Kadang-kadang, kau berpikir jalan tunggal untuk tetap waras di negeri ini adalah memotong urat pedulimu. Menjadi manusia yang paling nrimo.
Sebab, jika kau masih menyisakan sedikit saja empati di dadamu, atau membiarkan akal sehatmu menolak mati rasa, hidup di hari-hari ini rasanya seperti dikuliti pelan-pelan. Rasa capek yang teramat akut menimbun di pundakmu. Kelelahan yang kau tau betul tidak akan bisa sembuh hanya dengan tidur delapan jam, beralih ke kopi saset, atau mendekam menyendiri sepanjang akhir pekan.
Penghasilanmu yang pas-pasan itu habis hanya untuk mencicil lapar. Begitu keluar pagar rumah untuk sekadar mencari angin, realitas langsung menampar tanpa permisi. Nilai tukar dolar yang melambung itu mewujud nyata pada harga sebutir telur dan sebungkus mi instan yang mendadak naik kelas di warung madura. Belum lagi perkara sepele seperti biaya parkir harian dan harga selembar kantong plastik belanjaan yang kini memaksamu membuat kalkulasi anggaran tersendiri agar tabunganmu tidak jebol di akhir bulan. Di luar jaringan, lehermu sebagai kelas pekerja tercekat oleh angka-angka yang bergerak tanpa pernah mau berkompromi.
Ketika kau beralih ke layar ponsel demi pelarian gratisan, sialnya, sama saja. Hidupmu telah dikepung dari dua arah yang sama jahanamnya: megap-megap di dunia nyata oleh urusan domestik yang kempis, sementara di dunia maya kesadaranmu diacak-acak oleh rupa-rupa narasi yang menganggap masyarakatnya menderita amnesia berjamaah.
Kau dipaksa menonton bagaimana tragedi diperlakukan jenaka di berita. Penahanan paksa warga di luar negeri diperhalus menjadi “bukan penculikan”, hingga aksi brutal penyiraman air keras dikerdilkan sebagai sekadar “kenakalan” selevel bolos sekolah.
Teater itu dikunci dengan manis oleh rupa-rupa petuah yang bergaung dari corong kekuasaan; sebuah klaim bahwa rakyat kecil sepertimu sebenarnya tidak muluk-muluk; tidak bermimpi untuk hidup kaya raya, melainkan hanya ingin hidup layak dan baik-baik saja.
Mendengarnya, ada rasa sesak yang mendadak naik ke tenggorokan. Sebuah narasi romantisasi yang seolah-olah mengerti isi hatimu, padahal sedang memangkas paksa batas ekspektasimu sebagai manusia. Ya moso kita lahir dan hidup di tanah sekaya ini dikondisikan untuk tidak boleh punya mimpi jadi kaya raya? Bohong sekali jika tak ada hasrat hidup makmur tanpa cemas memikirkan hari esok.
Namun ironinya, jangankan berani menggantungkan cita-cita setinggi langit untuk menjadi sejahtera, batas bawah untuk sekadar bertahan dalam definisi “hidup layak dan cukup” saja sudah dipreteli oleh keadaan tempat ini hari demi hari. Kau dipaksa menurunkan standar kewarasanmu berkali-kali demi mencocokkan diri dengan realitas yang makin mencekik.
Pada akhirnya, kau merasa sedang dilatih menjadi paduan suara yang penurut; dipaksa menyetorkan koor jawaban “Sudaaaah!” yang seragam demi menyenangkan mimbar. Mendengarnya saja sudah membuatmu kenyang, jadi kau merasa tidak perlu lagi menagih janji makan siang gratis yang betulan.
Lalu, jika sudah begini, kau mau meletakkan lelahmu di mana lagi?
Ketika kau melihat orang-orang di sekitarmu tumbang, kena mental, atau memilih jalan pintas karena kehabisan napas menanggung beban hidup, kau menyaksikan dengan ngeri bagaimana ruang publik dengan sigap menghakimi.
Kau diberi label, dituduh bebal, seolah seluruh keletihanmu hanyalah urusan manajemen stres yang keliru, yang bisa dipulihkan lewat kurasi daftar putar lagu atau segelas kopi mahal di kedai estetis.
