Kembali ke Sini kalau Berita tentang Asap di Berandamu Hilang A.S.A.P.

Hadehhh, ini lagi aja beritanya.
Sumber Foto: ANTARA/Auliya Rahman via Tempo
Sumber Foto: ANTARA/Auliya Rahman via Tempo

Kembali ke Sini kalau Berita tentang Asap di Berandamu Hilang A.S.A.P.

Hadehhh, ini lagi aja beritanya.

22/10/2026

Sumber Foto: ANTARA/Auliya Rahman via Tempo

Kamu bangun tidur. Dengan badan yang masih setengah sadar dan beberapa kotoran mata yang menempel, kamu menyambar smartphone di samping kasurmu. Tanganmu dengan cepat membuka media sosial. Ada banyak postingan, tapi hampir semuanya menunjukkan palet warna yang sama: oranye keruh.

Kamu bergumam, “Hadehhh, ini lagi aja beritanya.”

Kamu berjalan ke arah jendela, membuka gorden yang berkilau. Kamu tersenyum melihat birunya langit pagi dan merahnya cahaya matahari yang mulai terlihat. Kamu menghirup udara pagi dalam-dalam, tersenyum, kemudian keluar dari kamar untuk mengambil beberapa potong roti.

Keesokan harinya, masih sama. Kamu mengucek mata sebentar, membuka media sosial, lalu bergumam, “Ini sampe kapan, sih? Ah, elah.”

Kamu berjalan ke arah jendela, membuka gordenmu yang berkilau. Langit masih terlihat biru, cahaya matahari mulai tampak, dan kamu masih bisa menghirup udara pagi tanpa gangguan.

Namun …

Pagi ini, tidak ada roti yang tersedia di meja makan berlapis keramik. Ternyata, penjual roti langgananmu mengalami gangguan pernapasan dan harus pergi ke puskesmas terdekat dengan biaya sendiri.

Esok paginya, ada yang berbeda. Hawa pagi ini terasa sedikit lebih panas. Punggungmu penuh dengan peluh. Kamu membuka media sosial. Konten baru sudah bermunculan, ada info tentang artis favoritmu. Kamu tersenyum.

Namun, ketika kamu membuka gorden dan melihat ke luar jendela, udara di luar rumahmu kini terasa agak sesak untuk dihirup dalam sekali tarikan. Kamu merasa ada yang beda walaupun matamu tidak terlalu bisa melihat bedanya dengan kemarin.

Besoknya, tarikan napasmu kian berat. Mandi pagi yang seharusnya menyegarkan hari ini sekadar lewat karena badanmu mengering secepat kilat.

Kamu kemudian keluar rumah. Beberapa orang memakai masker, beberapa lainnya tidak. Kamu berjalan di antara orang-orang itu. Ada seseorang yang menawarkan masker untukmu. Kamu menolak.

“Nggak usah. Ini paling bentar doang, abis itu balik normal lagi.”

Kini, kamu bangun pagi dengan badan yang terasa berat, lebih berat dari biasanya. Kamu langsung membuka gorden. Di luar jendela, kamu melihat rona warna yang familier di matamu menyelimuti pagimu.

Warna itu mulai mirip dengan yang kamu lihat di media sosial kemarin-kemarin. Kamu mencoba mencari konten yang menghibur di media sosial. Mencoba menghibur diri. Tiga puluh menit terbuang, tetapi tidak ada satu pun yang kamu tonton sampai selesai.

Dari luar rumah, terdengar bunyi sirene ambulans yang lalu-lalang. Kamu keluar rumah. Beberapa wajah orang yang kamu kenal masuk ke mobil itu. Napas mereka tersengal-sengal dan batuk mereka tidak berhenti. Makin rapat, dari yang masih ada jeda hingga tidak ada jeda sama sekali.

Kamu masih bisa bangun tidur. Namun, hawa di kamarmu yang cukup luas itu sudah terasa sempit. Kamu kembali membuka jendela dan melihat langit pagimu kini sudah sama dengan yang kamu lihat di media sosial.

Oranye keruh pekat yang mencekam. Bukan warna langit oranye merekah seperti di film yang sempat kamu tonton malam sebelumnya. Tarikan napasmu kini diikuti bunyi ngik, dan tenggorokan sampai langit-langit mulutmu terasa amat gatal walaupun kamu tahu itu tidak bisa digaruk.

Kamu mencoba membuka media sosial. Tiba-tiba, aplikasinya hanya menampilkan tulisan “Gagal memuat, coba lagi”.

Aneh … karena pulsa dan Wi-Fi-mu tidak pernah bermasalah, kecuali memang ada yang bisa melemahkan sinyalnya di luar pihak provider. Kamu keluar rumah dan terpapar kepulan partikel yang tadi membentuk rona oranye keruh di jendelamu. Napasmu semakin naik turun. Penglihatanmu perlahan menggelap.

Pekat makin pekat. Gelap makin gelap.

Kalau postingan berupa data, infografis, dan opini tentang apa yang terjadi dengan saudara kita di Kalimantan masih menyisakan ruang untuk tidak peduli dan berpikir semua akan baik-baik saja, mungkin kini saatnya hadir cerita tentang realitas yang membuat kamu bisa membayangkan berada di dalam kondisi itu sendiri.

Cerita yang menjadi bagian dari data, infografis, dan realitas yang melahirkan banyak opini bahwa ini semua sedang tidak baik-baik saja.

Dwiky Mahendra

Lulusan baru Ilmu Politik UI. Sedang merakit asa menjadi penulis skenario & sutradara dan terus berproses menjadi manusia lewat berbagai medium bercerita.
  • Lulusan baru Ilmu Politik UI. Sedang merakit asa menjadi penulis skenario & sutradara dan terus berproses menjadi manusia lewat berbagai medium bercerita.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga