Untukmu, Aku Selalu Siap

Kisah ini lahir setelah kejadian stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu.

Untukmu, Aku Selalu Siap

Kisah ini lahir setelah kejadian stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu.

07/05/2026

Kisah fiktif ini lahir setelah kejadian Stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu.

Sejak aku kenal kamu, aku perjuangkan apa yang aku punya dan aku bisa agar mendapatkan hatimu. Ada kalanya seutas pesan sms dengan huruf besar kecil menanyakan urusan perutmu agar tak lagi sakit mag. Seringnya aku tanyakan lagi apa. Tapi kalau uang jajan yang berhasil terkumpul di akhir pekan, aku coba beranikan jemput untuk ajak makan nasi goreng gila dan jus buah di parkiran Deha, Pondok Indah.

Bahkan menelusuri Tol Padalarang yang baru jadi, berhasil aku tempuh dalam waktu 1,5 jam dengan mobil jip limbung. Hanya untuk menyusulmu bertanding lawan kampus negeri di sana. Hari itu, kamu tidak mau bertemu. Tapi berada di samping bis rombonganmu dan meyakinkan kamu baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup bikin aku tenang.

Beranjak masa kerja, aku tunggu sekolahmu di luar negeri selesai. Dengan ucapan di batin yang kuat, kalau pulang ke Jakarta segera aku pinang dengan bismillah dan restu orang tua sambil membawa rombongan besan dan roti buaya. Lalu ijab kabul itu terlaksana tepat sebulan pasca-kedatanganmu. Aku yakinkan papa mamamu, aku ingin meminang dirimu.

KRL Commuter Line relasi Bogor-Jakarta jadi transportasi langganan sebelum kita bisa sewa kontrakan. Saat aku libur dan kamu masuk kerja, di stasiun kita berpisah. Kamu selalu masuk gerbong depan khusus perempuan. Kereta melaju dan aku masih di stasiun, sambil berdoa semoga perjalananmu aman dan nyaman.

Sampai akhirnya kamu kirim pesan sudah tiba di tujuan dengan selamat, saat itu juga rasa khawatir hilang. Sebelumnya seperti menggelayut di dalam pikiran. Terbawa dalam perjalanan. Fokusku belum sepenuhnya hadir dalam aktivitas kerja sambilan di bengkel Pak Marto.

Sekarang, keturunan kita lahir. Laki-laki semua. Saat bicara dengan anak sulung yang sudah mengerti rasa suka dengan lawan jenis, ia minta aku untuk mengantar teman perempuannya pulang karena orang tuanya berhalangan jemput di sekolah. Dalam hati, aku bersyukur, rasa melindunginya sudah ada. Bahkan sejak kecil, kepada adik-adiknya, ia tunjukkan banyak pengorbanan. Mulai dari mengalah dengan mainan, menyuapi makanan, dan paling depan kalau ada teman sebayanya coba mengganggu.

Aku tidak pernah memberikan buku yang berisi pesan-pesan tips and trick menjadi lelaki. Tanpa komando, kepedulian dan pengorbanan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mungkin ia melihat bagaimana sekitarnya berlaku sebagai laki-laki bertanggung jawab.

Peristiwa beberapa hari lalu di Stasiun Bekasi Timur jelas merobek hatiku. Dapat dipastikan, semua laki-laki yang punya relasi dengan korban akan merasa sangat bersalah. Banyak keinginan laki-laki yang sirna akibat keadaan yang tak memungkinkan. Mereka tentu tidak ingin  membiarkan pasangannya naik rangkaian kereta dan berdesakan.

Tapi ini musibah. Sudah kehendak Tuhan. Tak ada cara lain selain ikhlas dan merelakan. Sambil berharap tidak ada korban selanjutnya.

Meminta gerbong khusus perempuan dipindahkan ke tengah adalah pernyataan yang emosional. Kalau ada yang perlu dibenahi, itu bukan siapa yang harus berada di gerbong depan atau belakang. Tapi bagaimana sistem memastikan tidak ada yang harus jadi korban.

Jika sistem itu belum terwujud, semua laki-laki pasti sepakat soal ini, apa pun keadaannya, untukmu, aku selalu siap. Sebab, aku tak mau menyakiti apalagi mengorbankan dirimu.

Tak mengapa jika kamu mandiri dan berdikari. Atau bahkan peranmu melebihi laki-laki. Aku akui, perempuan memang makhluk terkuat di bumi. Tapi aku paham sekeras dan sekuat apa pun kamu, dipeluk dengan kasih sayang dan dikhawatirkan olehku adalah tempat aman dan ternyaman kamu. Dan aku selalu siap untuk mewujudkan itu.

Bagiku yang sudah berkeluarga, jelas, aku memilih untuk memastikan kehadiranmu sampai rumah dengan selamat. Sebab kamu adalah ibu untuk anak-anak kita yang masih bertumbuh; yang berkontribusi membentuk mental mereka menjadi laki-laki bertanggung jawab dan peduli sesama.

Dzulfikri Putra Malawi

Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku “LOKANANTA” secara kolektif.
  • Dzulfikri Putra Malawi

    Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku "LOKANANTA" secara kolektif.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga