reformasi terjadi, dampaknya masih dirasakan hari ini namun banyak yang pelan-pelan melupakannya bahkan menyangkalnya.
Merawat Ingatan, Menolak Penyangkalan
Hari itu Jakarta terasa begitu padat sama seperti biasanya, aku datang sedikit terlambat karena terjebak kemacetan, aku datang ke titik kumpul pertama yang dikunjungi.
Gedung Komnas perempuan, lembaga negara independen pertama yang didirikan setelah Reformasi sebagai respons langsung terhadap kekerasan seksual massal dalam Tragedi Mei 1998.
Ada kalimat-kalimat yang terus melekat saat pembukaan pagi itu, negara harus mengakui bahwa di masa lalu pernah melakukan kesalahan, dan dengan pengakuan itu maka dapat lahir janji korektif agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Di tengah itu, aku sadar bahwa politik pelupaan yang marak terjadi saat ini tidak akan pernah bisa menghapus sejarah yang kelam yang terjadi, karena ia berdiri di atas penyangkalan terhadap sesuatu yang pernah benar-benar terjadi.
Mengingat menjadi langkah awal. Bukan untuk larut dalam duka, tapi sebagai bentuk tanggung jawab agar tidak terulang. Karena di balik setiap peristiwa, ada penderitaan yang nyata, ada korban yang sungguh ada.
Dan napak tilas ini adalah salah satu upaya merawat ingatan itu.
Melintasi Jakarta: Kota yang Pernah Menjadi Saksi
Bus mulai diberangkatkan dari titik pertama. Ada beberapa tujuan yang akan dikunjungi, sepanjang perjalanan Jakarta rasanya sudah cukup aku kenali, namun tampaknya masih banyak hal tersembunyi yang belum aku ketahui.
Dari jendela aku bisa melihat kendaraan ini melaju seperti melewati Taman Suropati, jalan-jalan yang sebenarnya sudah biasa kulewati. Tapi ada nuansa berbeda hari itu, di balik jalan yang aku hafal, ada cerita-cerita masa lalu yang belum pernah aku tangkap, banyak narasi sejarah yang baru aku dengar ceritanya.
Di dalam bus yang ramai itu, aku duduk bersama para pelaku sejarah dan penyintas Mei 1998, saksi yang mengetahui persis kekerasan-kekerasan yang terjadi di masa lalu. Aneh rasanya masih ada yang menyangkal kalau itu semua pernah terjadi, entah alibi apa yang digunakan oleh mereka yang mencoba menutupi fakta sebenarnya, padahal orang-orang yang mengalaminya masih hidup.
Bus berjalan melewati Tugu Tani. Dulu, jalur ini menjadi salah satu akses mahasiswa dan masyarakat dalam mobilitas demonstrasi. Di seberang lampu merah yang terlihat dari sisi kanan jendela, aparat pernah menghadang dengan kawat-kawat berduri. Sepanjang jalan menuju Istana Negara juga terlewati, bangunan yang jadi saksi runtuhnya Orde Baru dan lengsernya Soeharto.
Glodok: Api, Identitas, dan Jejak yang Dipaksa Diam
Perjalanan kemudian menuju ke kawasan Glodok. Konon kawasan ini menjadi salah satu titik paling mencekam saat itu. Sebagai pusat perniagaan dan perumahan penduduk yang kebanyakan dihuni warga etnis Tionghoa, banyak toko dan pusat perbelanjaan dijarah dan dibakar saat kerusuhan Mei 1998 pecah.
Korban kekerasan seksual juga banyak ditemukan di sekitar sini, dalam setiap konflik, perempuan kerap menjadi korban karena berada dalam posisi rentan.
Bus kemudian sampai ke Cagar Budaya Candra Naya. Ornamen-ornamen arsitektur khas Tionghoa masih berdiri, lampion merah tergantung di beberapa sisi.
Tapi anehnya gedung penuh sejarah ini letaknya terhimpit di antara gedung-gedung tinggi dan hotel modern. Padahal sebelum polusi memenuhi udara seperti hari ini, masyarakat Tionghoa hidup dan tumbuh di kawasan ini dengan identitas yang perlahan dipaksa hilang.
Ada masa ketika nama-nama Tionghoa harus diganti, bahasa dan budaya dibatasi, bahkan perayaan dilakukan diam-diam. Identitas seolah menjadi sesuatu yang harus disembunyikan agar tetap aman. Segregasi membuat mereka hidup dengan jarak dan stigma yang diwariskan bertahun-tahun lamanya.
Perjalanan menuju destinasi selanjutnya memperlihatkan hal lain yang tak kalah membekas. Sepanjang jalan di Glodok, pagar-pagar tinggi dan jendela dengan jeruji teralis besi masih terlihat di banyak bangunan.
Beberapa luka ternyata diwariskan oleh kota hingga hari ini. Jeruji itu bukan sekadar bagian dari bangunan, tetapi simbol ketakutan.
Tragedi Trisakti: Mereka yang Tak Pernah Bermimpi Menjadi Martir
Tujuan selanjutnya adalah Universitas Trisakti yang kerap disebut sebagai Kampus Reformasi.
Bus mulai terparkir. Saat turun, terasa begitu panas dan terik, keadaan kampus itu cenderung sepi dari aktivitas, hanya ada mobil-mobil dan motor terpakir, tak banyak juga kendaraan yang berlalu lalang. Oleh karena itu sulit dibayangkan kalau pada akhir tahun 1990-an, situasi mencekam pernah mengepung lokasi ini saat melakukan aksi damai.
Di sudut kawasan kampus berdiri monumen untuk empat mahasiswa yang gugur dalam Tragedi Trisakti. Ada simbol-simbol bekas tembakan di monumen itu, mengingatkan bahwa mereka benar-benar ditembak di tempat tersebut.
Lalu pandanganku tertuju pada jalan layang di seberang kampus. Konon dahulu aparat memenuhi, dahulu aparat memenuhi flyover itu. Tembakan diarahkan dari atas, bahkan ketika mahasiswa sebenarnya sudah masuk ke area kampus yang seharusnya aman dan steril.
Selain penembakan, kami juga membicarakan penculikan aktivis sebagai cara meredam suara-suara kritis yang mulai meluas. Ada 23 orang yang diculik. Sebagian kembali, satu ditemukan meninggal, dan hingga hari ini masih ada 13 orang yang hilang.
Dan jumlah itu bukan sekadar angka. Ada nama, wajah, dan hidup yang berhenti di tengah jalan.
Di depan monumen, seorang aktivis berbicara atas nama kawan-kawannya yang gugur. Ia mengatakan bahwa tantangan terbesar bukan hanya melawan rezim, tapi menjaga hati agar tidak berbalik arah setelah perjuangan panjang.
Aku kemudian memasuki Museum Tragedi 12 Mei 1998 di dalam kampus. Ada ruang yang diabadikan dekat lokasi penembakan. Di sana, aku bisa membaca siapa mereka yang gugur. Empat orang itu punya nama, punya cerita hidup. Mereka lahir dalam rentang waktu yang berdekatan dengan tahun lahir kedua orang tuaku, tapi hidupnya mendadak berhenti saat seusiaku.
Dari mereka yang gugur di usia muda, aku membayangkan betapa besar harap-harap yang mungkin masih dimiliki, seperti agar dapat lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang baik, barangkali ada tenggat tugas akhir yang sedang dipikirkan. Tapi kondisi negara tidak dapat membuat mereka membayangkan masa depan seperti anak muda seumurannya.
Dan yang pasti, mereka tak pernah bemimpi menjadi martir.
Seketika aku merasa mereka tak terasa seperti orang yang jauh dalam narasi-narasi buku sejarah, aku merasa dapat melihat mereka dengan dekat. Seolah teman seangkatanku yang duduk bersebelahan di kursi kelas.
Jika kami dalam garis hidup yang sama, mungkin mereka bisa saja menjadi temanku berdiskusi di kelas, satu kepanitiaan dalam acara kampus, atau berpapasan di warung kopi sekitar. Sama-sama berpacu dengan tuntutan hidup, hanya saja mereka lebih dulu dihabisi oleh negara.
Seorang Ibu yang Anaknya Tak Pernah Pulang
Perjalanan melalui tol dalam kota menuju kawasan perumahan korban kerusuhan Mei ‘98 di Jatinegara Kaum terasa getir. Dalam satu bus itu, aku duduk bersama seorang ibu korban yang menceritakan anaknya yang berusia 14 tahun meninggal terbakar dalam tragedi Mall Yogya Plaza Klender. Jika masih hidup, usianya hari ini mungkin sudah sekitar 42 tahun.
Korban-korban tragedi nahas itu dimakamkan di beberapa tempat seperti TPU Pondok Ranggon dan Pondok Kelapa. Banyak dari mereka bahkan tidak bisa dikenali lagi karena tubuhnya hangus terbakar.
Setelah puluhan tahun berlalu, para ibu korban masih harus hidup dengan ketakutan lain. Ada satu kalimat yang terus tertinggal di kepalaku: “Takut suatu hari nanti makam anak saya ditumpuk, saat saya sudah tidak ada.” Seolah setelah kehilangan anak, mereka masih harus takut kehilangan satu-satunya tempat untuk mengenang.
Lalu ada seorang ibu lain dari kursi sebelahnya, yang kehilangan dua anak sekaligus dalam satu hari. Anak perempuannya belum lulus SMA, hilang. Anak laki-lakinya yang baru lulus STM diminta menyusul adiknya karena tak kunjung pulang. Tapi ternyata keduanya tidak pernah kembali pulang lagi sejak hari itu.
Suaranya sangat lirih, air mataku tumpah.
Nama-nama anak mereka mungkin tidak banyak dicatat dalam buku sejarah. Tapi luka hari itu terus digenggam seumur hidup oleh para ibu yang hari itu duduk di kursi belakang bus, masih terus bercerita. Karena mungkin, bercerita adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa apa yang mereka alami benar-benar pernah terjadi.
Mereka yang berbicara bukan sebagai praktisi sejarah, bukan sebagai peneliti apalagi akademisi yang membawa data dengan penuh sitasi. Mereka bicara sebagai saksi hidup, yang benar-benar hadir, mengalami dan terluka.
Kampung Jati: Gang-Gang yang Menyimpan Kehilangan
Bus sampai di kawasan perumahan warga Jatinegara Kaum, ruang ingatan bagi keluarga korban dan penyintas Mei 1998. Aku menyusuri perkampungan itu. Gang-gang sempit yang pernah menjadi ruang seseorang benar-benar tumbuh dan hidup. Di antara kabel yang semrawut dan warga yang duduk berkumpul, rumah-rumah ini menyimpan terlalu banyak kehilangan.
Kampung Jati menjadi salah satu lokasi dengan jumlah korban yang paling besar, karena banyak keluarga penyintas dan korban tragedi mall Klender berasal dari sini. Di sela-sela atap rumah yang nyaris bertabrakan, bunga kertas masih bermekaran dan anak-anak tetap berlarian seperti biasa.
Sulit membayangkan bahwa gang-gang sempit ini pernah dipenuhi kehilangan dan duka yang mendalam. Konon, massa saat itu diarahkan dari kawasan ini karena letaknya strategis, dekat rel kereta dan jalur mobilitas warga.
Banyak korban merupakan anak sekolah, anak-anak yang mungkin bahkan tidak benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi, sebelum akhirnya tenggelam dan hilang dalam keramaian dan kekacauan itu.