Menyalahkan sistem sering kali dicap sebagai penyakit kurang bersyukur oleh mereka yang hidupnya sudah telanjur nyaman dengan jalur-jalur birokrasi yang mulus. Namun, bagi kau yang harus memutar otak membelah telur dadar agar cukup untuk lauk seharian, kenyataan bukan konsep abstrak di buku pelajaran. Kenyataan bagimu adalah potongan iuran yang tegap, kenaikan tunjangan penegak hukum yang melesat meninggalkan nasib guru honorer, hingga upaya-upaya kasual untuk mengaburkan sejarah kekerasan massal masa lalu–seolah luka bangsa bisa sembuh hanya dengan sekali sapuan penghapus papan tulis.
Sebuah pola yang mulai terbaca; collective helplessness. Waktu, perhatian, dan seluruh energimu sengaja dihabiskan hanya untuk berjuang bertahan hidup dari hari ke hari. Kau dibuat terlalu sibuk mencari sesuap nasi besok pagi, hingga tak lagi punya sisa energi untuk berpikir kritis, tak punya ruang untuk bertumbuh, dan akhirnya menjadi makhluk yang paling mudah dikontrol.
Diam dan kudu nrimo akhirnya bukan lagi pilihan hidup, melainkan sebuah jebakan rapi. Ketika kau buru-buru menghibur diri dengan berkata, “Sudahlah, mending fokus kerja cari uang sendiri daripada nyalahin keadaan,” kau sebetulnya sedang mengajukan diri untuk menyerah kalah; mengisolasi diri dalam ruang privat yang sempit, mencukupi diri dengan sisa tenaga yang makin tipis, dan membiarkan segala ketidakwajaran di luar sana melenggang tanpa pernah diganggu gugat.
Dengan membuatmu kelelahan, tidak akan ada lagi suara-suara bising yang menginterupsi jam makan siang mereka. Semuanya menjadi rapi karena setiap kerusakan sistem selalu berhasil dialamatkan kepada seseorang yang kurang tangguh atau gagal beradaptasi; mentalitasnya yang rapuh. Selama kehancuran dianggap sebagai urusan domestik masing-masing kepala, mereka yang duduk di ruang rapat ber-AC tidak akan pernah merasa perlu mengubah kebijakan apa pun.
Mempertanyakan keadaan ini bukan berarti kau merengek atau melepaskan tanggung jawab untuk bekerja keras. Ini adalah upaya lirihmu untuk mengingat bahwa hidup bernegara tidak pernah sepenuhnya soal “nasibmu sendiri”, melainkan tentang bagaimana aturan main disusun sejak awal:
siapa yang sengaja dibiarkan jatuh bebas hingga hancur ke tanah,
dan siapa yang selalu disediakan jaring pengaman empuk
sebelum tubuh mereka sempat menyentuh lantai.
Akhirnya, kau hanya bisa menatap layar ponselmu yang lampunya makin redup karena baterai lemah. Bersuara memang terasa seperti melempar segenggam garam ke laut–melelahkan dan nyaris tidak mengubah rasa airnya. Tapi diam dan melipat tangan adalah seburuk-buruknya caramu merayakan sisa kemanusiaan.
Besok pagi, kau mungkin akan tetap menjadi manusia penurut. Kau akan tetap membayar kewajiban tepat waktu, mengantre kebutuhan yang mahal, dan membeli kantong plastik itu dengan senyum kecut yang tertahan di ujung bibir. Bertahan hidup pada akhirnya adalah soal memperpanjang upaya menolak tunduk, bahkan ketika kepalan tanganmu bergetar menahan amarah yang tak kunjung padam.
Di balik tubuh yang pasrah itu, setidaknya di dalam gelapnya kepalamu masing-masing, kau harus menolak untuk melupakan. Sebab, ingatan dan akal sehat adalah benteng terakhir yang kau punya. Dan jika benteng itu pun kau serahkan dengan sukarela atas nama “lelah”, maka tamatlah kau sebagai manusia.