Cekik Asap Itu Belum Sampai ke Depan Pagar Istana

Gempa dan asap punya sebab yang berbeda, tetapi cara negara menghadapinya selalu sama: terlambat, lalu menjelaskan.

Cekik Asap Itu Belum Sampai ke Depan Pagar Istana

Gempa dan asap punya sebab yang berbeda, tetapi cara negara menghadapinya selalu sama: terlambat, lalu menjelaskan.

13/10/2026

Sumber Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman via detik.com

Aku tidak tau persis apakah langit di sekitar istana selalu terlihat biru terang setelah Anak Krakatau berhenti batuk, atau tetap muram karena tertutup polusi. Namun yang pasti, di Kalimantan dan Sumatra, matahari terbit bukan sebagai hangat yang bisa menemani bocah-bocah berlarian di bawah rindang dedaunan yang menggantung pada ranting pohon. Matahari di sana belakangan ini berubah serupa bola tembaga pucat yang meratap di balik tirai jerebu.

Pada hari Jumat, 2 Oktober 2026, seorang pengemudi ojek daring meregang nyawa di Palembang. Istrinya bercerita bahwa asma suaminya kambuh saat kabut pekat menyelimuti kota yang mereka tinggali. Di Banjarmasin, seorang guru honorer yang punya riwayat penyakit asma berakhir sama, sempat dirawat intensif, tetapi nyawanya gagal tertolong. Di Jalan Lintas Timur Sumatra, asap dari lahan tebu yang terbakar diduga membuat kendaraan saling tabrak di jalan lintas, sehingga menyebabkan dua orang tewas dalam perjalanannya. 

Korban dari bencana ini bukan hanya manusia. Di Ketapang, seekor orangutan ditemukan lemas di parit kering pada sebuah kebun sawit, kesulitan bernapas, dan sore itu ia mengembuskan napas terakhirnya. Di belahan lain Borneo, berbagai spesies ditemukan mati terbakar di habitat yang telah berubah padang arang. Ini hanyalah beberapa contoh peristiwa dari sekian banyaknya korban terdampak dari bencana ekologis yang sangat tragis.

Padahal, kita semua tau seperti apa negara ini kalau mereka mau bergerak cepat untuk meminimalkan korban. Ingatan kita belum terlalu jauh untuk melupakan bagaimana saat Anak Krakatau batuk. Kepanikan tersebut langsung merayap ke meja-meja birokrat. Seluruh lini masa dan layar kaca dipenuhi hiruk-pikuk, berita darurat berseliweran tanpa henti, dan mitigasi digerakkan dalam hitungan jam. Ini semua terjadi karena abunya ikut terbang ke Jakarta, mengancam kenyamanan para pengambil kebijakan. Gunung tersebut erupsi sejak Jumat malam, dan Minggu paginya abunya tercatat sudah sampai ke sebagian Jakarta. Abu vulkanik tersebut sempat menempel di jalan sekitar Bundaran HI, dan sebagian pengunjung CFD memakai masker.

Saat bencana ini terjadi, media berduyun menurunkan beritanya, Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara, berbagai instrumen negara turun untuk membagikan masker di jalan, dan BNPB menyiapkan operasi modifikasi cuaca agar hujan meluruhkan abunya. Dua hari kemudian, BMKG melaporkan abu tidak lagi mengarah ke Jakarta, dan ibu kota diklaim aman. Itu merupakan respons yang tepat, dan kita semua tidak keberatan. Kita semua hanya ingin tau kapan warga di luar ibu kota bisa mendengar kabar mitigasi yang sama karena asap yang sudah berbulan-bulan menyelimuti Sumatra dan Kalimantan tidak pernah mendapat perhatian secepat itu.

Ini merupakan lagu lama yang selalu berulang. Di Flores, setelah gempa, data BNPB menunjukkan lebih banyak orang meninggal di pengungsian ketimbang oleh bencana gempa itu sendiri. BNPB menjelaskan kebanyakan dari mereka lansia yang meninggal karena komplikasi penyakit kronis. Penjelasan tersebut membuat kita semakin menepuk jidat karena tempat paling aman bagi penyintas bencana seharusnya posko pengungsian. Lalu, setelah kematian demi kematian itu terbuka, beberapa pihak yang bertanggung jawab baru mulai angkat bicara. Gempa dan asap punya sebab yang berbeda, tetapi cara negara menghadapinya selalu sama: terlambat, lalu menjelaskan. 

Kini, asap tersebut sudah melompati batas administrasi antarnegara. Partikel tersebut bergerak menyeberangi lautan sehingga negara tetangga ikut merasakan dampaknya. Negeri Jiran menutup sekolah di sejumlah wilayah, Marina Bay Sands nyaris lenyap di balik asap, lalu perdana menteri negeri sebelah menghubungi penghuni istana secara langsung pada tanggal 8 Oktober 2026. Hal ini serupa tetangga yang mengetuk pintu rumah karena asap pembakaran halaman sendiri masuk ke rumahnya, sementara kita masih bersikukuh menjelaskan bahwa gulma dan lalang di halaman memang perlu dibakar untuk meneroka lahan yang akan ditanami komoditas unggulan. Malu rasanya, sebab tetangga yang napasnya tercekat lebih dulu mengulurkan tangan untuk membersihkan apa yang terjadi di halaman rumah sendiri. 

Korban-korban yang menjadi kegagalan dari lambatnya mitigasi tersebut bukanlah statistik belaka. Mereka merupakan kepala keluarga, ibu dari banyak anak, ataupun penghuni yang sudah puluhan tahun menjaga ekosistem di tengah belantara. Saudara kita yang berada di luar ibu kota harus menunggu sampai berapa lama lagi? Sementara, ibu kota terus menambah lantai pencakar langit dari keuntungan yang dikeruk dari tempat yang saat ini tanahnya masih membara.

Rega Maulana

Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Andalas yang lahir di Bukittinggi pada sabtu terakhir bulan Juni tahun 2000. Saat ini sedang mencoba konsisten di koridor kebudayaan sebagai pekerja teks komersil kontemporer.
  • Rega Maulana

    Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Andalas yang lahir di Bukittinggi pada sabtu terakhir bulan Juni tahun 2000. Saat ini sedang mencoba konsisten di koridor kebudayaan sebagai pekerja teks komersil kontemporer.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga