Alangkah Baiknya Kita Berkembang Biak Sembari Berkembang Baik

Alangkah Baiknya Kita Berkembang Biak Sembari Berkembang Baik

Sebelum seseorang memutuskan untuk menghadirkan manusia baru ke dunia, ada satu pertanyaan yang jarang benar ditanyakan kepada dirinya sendiri. Bukan soal tabungan, usia, atau apakah kalian sudah punya rumah atau masih ngontrak di gang sempit yang banjir tiap musim hujan.

20/04/2026

Sebelum seseorang memutuskan untuk menghadirkan manusia baru ke dunia, ada satu pertanyaan yang jarang benar ditanyakan kepada dirinya sendiri.

Bukan soal tabungan, usia, atau apakah kalian sudah punya rumah atau masih ngontrak di gang sempit yang banjir tiap musim hujan.

Pertanyaannya bukan itu, melainkan sudahkah kita cukup mengenal diri sendiri untuk menjadi rumah bagi jiwa lain? 

Di negara ini, memiliki anak jarang diperlakukan sebagai keputusan etis, mungkin lebih sering datang sebagai kelanjutan alami dari sebuah urutan. Setelah nikah, lalu hamil, lalu lahir, lalu besarkan, lalu ulangi. Pertanyaan bukan lagi “apakah”, melainkan “kapan”. Seakan reproduksi adalah tahap administratif berikutnya, sebuah formulir yang perlu diisi agar status di mata keluarga besar menjadi lengkap.

Tekanan itu bekerja secara halus, kerap kali hadir dalam candaan yang tidak terasa seperti tekanan tapi sebetulnya tekanan–dalam tatapan iba kepada pasangan yang belum juga “dikaruniai” dan pertanyaan yang diulang setiap Lebaran sampai kita hafal logatnya. Kita tumbuh dalam masyarakat yang menempatkan anak sebagai simbol kelengkapan, bukan sebagai subjek yang kelak memiliki kesadarannya sendiri, mimpinya sendiri, dan lukanya sendiri yang mungkin sebagian berasal dari kita. 

Keluarga adalah ruang pertama tempat seorang manusia belajar tentang dunia. Tentang: apakah dunia ini aman atau tidak, apakah ia boleh menangis atau tidak, apakah cinta datang dengan syarat atau tanpa syarat. Pelajaran itu tidak diberikan lewat ceramah, tapi diserap lewat atmosfer, lewat cara kita diam, cara kita meledak, cara kita meminta maaf atau ketidakpernahan kita melakukannya.

Ribuan kasus kekerasan terhadap anak dilaporkan setiap tahun, dan sebagian besar terjadi di ruang domestik. Rumah, yang dalam bayangan kita disebut tempat paling aman, justru kerap menjadi tempat pertama untuk retaknya rasa aman. Kita sering menyebut kekerasan sebagai “khilaf” atau “emosi sesaat”. Padahal ada kemungkinan lain yang lebih tidak nyaman untuk diakui, bahwa itu bukan khilaf, melainkan pola. Pola itu juga yang dulu kita terima, yang tidak pernah kita beri nama, yang kita pikir sudah kita tinggalkan, tapi ternyata hanya kita bawa dalam koper yang berbeda.

Jutaan anak lain dikategorikan terlantar, bukan dalam artian tidak punya atap, tapi karena tumbuh tanpa cukup dilihat, tanpa dialog, dan tanpa ruang untuk mengatakan bahwa mereka takut, lelah, serta butuh sesuatu yang tidak bisa mereka namai. Seseorang bisa tinggal satu atap dengan orang tuanya seumur hidup dan tetap tumbuh dalam kesepian yang tidak punya nama. 

Berkembang biak adalah kapasitas tubuh. Berkembang baik adalah kerja kesadaran. Kalimat itu benar, meski tidak pernah cukup.

Keduanya tidak harus berurutan. Garis batas antara “sudah cukup baik” dan “belum cukup baik” tidak pernah benar-benar ada. Dan karena beberapa luka, ironisnya, baru tersadari setelah kita menjadi orang tua, bukan sebelumnya. Beberapa pertanyaan tentang diri sendiri baru muncul di tengah malam, ketika menggendong anak yang menangis tanpa sebab yang jelas dan kita tiba-tiba melihat bayangan diri kita sendiri di masa kecil, dalam ingatan yang sudah lama tidak dikunjungi.

Menjadi orang tua, bagi yang mau, juga bisa menjadi cara untuk bertumbuh. 

Tapi ini bukan berarti boleh untuk ceroboh. Ini pengingat bahwa perjalanan itu tidak harus selesai sebelum dimulai, asalkan kita benar-benar mau menjalaninya dengan sadar–selama kita tidak hanya meneruskan apa yang pernah kita terima tanpa sempat bertanya apakah ini memang yang ingin kita berikan? 

Dan satu hal lagi yang perlu disebutkan adalah bahwa kemampuan untuk bertumbuh itu tidak sepenuhnya soal kemauan. Ia juga soal kondisi. Soal apakah kita punya waktu untuk beristirahat, akses untuk mencari bantuan, lingkungan yang tidak menguras habis sisa energi sebelum kita sampai di pintu rumah. Berbicara tentang kesiapan batin tanpa menyebut ini adalah kemewahan yang berpakaian nasihat. Dan nasihat yang tidak melihat konteksnya bisa dengan mudah menjadi penghakiman. 

Ada luka-luka yang mungkin tak pernah benar-benar selesai. Luka yang tersimpan dalam cara kita berbicara, dalam intonasi yang meninggi, dalam kecenderungan untuk mengontrol hal-hal kecil karena hal-hal besar terasa terlalu besar. Kita sering menyebutnya karakter. Padahal bisa jadi itu hanyalah trauma yang tidak sempat diberi nama, lalu berlindung di balik kata “didikan”, atau “begini cara saya dibesarkan”.

Anak tidak belajar dari nasihat. Ia belajar dari atmosfer, juga cara orang tua merespons kegagalan, cara kita bertengkar, dan cara kita mencintai atau tidak mencintai diri sendiri.

Maka, alangkah baiknya berkembang biak juga diiringi dengan berkembang baik. 

“Berkembang baik” bukan garis finish yang harus dicapai sebelum boleh melangkah, melainkan sebuah niat yang bisa dimulai kapan saja, bahkan setelah anak sudah lahir dan sudah belajar memanggil nama kita. 

Yang paling menentukan bukan kapan. Yang menentukan adalah apakah kamu mau. Melahirkan seorang manusia berarti menghadirkan kesadaran baru ke dunia, kesadaran yang akan memandang kita sebagai referensi pertama soal cinta, batas, dan dunia. 

Kita mungkin tidak pernah menjadi orang tua yang sempurna. Tapi ada jarak yang cukup jauh antara tidak sempurna dan tidak mau tahu. Dan mungkin, di tengah masyarakat yang lebih sibuk menanyakan kapan, pertanyaan yang lebih layak untuk kita bawa pulang adalah sudahkah kita cukup aman di dalam diri kita sendiri untuk menjadi tempat yang aman bagi orang lain?

Jika belum, menunda bukan bentuk ketakutan, justru bentuk kasih sayang yang paling awal, yang paling sunyi, dan yang paling jarang mendapat nama.

Muhammad Shidqi Aldiansah

Gen Z yang tumbuh dengan mengagumi kultur pop 90-an. Suka sekali mie ayam. Aktif bermain di Boejang Media (@boejang___) dan Infipop (infipop.id), serta turut berbagi di beberapa media seperti Pop Hari Ini, Pandemic Talks, dan beberapa lainnya.
  • Muhammad Shidqi Aldiansah

    Gen Z yang tumbuh dengan mengagumi kultur pop 90-an. Suka sekali mie ayam. Aktif bermain di Boejang Media (@boejang___) dan Infipop (infipop.id), serta turut berbagi di beberapa media seperti Pop Hari Ini, Pandemic Talks, dan beberapa lainnya.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga