Ada satu jenis sunyi yang hanya bisa saya temukan ketika berlari. Selama satu-dua jam, dunia menyempit menjadi dua hal saja: napas dan langkah. Surel yang belum dibalas, berita yang membuat dada sesak, urusan yang tak kunjung selesai, semuanya tertinggal di belakang.
Rasa lelah yang menjalar di betis dan paru-paru ini justru terasa melegakan. Seolah tubuh sedang mengambil alih beban yang selama ini dipikul kepala sendirian.
Karena itulah saya percaya lari bisa menjadi pelarian. Dari tekanan pekerjaan, persoalan sehari-hari, kesuraman yang terasa lebih besar dari diri kita, yang kerap tumbuh dari sistem dan struktur yang tak kunjung berbenah.
Kita menyaksikan bencana datang dan pertolongan tiba terlambat. Kita melihat masalah muncul, lalu yang lebih sering diperdebatkan adalah siapa yang salah, bukan bagaimana memperbaikinya.
Kita kecewa, kemudian lelah, lalu kita mengikat tali sepatu dan berlari lagi. Namun kenyataan punya caranya sendiri untuk menyusul. Ia menunggu di garis finish, di layar ponsel saat kita berhenti mengatur napas, di kabar pagi keesokan harinya.
Awalnya cukup 5K. Lalu 10K. Half marathon. Marathon. Ultramarathon.
Saya kerap bertanya, apakah kita menambah jarak karena ingin menjadi lebih kuat dan lebih cepat? Atau sebenarnya kita hanya ingin berada sejauh mungkin dari kenyataan, satu kilometer demi satu kilometer?
Perlahan, pelarian itu bisa berubah menjadi obsesi. Harus ikut lomba, harus mencapai garis finish dan pulang membawa medali. Apalagi setelah berbulan-bulan orang-orang di sekitar kita ikut menyaksikan persiapannya.
Ingin menjadi bagian dari keramaian itu wajar. Persoalannya muncul ketika finish harus dicapai apa pun caranya. Padahal setiap lomba punya batas waktu, dan ketika batas itu tiba, tidak semua orang sanggup menerimanya.
Ada yang tetap memaksa melanjutkan. Yang lainnya menerobos barikade. Ada pula yang mencoba mengambil medali tanpa benar-benar menuntaskan lomba. Mungkin karena berhenti terasa seperti kalah. Dan ketika lari sudah menjadi bagian dari identitas, gagal finish bisa terasa seperti gagal menjadi diri sendiri.
Barangkali kita perlu kembali bertanya: sebenarnya untuk apa kita berlari? Untuk kesehatan, kesenangan, komunitas, atau validasi? Masih ingatkah kita pada keluarga yang menunggu di rumah?
Keinginan untuk finish itu baik, dan rasa bangga ketika berhasil memang layak dirayakan. Tapi ada hari-hari ketika kita harus bisa berkata pada diri sendiri: maybe today is not our day. DNF bukan aib. Ia tidak mengurangi siapa kita sebagai pelari.
Yang membuat saya cukup termenung justru apa yang terjadi setelahnya. Video para pelari yang melanggar aturan itu menyebar luas. Identitas mereka dicari, tempat kerja mereka ditandai, sebagian orang menuntut mereka kehilangan pekerjaan.
Mereka memang keliru. Tapi mengapa amarah kita bisa sebesar itu, untuk sebuah pelanggaran di lomba lari?
Barangkali karena kita terlalu sering menyaksikan pelanggaran yang jauh lebih besar berlalu tanpa konsekuensi. Kasus yang menguap tanpa penjelasan. Keadilan yang terasa tumpul ke atas. Kita lama memendam rasa tak berdaya, dan ketika akhirnya ada pelanggaran yang bisa kita jangkau, seluruh frustrasi itu tumpah ke sana.
Mungkin kita tidak sedang marah pada mereka. Kita sedang marah pada hal-hal yang tak pernah bisa kita sentuh.
Dunia lari hanyalah cermin kecil dari dunia nyata. Bedanya, di lintasan, aturan ditegakkan dengan lebih konsisten, oleh penyelenggara dan juga oleh komunitas yang saling mengingatkan, seperti masyarakat sipil dalam skala kecil.
Itu sesuatu yang patut dijaga. Tapi menjaga tidak sama dengan menghakimi tanpa jeda.
Kita berlari untuk melupakan kenyataan. Kita marah untuk melampiaskannya. Tapi jika keduanya hanya membawa kita semakin jauh ke titik ekstrem, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak, menarik napas, dan kembali menghadapi kenyataan itu dengan kepala yang lebih jernih.