TPU Pondok Ranggon: 113 Nisan Tanpa Nama
Perjalanan selanjutnya menuju makam massal korban Tragedi Mei 1998 di TPU Pondok Ranggon.
Sebenarnya aku cukup akrab dengan jalanan daerah ini, dahulu aku bersekolah di daerah sekitar sini tapi tak pernah benar-benar mampir. Agak aneh, aku sangat familier dengan jalanan ini, lebih dari ruas-ruas pusat jakarta yang sudah dilewati sebelumnya.
Aku masih ingat jika melihat pemandangan ini berarti sekolahku sudah dekat, tapi ternyata di sela aktivitas yang hanya aku pandangi sebagai rutinitas dulu, ada duka yang tersimpan rapat dalam sunyi dan hijaunya pemakaman.
Tapi pengingat itu hari ini terasa berbeda karena aku semakin dewasa. Dan ini bukan lagi sekadar jalan menuju sekolah atau perjalanan pulang menuju rumah.
Aku baru benar benar sadar kalau area yang selama ini hanya aku lihat dari luar pagarnya ternyata seluas itu, bus yang membawa kita dapat masuk dalaam menelusuri blok-blok pemakaman yang menjadi pusara massal ‘98.
Khusus tempat ini aku keluarkan kacamata yang jarang aku kenakan, aku memakainya agar bisa melihat setiap detail dengan lebih jelas
Di antara hamparan makam dan monumen yang berdiri ada 113 nisan tanpa nama. Hanya terukir kalimat “Korban Tragedi 1998, 13–15 Mei 1998 Jakarta”. Bagi keluarga yang anaknya hilang, kemungkinan besar keluarga mereka dikuburkan di sini.
Aku selalu membayangkan kematian yang biasanya akan disambut upacara, papan bunga, melayat, keluarga yang berkumpul dan doa bersama. Tapi bagi mereka yang tak pernah memilih untuk menjadi korban, tak pernah ada bendera kuning di antara rumah duka pada hari dan tanggal yang pasti.
Tak ada pengumuman berpulang dari toa masjid, hanya anaknya yang tiba-tiba tak pernah pulang.
Mereka yang hilang tanpa kabar, bahkan nisannya tak bernama.
Siapa yang akan mendatanginya?
Apakah orang-orang yang datang benar mencarinya?
Atau jasadnya sebenarnya ada di tempat yang lain?
TPU ini menjadi tempat terakhir yang ditapaki hari ini. Tempat doa lintas agama dipanjatkan dan bunga ditaburkan. Tanpa seremoni besar. Hanya kehadiran, hening, dan penghormatan.
Pada Akhirnya
Reformasi bukan sekadar gejolak politik karena manusia bukanlah angka statistik, mereka adalah nyawa yang punya keluarga, punya harapan dan kehidupan yang nyata. Menyederhanakan tragedi adalah sudut pandang yang nirempati.
Lamban laun segala bangunan saksi bisu itu kini sudah bertransformasi dan tertutupi rutinitas kota. Tapi tak pernah menampik fakta bahwa kejadian berdarah pernah hadir di balik aspal yang ditinggikan, di sela-sela gedung pertokoan, di bawah galian tanah pemakaman yang gelap dan sesak.
Bahkan puluhan tahun lagi kota ini mungkin akan benar-benar berganti wajah, tapi bekas luka tak pernah bisa ditutupi walaupun belum diakui.
Nahasnya, di sudut-sudut Jakarta yang hari ini tampak biasa saja, tugu-tugu peringatan itu kadang hanya dilihat sebagai monumen peringatan tanpa dibaca sejarahnya. Hari ini aku belajar bahwa kota bisa menyimpan trauma besar tanpa terlihat di permukaan.
Ketika Interpretasi Makna Itu Terasa Makin Hidup
Aku teringat kembali perihal interpretasi banyak orang tentang “Sunshine” melalui cerita di balik video klipnya.
Tentang seorang ayah yang disebut-sebut kehilangan anaknya dalam tragedi 1998. Dan bernostalgia dengan memori yang tersisa dalam perjalanan berziarah menuju makam anaknya. Tentang seseorang yang terus hidup sambil membawa ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi lagi.
Asumsi itu membuatku membayangkan ada seorang anak yang ditunggu pulang orang tuanya tapi malah mendapati nahas di balik negara, di kampus, di pusat perbelanjaan; tak ada tempat aman. Bahkan di antara cerita pilu yang kudapatkan, ada yang meregang nyawa di rumahnya sendiri.
Peristiwa itu terasa makin dekat karena baru saja aku jejaki tempat-tempat yang pernah menyaksikan bisunya. Aku bertemu langsung dengan para penyintas, mendengar mereka bersaksi.
Lagu ini tidak membicarakan tragedi itu dengan meledak-ledak, tapi hadir untuk menjaga kenangan yang ada, karena hanya itu puing-puing yang tersisa.
Tiba-tiba makna lagu itu terasa jauh lebih menyayat hati
“It’s getting dark, there’s no light from above…
You know, you will always be my sunshine.”
Bait-bait itu tak lagi terdengar seperti ungkapan manis. Ia terdengar seperti doa seseorang dari alam lainnya yang tidak pernah selesai menunggu. Mencoba mengingat cahaya yang tak pernah ingin hilang, penerang dari kegelapan yang ditutupi. Mungkin suara seperti ini bisa datang dari alam kubur.
Ketika membicarakan Reformasi, sejarah terlalu sibuk mengingat krisis moneter, pidato hingga pergantian kekuasaan. Semua itu bagian penting yang berkorelasi dan aku tidak akan menyangkalnya. Namun, kadang manusia terpaku membicarakan gejolak politik semata dan lupa menyiapkan ruang bahwa ada keluarga yang hidupnya ikut runtuh.
Padahal kehilangan itu bersifat personal dan jaraknya dapat terasa amat dekat, ia bisa muncul di ruang kamar yang telah lama kosong, di jok mobil yang biasanya penuh obrolan, di meja makan yang masih menyisakan makanan kesukaan. Kadang duka itu menyelinap dalam tumpukan baju yang masih tersusun rapi di lemari, di tumpukan kaset favorit yang tak pernah lagi diputar kembali.
Ada keluarga yang waktunya berhenti begitu saja di Mei 1998. Tragedi sebesar apa pun yang bisa dinarasikan oleh sejarah, pada akhirnya kembali berlabuh pada ruang kecil paling sederhana: keluarga, yang kehilangan anaknya.
Ada orang tua yang anaknya tidak pernah pulang. Ada yang tidak tau di mana keberadaannya jika masih hidup, ke mana jika sudah tiada, entah nisan tanpa nama mana yang menyimpan jasad orang terkasihnya. Bahkan, ada yang masih berdiri dengan payung hitam dan pakaian gelap di seberang istana setiap hari Kamis untuk menuntut.
Dan mungkin, di balik seluruh hiruk-pikuk Jakarta yang tampak baik-baik saja, masih ada seseorang yang diam-diam berharap mendengar suara gerbang rumahnya terbuka dan mengintip dari balik jendela kalau anaknya akhirnya pulang, bagaimanapun keadaanya.
“Sunshine” bukan sekadar dialog imajiner. Ia benar-benar hidup di antara mereka yang suaranya bahkan jasadnya dihilangkan.
Perjalanan pulang dari napak tilas itu terasa panjang, bukan karena jaraknya makin jauh, bukan pula karena terjebak kemacetan. Tapi karena ada bagian dari diriku yang ingin pelan-pelan mengingat setiap detail yang aku dapatkan hari ini.
Langit sore mulai menggelap, kehilangan terangnya. Namun ada cahaya-cahaya yang tak hanya muncul dari matahari, melainkan dari sekitar, dari orang-orang yang masih mengingat.
’Cause tonight, we’ll be fine.