Sumber Foto: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti.
Kamu di mana? Sedang apa sama siapa? Kisah cinta monyet ternyata membekas. Samar-samar ingatannya. Tapi pekat rasanya. Karena yang aku ingat saat itu semua terasa ringan. Belum ada beban kehidupan dan tanggungan cicilan.
Bahagia bisa kita tunjukkan, walau hanya beli es limun cekek dan satu sedotan plastik untuk berdua. Kadang, di ujung gagang telepon rumah, biarpun dikunci, tetap saja aku berhasil kontak pesawat telepon rumahmu. Dan aku genjreng gitar itu pelan-pelan agar ibu bapak di rumah tak gundah. Sambil nyanyi lagu “Kita” dari Sheila on 7.
Bahkan setangkai mawar merah atau putih bisa aku eksekusi untuk diberikan di hari Valentine atau hari jadian. Kita rayakan sambil nonton bioskop di Bintaro Plaza naik RX King abu-abu itu. Kalau diingat, uang jajan tidak seberapa. Tapi berkat niat besar dan diupayakan, hal kecil itu kejadian.
Tak jarang pula, naik angkot berdua. Kita bisa kabur begitu saja atau kamu pura-pura mules. Sebab kita tau, di dalam angkot ada ibu guru yang akan mengasih ongkosnya nanti.
Pernah juga, mendadak jadi tukang ojeg waktu penerimaan siswa baru. Memanfaatkan lalu-lalang orang tua yang mendaftar satu sekolah negeri ke sekolah negeri lainnya di wilayah yang sama. Lumayan, 20 ribu sekali jalan waktu itu bisa buat malam mingguan. Makan nasi goreng di Ragunan.
Kita buru-buru ingin menjadi dewasa selepas lulus-lulusan. Kamu terobsesi berkuliah di luar negeri. Sementara aku sibuk mencari universitas negeri. Ribuan kilometer kita terpisah. Dunia runtuh sejadi-jadinya. Waktu terasa cepat berlalu karena kita mengejar mimpi-mimpi itu, di masing-masing tempat.
Sampai akhirnya di antara kita terisi oleh orang-orang yang mampu memberikan hal-hal kecil membahagiakan. Entah jodoh organik atau sengaja dipersiapkan orang tua kita. Yang jelas, kita memang tak bersama-sama lagi. Ada pilihan, namun tidak bisa memilih. Ada keinginan, namun tak kuasa menaklukan.
Sheila On 7 dalam lagu terbarunya berjudul “Sederhana” menulis dengan sangat jeli. Katanya, Jalani hidup penuh cerita. Pilihan kadang membuat buta. Terperosok ke dalam jurang. Tak tahu mana yang dibutuhkan. Atau pun sekedar diinginkan. Dan kini aku akan berjuang. Keluar dari pacuan.
Jodohmu dan jodohku juga punya masa-masa indah nan ringan sebelumnya. Situasinya sama persis. Kita berjuang masing-masing. Saling mewujudkan cita-cita di tempat masing-masing. Yang beruntung, bisa bersama lagi. Untuk yang tak begitu, terima saja untuk berpisah. Realitas itu penuh dengan hal-hal pahit yang harus diterima jika gak mau gila.
Begitulah jalan hidup. Semua berputar. Silih berganti mengisi kekosongan sampai akhirnya dipertemukan dengan yang benar-benar diyakini hingga merasa ditakdirkan hidup bersama. Lagi-lagi dengan pola yang sama: dimulai dari melakukan hal-hal kecil yang sederhana dan bahagia. Lalu terbuai dan jatuh cinta.
Pak Duta, Pak Adam, dan Pak Eross juga pasti mengalami hal yang sama, hingga lagu ini bisa lahir. Mereka menemukan pasangan hidupnya. Entah dengan jalan yang seperti apa. Aku gak paham. Bukan penulis dan gak suka ngikutin gosip. Tapi memang mereka anteng. Jauh dari ingar bingar selebriti. Murni musisi yang mengedepankan kesederhanaan.
Dari mereka, seharusnya di umuran kita mampu merefleksikan gaya hidup dan lagu-lagunya sebagai bagian dari perjalanan menjadi dewasa. Ujung-ujungnya hanya hal sederhana yang paling diingat dan dinanti akan terwujud. Batin kita sering bilang, “Cita-cita gue sederhana, nikahin lo, beranak, punya rumah, ngelamun di teras belakang.”
Beruntung aku bertemu kamu. Wanita yang menyelamatkanku. Tawarkan kebebasan pikirkan. Menjauh dari berlebihan. Sederhana dan secukupnya.
Tapi aku seringnya luput untuk menanyakan kabarmu di kantor, kabarmu di rumah, dan kabarmu dalam perasaan yang selalu susah ditebak. Bahkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahmu saja, selalu aku potong dengan nasihat-nasihat suami yang ingin divalidasi oleh istri.
Ketahuilah sikap tak acuhku muncul tanpa direncanakan. Merasa kamu sudah menjadi bagian dalam zona nyaman kehidupanku, lantas yang terjadi adalah mengabaikan perasaanmu.
Aku terlalu sibuk untuk mewujudkan keinginan kita yang ingin punya kehidupan lebih baik. Konsekuensinya ternyata ada banget. Aku kehilangan hal-hal kecil yang bisa kuberikan buatmu. Harapku kini cuma satu, jangan sampai terulang kembali masa-masa mengejar mimpi-mimpi dan cita-cita itu selepas masa sekolah yang lalu hingga kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya.
Mari saling mengingatkan untuk selalu merawat hal-hal kecil, sederhana, dan bahagia bersama-sama.