Saat video musik “Senarai Feses/Sejati” dirilis pada akhir Maret lalu, saya langsung merasa tidak sabar menantikan seperti apa bentuknya album terbaru Seringai. Lagu itu terasa cukup mengejutkan. Ada warna baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Hal yang serupa juga sempat muncul saat “Pulang” dirilis lebih dulu pada 2024, sebuah lagu yang mengangkat isu kesehatan mental dari sudut pandang Seringai, sekaligus menjadi salah satu secuil peninggalan karya terakhir dari Ricky Siahaan, yang “pulang” lebih dulu dari kita.
Akhirnya, album IV: Anastasis resmi hadir di berbagai platform streaming. Timeline saya dipenuhi oleh teman-teman yang membagikan pengalaman mereka saat mendengarkan album ini, dan itu cukup membuat saya tak ingin menunda lebih lama mendengarkan lagu ini.
Seperti biasa, Seringai tetap “menyeringai”. Lirik-liriknya tajam, penuh kritik terhadap kondisi sosial-politik dan para penguasa, yang terasa relevan dengan situasi hari ini, dan mungkin juga di masa depan. Track seperti “Matinya Kepakaran”, “Tirani Lagi”, hingga “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi bukti bahwa mereka masih konsisten menjaga sikap dan kegarangannya.
Namun, ada sisi lain yang membuat album ini terasa berbeda. Sejak “Pulang” rilis, saya seperti diberi isyarat: ada nuansa melankolis yang lebih kuat, terutama dari permainan gitar Ricky yang terasa gelap, berpadu dengan vokal Arian yang tetap khas namun lebih emosional. Warna ini mengingatkan saya pada sentuhan blackgaze atau post-rock, sesuatu yang jarang diasosiasikan dengan Seringai.
Dan puncaknya ada di lagu pada album baru ini: “Akar”. Saat pertama kali mendengarnya, saya seperti ditarik ke ruang sunyi yang hampa. Bayangkan momen ketika kamu sendirian, memegang gitar, memainkan kunci yang itu-itu saja, sambil membiarkan pikiran dipenuhi kepahitan hidup yang datang berkeroyokan saat kita melamun. Begitulah kira-kira suasana yang saya rasakan.
Ada petikan gitar elektrik yang “mengiris”, mempertebal rasa getir. Sangat post-rock. Sangat kontemplatif. Dan jujur saja, ini bukan Seringai yang biasa saya kenal, tapi justru itu yang membuatnya begitu kuat.
Saya memutar lagu ini tiga kali. Saat itu posisi saya masih di kantor, dalam keadaan cukup sepi. Tiba-tiba ruang terasa semakin kosong. Ada rasa tidak nyaman, tapi di saat yang sama lagu ini begitu melekat. Seperti memaksa kita untuk duduk diam dan merasakan sesuatu yang sudah lama kita hindari.
Perasaan itu sulit dijelaskan, tapi mungkin paling mendekati adalah sensasi “liminal space”, seperti terjaga di malam hari saat semua orang sudah terlelap. Sunyi dan ganjil. Dan anehnya, setelah lagu itu selesai, ada rasa lega yang muncul. Seperti membuka kembali memori lama, tentang kesepian di masa tumbuh, tentang hal-hal yang dulu tidak sempat kita pahami.
Saya langsung membagikan tautan lagu ini ke seorang sahabat, Rizkoy.
“Seringai post-rock. Kelam banget lagunya,” tulis saya.
“Malem ini sih fix dengerin,” balasnya.
Dan saya pun bergegas pulang karena waktu pun sudah malam.
Selang beberapa jam dia membalas dengan tangkapan layar dari Bandcamp Seringai:
“Nomor instrumental melankolia ini direkam secara impromptu oleh Ricky Siahaan dengan gitar akustik di Lawless HQ kala Seringai melakukan workshop untuk album baru.”

Di situ saya langsung merasa, oh, masuk akal. Seolah perasaan yang saya tangkap dari lagu ini tervalidasi oleh proses kreatifnya sendiri. Mungkin, saat merekamnya, Ricky juga sedang berada di ruang pikir yang sama: sekadar memetik gitar, membiarkan pikiran mengembara.
“Akar” memang tanpa lirik, tapi justru di situlah kekuatannya. Ia berbicara tanpa kata-kata. Ia menjadi medium duka yang personal, sekaligus kolektif.
Saya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Arian, Edy Khemod, Sammy, serta keluarga dan sahabat dekat Ricky saat mendengarkan lagu ini. Jika saya yang bukan pendengar aktif Seringai saja bisa terbawa sejauh ini, maka bagi mereka, mungkin lagu ini adalah medium untuk benar-benar merasakan kehilangan, medium untuk menangis sebentar dalam kesepian.
“Akar” bagi saya seperti menegaskan satu hal: duka itu abadi, tapi cara kita memaknainya yang berubah seiring waktu. Kita mungkin terlihat garang di luar, tapi tetap rapuh di dalam. Dan kelam, ternyata tidak selalu menakutkan. Ia juga bisa menenangkan. Ia membantu kita terlelap, agar bisa bangun segar dan menjalani hari berikutnya.
Lewat lagu ini, Seringai seperti membalut kegelapan kolektif, baik yang mereka alami, maupun yang kita rasakan sebagai pendengar. Tapi di saat yang sama, mereka juga mengingatkan: duka bukan untuk dipendam, melainkan untuk disadari dan dirasakan.
Dan bagi saya, “Akar” adalah jantung dari album ini. Sebuah karya yang tidak hanya didengar, tapi dialami. “Akar” membuat album ini begitu terasa “hidup” dengan mengubah cara pandang kita perihal kedukaan dan masa-masa yang dirasa kelam.
In Memoriam Ricky Siahaan.