Foto: Yusril Fahriza
Rasanya baru kemarin masa-masa itu dilalui. Ingatan dengan mudah membawaku ke 2019; tahun-tahun penuh debar dan merasai naik turun kehidupan. Di masa itu, aku menemukan cinta baru: fotografi.
Mundur ke masa kuliah, fotografi adalah hal yang jauh bagiku. Sebagai orang yang tak lahir dari kelas menengah, aku tak seberuntung beberapa kawan yang dengan gampangnya membeli kamera mahal, menenteng DSLR di kampus dan terlibat dari pelbagai kegiatan aktivitas fotografi. Tapi 2019 mengubah segalanya. Bukan karena tiba-tiba aku kaya. Justru sebaliknya: di masa sulit itu, aku justru menjemput gairah masa lalu.
Aku mulai memotret dengan kamera film. Hobi baru itu menyadarkan aku: manusia yang tak pernah tau bagaimana hasilnya. Waktu lantas membuat minat fotografi makin berlipat-lipat. Perlahan, aku pelajari teknik. Dan akhirnya, fotografi memaksa hadir di hidupku, meminta ruang lebih, mendesak hobi menjadi minat dan menuntut perhatian khusus.
Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar jika yang aku butuhkan tak semata teknis fotografi yang terkadang dibicarakan dengan cara ndakik-ndakik, melainkan cerita tentang kota orang yang kuberi tagar #SoreDiKotaOrang.

Pertanyaan yang sering aku dapat: Kenapa, sih, Sore di Kota Orang?
Sejak kecil aku sudah merantau. Aku terbiasa berpindah-pindah kota. Hingga hari ini, tau persis rasanya jadi tamu abadi di tempat yang tak pernah benar-benar bisa kusebut milikku. Sore bagi banyak orang adalah tempat pulang. Tapi bagi para perantau seperti kita, kita harus menunda sore itu. Menikmati sore di kota orang. Bukan karena kita tidak ingin pulang. Tapi karena pulang kadang harus menunggu. Dan sambil menunggu, kita belajar merangkai momen menjadi cerita.
Aku meyakini bahwa semua orang bisa membuat foto bagus, tapi tidak semua orang bisa bercerita lewat foto. Aku ingin fotoku bisa merangkai cerita. Bukan cuma menangkap wajah atau langit sore, tapi menangkap rasa yang mungkin terbahasakan.

Bagiku, ada batas jelas antara sekadar jepret dan benar-benar mengabadikan momen. Bukankah kita cuma punya waktu satu detik untuk menangkap momen? Momen yang mungkin saja tak bisa diulang. Maka ketika jariku menyentuh rana, aku sadar betul bahwa detik itu tidak akan pernah kembali. Bagiku, fotografi adalah kegembiraan. Jika barometer kebahagiaan adalah rasa senang saat memotret, maka angka, jumlah, dan segala ukuran teknis lain menjadi tidak relevan. Teknik dalam foto memang penting, tapi jangan sampai melupakan esensi utamanya: joyful. Aku memotret bukan karena kamera mahal. Bukan karena ingin pamer belaka. Sejujurnya, kalau boleh melebih-lebihkan, aku memotret karena itu membuatku hidup.
Pada akhirnya, perjalanan hidup mengajarkan jika kota-kota yang kusinggahi bukan tempat untuk menetap selamanya. Tapi sore di kota orang bisa menjadi tempat untukku merenungi satu hal: bahwa pulang bukan hanya soal jarak. Dan kadang, kita bisa menemui pulang yang tak kunjung datang itu lewat satu bingkai foto sore hari, di kota orang.




