Kita yang Saling Menemukan di Tengah Ketidakpastian

Catatan setelah mendengarkan “Mungkin di Depan Buram” dari Idgitaf.

Kita yang Saling Menemukan di Tengah Ketidakpastian

Catatan setelah mendengarkan “Mungkin di Depan Buram” dari Idgitaf.

17/04/2026

Aku pernah duduk di sebuah halte bus TransJakarta tanpa benar-benar memutuskan ingin pergi ke mana. Terdengar agak aneh memang saat kendaraan datang dan pergi, orang-orang naik dengan tujuan yang jelas, sementara aku tetap di tempat menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tau bentuknya. Entah aku akan naik koridor arah kota, Blok M atau ke mana pun, aku masih saja bingung.

Saat itu, aku hanya ingin menghirup udara luar, tapi bahkan untuk itu aku tidak tau harus ke mana. Dan di antara semua ketidakpastian itu yang paling pasti adalah jalan pulang. Ketika pulang itu berbentuk rumah mungkin mudah untuk mendefinisikannya, tapi jika pulang yang dimaksud adalah yang lain, maknanya jadi berbeda.

Kemudian ada titik ketika aku mulai mempertanyakan jalan keluar dari kejenuhan, Bagaimana jika hidup tidak pernah benar-benar memberi kita arah yang jelas, tapi kita tetap harus menjalaninya? Yang bisa dibayangkan hanyalah beragam kemungkinan yang bisa saja akan terjadi atau tidak sama sekali.

Lagu “Mungkin di Depan Buram” dari Idgitaf tidak mencoba menjawab kegelisahan seperti itu. Ia justru mengajak kita untuk tinggal di dalamnya dan merasakan saat kita berjalan di tempat yang tidak selalu jelas arahnya, tapi diam-diam mempertemukan kita dengan sesuatu, atau seseorang, yang kita butuhkan.

Tapi kadang, perpisahan justru menjadi awal dari refleksi, seperti bait pembuka lagu ini: Aku berduka atas apiku yang lama padam…

Ada masanya, hidup membawa terang, namun kemudian perlahan nyala itu menjadi temaram. Kadang semuanya memang tak mendadak menghilang dalam satu waktu, tapi yang perlahan memudar ini membuat kita pelan-pelan sudah terbiasa hidup tanpanya. Dan saat tiba-tiba gelap, barulah kita sadar ada sesuatu dalam diri kita yang sudah benar-benar hilang.

Seperti malam-malam ketika aku terjaga lebih larut, memandangi arsip-arsip memori dari beberapa waktu lalu, mencoba menemukan kembali versi diriku yang terasa lebih hidup di masa itu. Ada juga hari-hari ketika aku duduk di tempat yang sama, tapi dengan perasaan yang sangat berbeda. Seakan ruangnya tidak berubah, tapi aku yang sudah tidak lagi sama.

Banyak dari kita mulai kehilangan arah saat memasuki fase transisi, ketika semuanya terasa lebih asing dari biasanya, langkah-langkah makin tak pasti, dan ada lebih banyak hal yang dipertaruhkan.

Masa depan yang belum terbaca sering kali menimbulkan rasa takut, ada dua kata yang digambarkan dalam lagu ini, yaitu “buram” dan “seram”. Perasaan tidak aman itu bisa datang bukan hanya datang dari luar, tapi juga dari dalam diri yang belum selesai.

Suatu hari aku mencoba menulis pesan panjang di layar ponselku dengan penuh keraguan. Mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi; kadang aku hanya ingin ada yang tau kalau aku sedang tidak baik-baik saja, tapi pada akhirnya pesan itu tak pernah kukirimkan. Sayangnya bukan karena tak ada yang bisa dihubungi, melainkan karena aku takut tidak ada yang memahamiku seutuhnya.

Di lain waktu aku mulai sadar kalau tidak harus selalu memendam semuanya sendiri dan bahwa membuka diri, meskipun pelan, merupakan bentuk keberanian. Sebab saat gelap kita sering kali merasa benar-benar sendirian, padahal bisa jadi tidak. Kadang pertemuan paling berarti justru terjadi saat kita sedang tidak baik-baik saja.

Jadi, bukan tentang menemukan seseorang dalam kondisi terbaik, tapi tentang dua orang yang sama-sama berada di titik rendah, lalu memilih bertahan bersama. Sesuatu yang mungkin tidak menyelamatkan secara langsung, tapi cukup untuk membuat kita tidak tenggelam sepenuhnya.

Lalu, seperti banyak hal dalam hidup yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan mudah, mungkin betul bahwa doa yang pernah dilantunkan tak pernah sia-sia. Walaupun ia tak datang dalam bentuk yang dibayangkan, ia bisa menjelma pertemuan atau kesempatan yang kadang bahkan terlewatkan. Bahkan, apa yang kita anggap kebetulan bisa jadi merupakan jawaban yang datang dengan cara yang tidak kita duga.

Barangkali itu sebabnya lagu ini menyelipkan kisah Nabi Musa yang membelah Laut Merah. Bukan sebagai janji bahwa keajaiban besar akan selalu datang, tapi sebagai pengingat bahwa jalan keluar sering kali tidak terlihat sebelum kita benar-benar melangkah ke dalamnya. Selalu ada kemungkinan yang terbuka walaupun terasa mustahil.

Kendati mukjizat seperti itu mungkin bukan milik kita yang merupakan manusia biasa, keajaiban tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia menjelma dalam hal-hal yang hampir tidak terlihat, misalnya kekuatan untuk bertahan satu hari lagi, mencoba sedikit lagi, atau sekadar tetap membuka diri ketika rasanya lebih mudah untuk menutup semuanya. Selalu ada cara-cara untuk kembali menyalakan api yang pernah padam, meskipun perlahan.

Dalam lagu ini “yang ditemukan” memang terlihat berbentuk seseorang, tapi maknanya juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang lebih luas. Memang bisa jadi seseorang, tapi mungkin bisa juga bicara tentang keimanan, momen, ruang, atau bahkan bagian dari diri yang sempat hilang lalu perlahan kembali.

Tapi tentu saja, tidak semua orang membaca lagu ini dengan cara yang sama.

Saat kutanyakan ke beberapa temanku, banyak yang memaknai lagu ini sebagai lagu tentang cinta dan itu masuk akal, tentang menemukan seseorang yang datang di waktu yang tepat, lalu menjadi tempat pulang di tengah ketidakpastian hidup. Memang, ada kehangatan di dalamnya. Ada rasa ingin menggenggam, ada pelukan tak ingin kehilangan. Mungkin yang membuatnya terasa begitu dalam adalah karena cinta di sini tidak datang untuk menyelesaikan segalanya. Ia datang untuk saling menemani berjalan.

Bagiku, ini bukan sekadar lagu tentang jatuh cinta karena aku tidak sedang mengalaminya atau mungkin karena yang paling hilang saat ini adalah diriku sendiri. Lagu ini terasa seperti berbicara tentang bagaimana kita diselamatkan bukan hanya oleh seseorang, melainkan oleh apa pun yang datang di saat kita hampir kehilangan diri sendiri, dan di situlah kita semestinya percaya pada secercah harapan, bahkan dari yang sempat padam.

Bait penutup lagu ini: ku selamatkanmu, kau selamatkanku. Aku membaca baris ini bukan hanya sebagai hubungan antara dua orang yang saling menemukan dan menyelamatkan, tapi bisa juga sebagai pertemuan antara dua bagian dalam diri yang sempat saling kehilangan dan akhirnya berhenti saling meninggalkan.

Mungkin masa depan memang tetap akan buram dan tak bisa ditebak, mungkin itu akan tetap terasa seram saat dibayangkan, dan tak ada yang tau betul ke mana arah ini akan berakhir. Tapi selama masih ada sesuatu yang bisa digenggam, meskipun itu hanya sisa kecil dari seseorang yang hadir, dari pintu yang terbuka, dari doa yang pernah dilangitkan atau mungkin bagian dari diri yang belum sepenuhnya padam, tak ada yang benar-benar sendirian.

Seperti hari itu di halte, setelah cukup lama duduk tanpa tujuan, akhirnya aku memutuskan naik satu bus yang datang bukan karena tau arahnya, tapi karena aku tidak ingin terus diam. Aku pergi sebentar, tanpa semua jawaban. Di perjalanan itu aku menyadari bahwa aku tidak sepenuhnya sendirian. Ada seseorang yang hadir, ada hal-hal kecil yang kembali, dan ada bagian dari diriku yang perlahan ingin pulang. Mungkin sejak awal ini bukan tentang ke mana aku akan pergi, melainkan tentang bagaimana aku tetap berjalan, sambil menemukan kembali diriku di jalan yang belum pasti.

Siwa Fathma Jaelani

Mahasiswa pascasarjana yang sedang menempuh studi lintas jurusan, ia tertarik dengan cara-cara dunia bekerja melalui pengalaman hidup hingga hal-hal sederhana di sekitar.
  • Siwa Fathma Jaelani

    Mahasiswa pascasarjana yang sedang menempuh studi lintas jurusan, ia tertarik dengan cara-cara dunia bekerja melalui pengalaman hidup hingga hal-hal sederhana di sekitar.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga