Perjalanan kita diupayakan. Bukan sertamerta larut dalam buaian cinta. Kita saling menopang. Bertahun-tahun memupuk harapan satu sama lain.
Hingga tak sadar ekspektasi terbentuk tanpa saling kita sampaikan. Sudut pandang berdiri masing-masing di atas kebenaran yang kadar relatifnya tidak seirama. Aku dan kamu, melahirkan banyak tujuan. Sampai tak terasa, sakitnya menahun untuk mewujudkan itu. Frustrasi sering terjadi. Disampaikan secara dan memiliki pola yang berulang.
Semua terasa semakin kompleks untuk disampaikan. Bahkan untuk sekadar mau mengerti keinginan yang masih bersemayam di dalam hati. Belum sampai di ujung bibir, batin kita sudah saling adu argumen. Mangkreng. Di mana pun, kapan pun, pecah begitu saja. Kita sering kelelahan dan akhirnya memilih diam untuk beberapa hari.
Sampai akhirnya satu di antara kita memulai percakapan kembali. Entah sudah dengan hati yang longgar atau terpaksa dilapangkan.
Ini bukan perkara rasa sayang yang berkurang. Tapi jiwa kita tidak saling mengisi dengan kasih sayang yang tulus. Ruang-ruang di dalamnya sudah terkontaminasi hingga terasa sulit terhubung.
Suasananya persis seperti lagu “Aku Harus Pergi” karya Whisnu Santika dan Ari Lesmana, yang diproduseri oleh Lafa Pratomo. Memang kamu yang aku mau. Tapi yang perlu kamu tau, bukan aku. Kita membiru. Ya, rasa cinta ini bukan lebih merah menyala. Mulai pucat, lebam, dan membiru. Tetap ada cintanya, tapi bukan semakin bergairah dan membara. Mulai menjadi cinta platonis.
Di antara sekian banyak memori baik dan indah yang kita lalui. Aku coba membangun kembali ikatan romansa itu. Masih sangat mungkin erat. Namun salah kita sudah terlalu dalam. Banyak air mata yang jatuh. Boleh dibilang, kita sama sama saling menyakiti. Sejahat itu.
Dulu, tempat yang sunyi menjadi tujuan kita. Untuk mengambil jeda. Bicara dari hati ke hati dan kemudian kembali mengasihi lagi. Empati kita mudah terkoneksi.
Belakangan, kita pilih tempat sunyi masing-masing. Terasing satu sama lain. Memisahkan diri menjadi bentuk nyaman yang paling hakiki. Sebab jika menatap dirimu, rasa getir itu terurai kembali satu per satu. Kritis!
Tempat sunyi itu bukan ruang kosong. Tapi duduk di meja makan. Menyaksikan tingkah anak-anak kita lahap menyantap masakanmu. Lalu mereka bergantian cuci piring dengan riang. Sementara aku terpaku di kursi makan dengan pikiran yang entah pergi lalu lalang ke sana kemari.
Kita sering berkata, “Aku harus pergi”. Hingga banal karena tak kunjung terjadi. Nyatanya, fisik kita tetap di sini. Situasi ini seperti ritmis dalam bagian refrain lagunya yang sudah nempel di kepala. Mengulang tanpa diminta.
Lagu ini seperti dibuat untuk menggambarkan babak kehidupan dengan siklus ketenangan dan kerapuhan yang selalu bergulir, bergantian, dan tak terhindarkan.
Namun selalu ada pilihan dengan berbagai alasan, dan kita tak mau menyerah untuk memilih pergi. “Aku Harus Pergi” akhirnya bagai sebuah kiasan untuk mencari ketenangan dan lebih mengenali aku dan kamu jauh lebih dalam. Batinnya mulai terkoneksi kembali.
Persis lagu-lagu yang diciptakan, selalu ada harmonisasi yang diupayakan. Dan bagiku, sampai saat ini, hanya seorang Ari Lesmana yang mampu melakukannya untuk mengupayakan nada, lirik, dan kemagisan di tiap lagu-lagunya begitu harmonis. Gagasan musik Whisnu Santika dan campur tangan Lafa Pratomo mewujudkannya dengan sangat baik untuk lagu “Aku Harus Pergi”.
Menikmati lagu ini justru menyadarkan kita tentang banyak hal. Aku dan kamu nyatanya sefatal itu. Namun kita sama-sama tau tentang hati yang kelelahan. Lalu kita sepakat untuk beri ruang yang paling sejuk berselimut sepi. Agar luka batin yang selalu hadir ini benar-benar sembuh sampai ke akar-akarnya.
Hati yang membiru perlahan-lahan kita obati. Kita kasih kesempatan lagi untuk saling memaknai ekspektasi. Dimulai dengan hati yang luas lapang untuk saling mendengar dan memahami. Kita berjanji tak akan ada tuntutan. Dan kita berjanji untuk tidak pergi (lagi).