Deretan motor di pertigaan South City punya penumpang. Anak-anak TK dan SD yang diboncengi. Kemungkinan besar pengemudi adalah bapak mereka masing-masing. Jelas. Baju rapi mau berangkat kerja tapi menyempatkan antar anak sekolah.
Tapi dengan santai mereka menerabas palang pembatas jalan. Lurus ke arah Pamulang. Ada beberapa sekolah elite ke arah tersebut. Seharusnya mereka memutar dulu ke dalam South City.
Si Abang, anak saya di belakang boncengan langsung komplain, “Kok mereka melanggar? Kan bahaya nanti kalau ketabrak gimana?” Spontan saya jawab setengah bercanda, “Uhuy! Lagi mau buru-buru kali Bang.” Segeralah ia saut,“Tapi kan salah, harusnya muter dulu.” “Iya betul, makasi ya kamu sudah paham, dan mau patuh sama aturan,” jawab saya untuk mengapresiasi pandangannya.
Sepanjang lima menit sisa perjalanan untuk sampai ke sekolahnya, isi kepala saya berisik. Rasa syukur ada banget karena anak saya mampu memahami apa itu aturan dan melihat tanda bahaya. Tapi di sisi lain bertanya-tanya bagaimana yang deretan motor tadi. Apakah anak-anaknya juga bertanya hal yang sama seperti si Abang? Apakah bapaknya memang terburu-buru sehingga melanggar sedikit tidak mengapa dan menganggap anak yang diboncengnya tidak mengerti apa-apa?
Bahkan lebih jauh, saya membayangkan bagaimana mereka tumbuh. Bagaimana mereka melihat kehidupan. Apakah mereka kelak menjadi orang yang arogan di jalanan, di pekerjaan, di lingkungan sosialnya, bahkan di sekolahnya jadi suka semena-mena? Lalu membayangkan juga apakah sang bapak menjadi sosok yang terus melakukan pembiaran-pembiaran atas sikap-sikap tak bertanggung jawab dari anak-anaknya. Ketika pelanggaran kecil terus dibiarkan, yang terkikis bukan sekadar kepatuhan, tapi tentang pemahaman “batas-batas”. Masalahnya bukan pada anak yang tidak tahu aturan, tapi pada orang dewasa yang tahu dan memilih untuk menyepelekan.
Kemarin saya mendapat informasi soal para mahasiswa UI yang sedang ramai karena pelecehan seksual. Bukan hanya seorang. Tapi berjamaah. Gila ini! Sebelumnya lagi banyak kasus-kasus serupa. Lebih ke belakang lagi, pernah bekerja dengan orang yang tersangkut kasus serupa. Kompleks banget. Ini adalah kasus “batas” yang ekstrem.
Tapi dari semua kasusnya, saya menduga punya satu pangkal yang sama, yaitu pembiaran dari orang tuanya sendiri ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan. Mungkin ada pembahasan, tapi orang tuanya juga sering menyepelekan aturan dan norma-norma sosial yang tidak disadari, ditunjukkan langsung di depan anak-anaknya. Dan ketika pembiaran ini tidak hanya terjadi di rumah, tapi juga di jalanan, di sekolah, dan di ruang publik, maka yang terbentuk bukan sekadar individu yang permisif, tapi generasi yang kehilangan pemahaman tentang batas.
Respons adalah hal yang sangat mendasar untuk memperkenalkan bagaimana batas itu selalu ada. Bagaimana orang tua mau merespons komunikasi anak-anak mereka yang bawel dan selalu bertanya di masa kecil. Lelah sudah pasti. Apalagi di tengah-tengah banyaknya urusan di dalam pikiran. Jelas bapak bukan manusia super. Tapi bapak bisa berkesadaran untuk menjalankan perannya sebagai contoh manusia super yang didambakan dan diteladani anak-anak mereka. Maka sosoknya harus benar-benar hadir. Bukan hanya fisik, melainkan perhatian dan pikirannya. Salah merespons, maka kita mencetak generasi berikutnya yang tidak berakal budi.
Orang pintar belum tentu berakal budi. Belum tentu pikirannya sehat. Maka terus menyadari pentingnya pikiran yang sehat jadi tujuan mulia yang hanya bisa diwujudkan jika lingkungan kita juga membangunnya. Terutama keluarga. Pasangan dan anak-anak adalah instrumen paling berharga untuk menjaga akal budi. Maka menyia-nyiakan mereka dalam merespons apa yang terjadi dalam keseharian adalah upaya untuk mengabaikan nikmat yang Allah berikan.
Berat betul peran orang tua. Begitulah pikiran sesat kita yang tidak sehat meresponsnya. Jelas-jelas, di dunia ini tidak ada yang tidak berat untuk memikul sebuah tanggung jawab. Jangankan membesarkan anak. Di pekerjaan saja, jika pikiran kita tidak sehat, tidak ada satu pekerjaan pun yang mampu kita selesaikan. Tidak akan ada hasil yang dapat dicapai. Tidak ada pencapaian yang memiliki dampak baik. Justru pikiran yang tidak sehat terus melahirkan masalah-masalah baru. Memberi kerepotan-kerepotan lain yang memaksa melibatkan pihak-pihak lain.
Melakukan hal kecil dengan memberikan contoh baik kepada anak, tidak menganggap anak tidak tahu, tidak memberi ruang bagi kesalahan kecil untuk dinormalisasi, dan mendengar apa yang menjadi perhatian anak dengan lingkungan sekitar menjadi langkah-langkah kecil yang berdampak kepada satu generasi. Dan itu bisa dimulai dari keluarga kita sendiri. Dari kesadaran penuh kita untuk berperan menjadi bapak yang punya akal budi.
Sebab pikiran orang dewasa sudah berkompromi dengan realitas. Kadang menjadi arogan, tapi juga rentan untuk terus permisif. Sementara anak sebagai representasi akal budi yang masih murni. Tak ada salahnya kita merunduk, mendengar pemikiran-pemikiran mereka.
Masih ingat filosofi padi kan Pak?