Mengapa kesehatan mental juga politis? Konsep personal troubles dan public issues dari C. Wright Mills dalam The Sociological Imagination mengajarkanku bahwa pengalaman yang terasa “pribadi” perlu dibaca melalui kondisi sosial dan institusi sehingga kita sadar bahwa ada yang salah secara struktural.
Misalnya, isu pengangguran membantu kita membedakan masalah seseorang dari masalah yang muncul ketika kesempatan kerja menyusut secara luas. Risiko sejumlah gangguan mental juga berkaitan dengan ketimpangan sosial.
Jika kita hanya ingin berfokus pada kegelisahan pribadi, sementara masih bisa duduk nyaman di atas sofa, mari kuatkan empati dengan mengingat bahwa ribuan orang di Kalimantan dan Sumatra sana sedang menghirup asap kebakaran hutan dan lahan. Bukan hanya mental, fisik pun ikut diserang. Pernahkah kita menilik lebih dalam bagaimana semua itu dipengaruhi secara struktural?
Semua itu adalah hasil dari kekacauan negeri ini, dengan segala ketimpangan dan minimnya respons dari pihak yang terus dimintai jawaban secara demokratis, tetapi tak pernah membalasnya.
Jadikan privilese apa pun yang kita miliki saat ini sebagai kesempatan untuk memperluas empati, bukan alasan untuk menyuarakan penderitaan pribadi tanpa melihat kanan-kiri. Sebenarnya, kita bersama-sama sedang berjuang melawan tameng struktural yang tak pernah introspeksi.
Saat kita masih bisa memikirkan mau makan apa besok, teman-teman di NTT pascabencana harus tinggal di hunian sementara. Mungkin mereka masih bisa tersenyum menyambut pagi dan malam, tetapi senyum bukan ukuran utuh keadaan seseorang. Jadikan pengamatan itu awal untuk mendengarkan, bukan dasar untuk menyimpulkan bahwa penyintas sudah pulih sepenuhnya.
Terlalu banyak ironi di bumi pertiwi. Rasanya sakit melihat hutan kita rusak, entah disengaja atau tidak. Kaitannya dengan kesehatan mental kita, survei terhadap 10.000 responden berusia 16–25 tahun di 10 negara menemukan bahwa 59% merasa sangat atau amat sangat khawatir tentang perubahan iklim. Lebih dari 45% menyatakan bahwa perasaan terkait perubahan iklim berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari dan fungsi mereka.
Kecemasan dan tekanan emosional terkait iklim berkorelasi dengan persepsi bahwa respons pemerintah tidak memadai, termasuk perasaan dikhianati.
Semakin ke sini, aku sadar bahwa privilese yang kumiliki saat ini adalah sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab untuk bersuara, berbenah, dan beraspirasi. Ubah refleksi tentang privilese menjadi pertanyaan tentang kontribusi, bukan berhenti pada rasa bersalah dan tak berdaya. Menurut social connection model dari Iris Marion Young dalam Responsibility for Justice, keterlibatan kita dalam proses sosial dapat melahirkan tanggung jawab bersama untuk menghadapi ketidakadilan struktural.
Merawat kepedulian juga persoalan demokrasi. Perawatan tidak sebatas urusan keluarga atau kebaikan pribadi; ia juga menjadi ukuran untuk membaca ekonomi, institusi, dan kehidupan politik.
Normalisasikan aspirasi rakyat sebagai bentuk kepedulian. Kita yang bersuara berhak atas pertolongan dan berhak untuk didengarkan.
Mari pusatkan perhatian pada kebutuhan dan suara orang-orang yang terdampak. Setiap jeritan jiwa yang perlu didengarkan juga membutuhkan uluran tangan, kesadaran, dan empati kita.
Bacaan lebih lanjut: Hickman, Caroline. 2021. “Climate Anxiety in Children and Young People and Their Beliefs about Government Responses to Climate Change: A Global Survey”. The Lancet Planetary Health. Diakses 22 Oktober 2026.