Menyikapi Konflik, Memutus Perundungan

Barangkali, pencegahan perundungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: kesediaan guru untuk terbuka, orang tua untuk mendengarkan, dan anak-anak yang mendapatkan ruang untuk belajar dari kesalahannya tanpa kehilangan kesempatan untuk kembali berteman.

Menyikapi Konflik, Memutus Perundungan

Barangkali, pencegahan perundungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: kesediaan guru untuk terbuka, orang tua untuk mendengarkan, dan anak-anak yang mendapatkan ruang untuk belajar dari kesalahannya tanpa kehilangan kesempatan untuk kembali berteman.

18/10/2026

Selasa siang aku pulang seperti biasa. Ibu dan bapakku bekerja. Jadi, kakek yang setiap hari menjemput aku dan adik. Kami sempat tertidur di jalan. Biasanya memang aku ngantuk kalau sudah duduk di mobil. Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas ganti baju dan makan siang. Kakek juga ikut makan bersama sebelum ia kembali ke rumahnya.

Setelah itu aku dan adik bermain dan menggambar bersama. Kami berdua hanya terpaut 2 tahun. Jadi, apa pun yang aku suka, adikku ikut menyukainya. Kami suka bermain robot dan Kaiju. Saling beradu fisik. Tapi tidak pernah saling melukai.

Sampai malam hari tiba, dan ibu bapakku sudah ada di rumah, kami bersiap tidur. Tiba-tiba ibuku bertanya, “Kamu tadi ada apa di sekolah, mau cerita sama ibu? Dengan segera aku jawab, “Tidak ada apa-apa bu.” Lalu ibuku kembali menanyakan soal hal yang lebih spesifik, “Kamu tadi menangis? Apa yang membuat kamu menangis?”

Aku baru ingat, ternyata tadi di sekolah aku dan temanku saling menangis. Aku kena pukul di pipi karena ia beraksi atas ucapanku yang tidak membuatnya nyaman. Kami sebelumnya saling bercanda. Ditegur ibu guru karena keusilan kami, aku jadi bersikap mengadukan apa yang terjadi. Ternyata temanku tidak nyaman diadukan kalau dirinya melakukan hal yang tidak baik. Memegang kaki adik di kelas sebelah yang kebetulan pembatas kelasnya berongga.

Kami dipanggil kepala sekolah untuk didamaikan. Dan kami saling memaafkan. Aku juga diberikan balsem pereda nyeri. Saat itu juga aku sudah melupakan kejadian tersebut. Dan kami bermain kembali. Kalau saja ibuku tak bertanya, aku benar-benar tidak ingat. Karena bagiku itu bukan masalah. Dan aku tidak membalas memukul karena tidak ingin menyakiti temanku. Itu yang orang tuaku selalu bilang. Harus jadi anak yang baik dan penuh kasih.

Tunggu dulu, tulisan di atas, sebagian adalah imajinasi saya membayangkan jika anak saya bisa menuliskan kisahnya. Sayup-sayup terdengar obrolan ia dengan ibunya ketika saya sedang salat Isya. Sebagai bapak, sikap otomatisnya adalah merespons apa yang sedang terjadi dengan anak-anak di sekolah. Usai berdoa, saya bergegas untuk gabung dalam obrolan mereka.

Kini bapak sedang menulis dari apa yang mereka obrolkan. Rupanya si ibu tau kejadian tersebut lantaran ditelepon oleh gurunya siang tadi. Ada laporan kejadian yang persis diceritakan anak saya tersebut. Ceritanya konsisten. Selaras dengan informasi yang disampaikan.

Mendengar hal ini, saya usulkan ke istri untuk berbicara dengan guru secara langsung esok hari saat mengantarkan dirinya ke sekolah. Kami ingin mengapresiasi upaya sekolah yang memberikan informasi terang benderang. Dan ini penting. Sebab tidak boleh ada pembiaran terhadap perilaku aksi-reaksi dari siswa yang berkonflik.

Sudah banyak kasus-kasus perundungan terjadi akibat pembiaran yang dilakukan oleh pihak sekolah. Bahkan belum lama, di Pemalang sampai meninggal dunia. Saya yakin, pihak sekolah tidak ada tendensi buruk. Mereka punya tujuan baik agar konflik tidak berkepanjangan hingga melibatkan kedua orang tua murid. Jadi lebih baik apinya dipadamkan.

Sayangnya, pihak sekolah luput bahwa api tersebut hanya padam di permukaan. Masih ada bara api yang tersisa namun tak terlihat. Bara api itu bisa berupa sikap dendam atau bahkan luka fisik bagian dalam.

Bagi kami sebagai orang tua, penyelesaian konflik tidak semestinya berhenti ketika kedua anak telah saling memaafkan. Ada hal lain yang perlu dipastikan, apakah keduanya memahami apa yang terjadi, bagaimana perasaan mereka, dan apa yang bisa dipelajari agar kejadian serupa tidak terulang. 

Kami hanya orang tua yang beruntung mendapatkan lingkungan sekolah (guru dan orang tua) yang peduli dan sadar. Kami pun berhasil terkoneksi dengan orang tua teman sekolah anak saya yang berkonflik tadi.

Pihak sekolah anak saya mengambil langkah tegas untuk menyikapi kekerasan fisik di sekolah. Respons para orang tua dalam menyikapi situasinya juga saling kooperatif. Yang terpenting, kami saling peduli kondisi perasaan dan fisik anak-anak kami. Bukan menitikberatkan mencari siapa yang salah dan benar. Karena kami sadar betul, anak-anak seumuran mereka masih belum mengerti sepenuhnya bagaimana menyikapi konflik. Yang mereka tau, setelah salaman dan bermaafan, mereka bisa kembali main. Namun residu konfliknya perlu ditangani sampai selesai. Kami semua (para orang tua dan guru) sama-sama hadir untuk hal ini.

Sejenak kami berpikir usai menghadap guru dan berkomunikasi dengan orang tua teman anak saya. Ternyata hal yang terpenting dan tidak boleh diabaikan adalah peran guru yang harus jernih menyampaikan fakta yang sebenarnya dalam sebuah kejadian. Setelah itu harus mengenyampingkan upaya untuk meredam konflik baru yang diramalkan akan timbul. Justru bagi saya, hal ini malah memperburuk keadaan. Jika orang tua tidak tau fakta yang sebenarnya di sekolah dan sang anak tidak berhasil menceritakannya dengan utuh, proses rekonsiliasi akan berjalan tidak dengan baik-baik saja.

Upaya rekonsiliasi antara siswa yang berkonflik harus berfokus pada penyadaran, bukan mencari kesalahan. Keluarga harus dirangkul untuk tidak mencari siapa yang salah dan benar. Tapi berupaya untuk memastikan kondisi kedua anaknya baik-baik saja. Fokusnya adalah mengidentifikasi perilaku anak.

Konflik yang terjadi harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi anak-anak baik dari sisi anak yang mengalami kekerasan dan anak yang melakukan kekerasan. Setiap anak perlu dibantu memahami bagaimana perilaku dan perkataannya memengaruhi orang lain. Namun, penting pula ditegaskan bahwa ketidaknyamanan, kemarahan, atau perselisihan tidak pernah membenarkan tindakan kekerasan.

Harus diyakini bahwa anak-anak masih berada dalam proses belajar mengenali dan mengekspresikan emosi. Perilaku agresif mereka dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kemampuan mengelola emosi, pola interaksi sosial, hingga perilaku yang mereka pelajari dari lingkungan. Karena itu, setiap konflik perlu dipahami secara utuh, bukan sekadar dihentikan dan diminta langsung bermaaf-maafan. Apalagi tidak melibatkan orang tua sama sekali dalam prosesnya.

Orang dewasa perlu memastikan konflik diselesaikan dengan baik, tetapi juga perlu menghormati kemampuan anak untuk berdamai, memaafkan, dan melanjutkan hubungan secara sehat. Ada saatnya anak memang sudah selesai dengan persoalannya, sementara tugas orang dewasa cukup memastikan bahwa ia merasa aman, didengar, dan memahami batasan yang sehat.

Bagi anak saya, konflik itu mungkin telah selesai ketika ia dan temannya saling memaafkan dan kembali bermain. Dan mungkin memang demikian. Tugas kami sebagai orang dewasa bukan memperpanjang persoalan yang sudah mereka selesaikan, melainkan memastikan bahwa keduanya merasa aman dan mendapatkan pembelajaran dari peristiwa tersebut.

Tidak setiap konflik akan berkembang menjadi perundungan. Namun, setiap konflik memberi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenali emosi, menghormati batasan orang lain, dan menyelesaikan ketidaknyamanan tanpa kekerasan.

Barangkali, pencegahan perundungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti ini. Dari kesediaan guru untuk terbuka, orang tua untuk mendengarkan, dan anak-anak yang mendapatkan ruang untuk belajar dari kesalahannya tanpa kehilangan kesempatan untuk kembali berteman.

Bila semua hal ini diabaikan, kita berisiko membiarkan anak-anak tumbuh tanpa pemahaman yang cukup tentang emosi, tindakan, dan konsekuensi dari setiap konflik yang mereka hadapi. Sebab, saya meyakini bahwa konflik yang tidak ditangani dengan tepat dapat membuka ruang bagi kekerasan berulang hingga perundungan. Maka, sebanyak apa pun berita dan konten tentang perundungan yang kita saksikan, semuanya tidak akan cukup jika kesadaran itu tidak hadir dalam keseharian kita.

Di sinilah pentingnya kehadiran orang dewasa. Bukan menunggu hingga konflik membesar, melainkan memilih untuk tidak mengabaikan konflik-konflik kecil dalam keseharian anak. Sudah saatnya kita menjadi orang tua dan guru yang memiliki kesadaran tersebut. Penyelesaian konflik yang baik seharusnya membuat orang tua memahami akar masalah sehingga tidak menjadi potensi perundungan di kemudian hari.

Dzulfikri Putra Malawi

Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku “LOKANANTA” secara kolektif.
  • Dzulfikri Putra Malawi

    Praktisi media, jurnalis, dan penulis yang sangat antusias dalam mengembangkan strategi komunikasi yang berdampak dengan mengorkestrasi ide-ide untuk kebutuhan audiens dan media. Terlibat dalam industri musik bersama Wara Musika (Story Telling Music Agency) yang didirikannya tahun 2018; menulis buku "LOKANANTA" secara kolektif.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga