Mentertawakan pahitnya realitas adalah cara terbaik untuk berdamai dengan kehidupan.
Setidaknya, begitulah Devan memilih menghadapi hidup. Bagi sebagian besar pengguna media sosial, konten-konten dari akun semakindidevan adalah tempat meluapkan kepenatan atas ruwetnya dunia kerja dan dinamika negeri ini.
Namun di balik persona “motivator demotivasi” itu, ada Devan Yulio, seorang manusia dengan segala keresahan, kegagalan, dan kelakarnya. Lewat Berbagi Perspektif kali ini, Devan bercerita tentang keluarga, karier, dan caranya memandang hidup: bahwa tidak semua kepahitan harus dicari hikmahnya. Kadang, cukup ditertawakan.
Perasaan kamu belakangan ini melihat kondisi negeri dan carut-marut pemerintahan kita seperti apa sih, Devan?
Hahahaha, langsung gini, nih, pertanyaannya, ya? Kalau harus Jujur, perasaan belakangan ini most likely kesal dan geram. Ada perasaan gloomy juga melihat kondisi pemerintahan kita saat ini.
Yang bikin makin geram adalah tiap kali ada kritikan dari warga atau masyarakat, respons komunikasi publik pemerintah itu malah terkesan menganggap kritikan sebagai musuh. Bukan dianggap masukan yang membangun. Manuver-manuver pejabat dan pidato pimpinan kita akhir-akhir ini sering bikin kita mikir, “Loh, kok begini ya?”
Tapi ujung-ujungnya, rasa kesel itu cuma bisa ketahan di dalam dada. Kita nggak bisa ngapa-ngapain juga selain keluh kesah di medsos, jadi ya paling cuma bisa menumpahkannya lewat konten. Jadi apa yang tertuang di konten-konten semakindidevan itu sebenarnya murni keresahan pribadi aku.
Sebenarnya mana yang lebih dulu, kamu jadi komika (stand-up comedian) atau content creator?
Aku berangkat dari stand-up comedy dulu. Sejak SMP sekitar 2013-2014 di Cilegon, pas awal gelombang stand-up lagi ramai-ramainya, aku udah join komunitas lokal di sana. Awalnya cita-cita idealku sederhana: pengin ikut audisi SUCI (Stand Up Comedy Indonesia), masuk tiga besar, terus jadi entertainer. Tapi pas nekat ikut audisi, aku cuma dapet silver ticket. Kayaknya jalanku bukan murni di panggung stand-up nih.
Pas lulus kuliah, aku kerja di sebuah perusahaan media di Jakarta sebagai scriptwriter sekaligus talent. Nah, salah satu konten sehari-hari yang aku buat untuk program kantor itu adalah sketsa “konten demotivasi”. Atasanku melihat potensi konten itu besar banget. Dia nyuruh bikin akun dan aset media sendiri. Dari situ lahirlah persona semakindidevan.
Tapi proses merealisasikan konten pertama di akun sendiri itu susah dan berat banget. Aku tuh overthinking dan perfeksionis duluan sampai menunda-nunda upload selama 3 bulan. Sampai akhirnya editor-in-chief-ku nantangin sampai taruhan, “Devan, kalo lo dalam seminggu ke depan kagak upload konten pertama, lo harus traktir gue Steak Abuba.”
Di HP-nya langsung dipasang reminder kalau hari Senin “Devan traktir Steak Abuba”. Karena merasa ditantang dan diremehkan, egoku terpicu. Aku nekat upload konten pertama demi nggak mau bayar steak. Dari situ, baru deh belajar konsisten seminggu 3 kali upload.
Kamu kan lulusan Geografi Universitas Indonesia (UI), kok bisa akhirnya menyeberang kerja di industri media dan jadi kreator?
Aku masuk Geografi UI itu murni karena nyari peluang dan taktik lolos kampus bagus aja. Karena aku anak Cilegon yang pengin kuliah di Jakarta, aku nyari jurusan di UI yang passing grade-nya pas dengan nilai sekolahku. Kebetulan pas SMA aku pernah ikut lomba IPS bidang Geografi. Jadi pas pendaftaran jalur undangan (SNMPTN), aku milih Geografi UI dan alhamdulillah keterima.
Dari awal targetku memang pengin jadi entertainer. Jadi pas lulus kuliah, aku sama sekali nggak pernah melamar ke pekerjaan yang berbau geografi. Aku selalu mendaftar ke perusahaan yang syaratnya any major (semua jurusan), sampai akhirnya masuk ke industri media.
Tapi Ilmu Geografi UI itu ternyata kepake banget di cara berpikirku. Di UI aku ambil peminatan Geografi Manusia, yang memelajari interaksi dan pola pikir spasial antarmanusia dengan lingkungannya. Pelajaran itu secara nggak langsung melatihku untuk punya helicopter view; terbiasa melihat suatu masalah atau isu yang lagi hangat dari berbagai macam sisi secara holistik dan luas. Itu yang membentuk caraku meriset dan membedah materi konten sekarang.
Orang tua di Cilegon sempat kaget atau khawatir nggak melihat pilihan kariermu?
Orang tuaku untungnya membebaskan banget dan selalu mendukung. Pas aku milih jadi full-time content creator pun mereka ngerti.
Cuma pas awal-awal ngonten, Mamaku sempat agak khawatir ngelihat isi komentar warganet. Kan warganet kalau bercanda suka ngancem kasar tuh, kayak “Share loc bang gue samperin!” atau “Gue pukul lo, Bang!” Mamaku yang nggak paham dunia komedi medsos sempat takut dan nanya, “Ini orang-orang beneran ngancem kamu, Nak? Bahaya nggak?” Jadi aku harus pelan-pelan menjelaskan ke Mama kalau itu cuma gaya bercandaan khas anak muda di medsos.
Kalau ancaman atau hate speech yang beneran seram sih alhamdulillah hampir nggak pernah dapet.
Kenapa jarang dapet hate speech? Karena dari awal aku memposisikan diriku selevel dengan penonton: kita ini sama-sama senasib sepenanggungan yang lagi capek menghadapi masalah hidup, jadi ayo kita ketawa bareng-bareng aja. Aku bukan orang yang sok jago atau menggurui.
Selama 28 tahun hidup, fase mana sih yang rasanya paling berat yang pernah kamu lewati?
Fase paling berat itu terjadi pas transisi dari SD ke SMP. Waktu itu ekonomi keluargaku lagi drop parah gara-gara keputusan bisnis yang salah.
Aset-aset diambil, mobil dan rumah tempat kami tinggal juga harus dilepas. Kondisi ekonomi jomplang banget. Bayangin, pas SD aku sempat megang HP game Nokia N-Gage QD yang teman-teman seumuranku belum pada punya. Tapi begitu ekonomi turun, pas SMA teman-teman udah pada main BlackBerry dan bikin grup WhatsApp, aku cuma bisa SMS-an pakai HP jadul yang nggak bisa internet.
Aku sempat merasa ketinggalan pergaulan. Teman-teman ke sekolah udah bawa motor atau naik mobil, sedangkan aku nggak punya kendaraan. Bahkan bertahun-tahun keluargaku nggak bisa mudik ke rumah Nenek di Jawa Tengah dan aku nggak bisa ikut study tour sekolah gara-gara nggak ada uang. Momen-momen itu memaksa kami sekeluarga untuk hidup sangat irit dan prihatin.
Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, seperti apa penilaianmu terhadap dirimu sendiri?
Meskipun aku anak bontot, aku satu-satunya anak yang merantau ke Depok/Jakarta sejak kuliah, sementara kakak-kakakku tetap tinggal di Cilegon. Hubungan kami sangat dekat. Kalau pulang ke Cilegon, aku pasti ngajak Mama jalan-jalan kulineran. Kalau Papaku, tiap subuh dia pasti rajin telepon cuma buat ngebangunin aku salat subuh.
Kalau menilai diri sendiri, Devan itu orangnya terlalu santai.
Sisi positifnya, aku jadi orang yang jarang banget tersinggung sama omongan orang lain. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku merasa tersinggung. Prinsip hidupku: kita semua ini cuma debu kecil di semesta yang luas ini, masalah sesulit apa pun pasti bakal lewat dan selesai. Dan yang paling penting, aku selalu menanamkan di kepala bahwa everyone is replaceable, termasuk diri aku sendiri. Prinsip itu yang bikin aku santai banget menjalani hidup.
Sisi negatifnya? Ya mungkin karena terlalu santai, kadang jadinya kurang peka atau berempati pada situasi tertentu.
***
“Terlalu santai,” kata Devan ketika diminta menilai dirinya sendiri.
Ada sisi baik dari sikap itu. Ia tidak mudah tersinggung aatau terlalu memikirkan penilaian orang; seakan percaya bahwa sebesar apa pun masalah, pada akhirnya akan berlalu. Tapi kesantaian itu juga membuatnya sadar bahwa ada kalanya ia menjadi kurang peka.
Mungkin karena itu pula Devan tidak terlalu percaya pada gagasan bahwa hidup harus selalu dijalani dengan semangat dan optimisme.
***
Persona kamu dikenal sebagai “motivator demotivasi”. Menurutmu, apa kebohongan terbesar yang sering dijual oleh industri self-improvement atau motivator hari ini?
Aku pernah bikin jokes begini:
“Banyak motivator bilang: ‘Habiskan jatah gagalmu selagi masih muda!’ Tapi mereka nggak pernah bilang, ‘Emangnya kamu punya jatah sukses?'”
Menurutku, motivasi yang berlebihan itu lama-lama bisa jadi toxic. Jangan sampai orang-orang hidup di dalam gelembung (bubble) ilusi bahwa dunia ini indah sekali, aman, dan akan selalu sesuai dengan harapan kita. Kenyataannya nggak gitu.
Lebih baik kita berdamai dan menerima kondisi bahwa dunia memang sering kali nggak baik-baik aja. Dan caraku berdamai dengan kenyataan pahit itu adalah dengan membuatnya jadi bahan candaan. Daripada mikirin kepahitan hidup sampai stres, mending kita ketawain bareng-bareng aja masalah kehidupan itu. Komedi adalah metode pertahanan diri paling realistis untuk menghadapi masalah.
Dari 28 tahun perjalanan hidupmu, apa satu hal yang paling kamu syukuri?
Hal yang paling aku syukuri dalam hidup adalah keterima kuliah di Geografi UI. Itu adalah salah satu blessing terbesar dalam hidupku. Sebagai anak daerah dari Cilegon yang bisa masuk UI lewat jalur undangan (SNMPTN), momen itu jadi keran pembuka segala sumber rezeki dan relasiku sampai hari ini.
Masuk UI itu membuka mataku. UI itu seperti miniatur Indonesia; tempat aku bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai latar belakang. Pengalaman itu mengubahku dari anak daerah yang tadinya gampang judgmental jadi orang yang punya pikiran lebih terbuka dan menolak untuk menghakimi orang lain. UI membuka jalur karier, jaringan pertemanan, hingga kesempatan kolaborasi kerjaku sampai bisa berdiri sebagai kreator seperti sekarang.
***
Lewat persona semakindidevan, Devan hadir di tengah narasi media sosial yang menuntut kita selalu terlihat sukses dan positif. Ia justru menyodorkan pandangan yang lebih realistis: hidup memang tidak selalu adil, penuh ketidakpastian, dan tidak selalu baik-baik saja. Alih-alih larut dalam keputusasaan, Devan memilih menghadapi kenyataan dengan cara paling sederhana, yaitu tertawa.
Tidak semua kegagalan harus dicari hikmahnya; tidak semua masalah harus segera diselesaikan. Kadang, menerima bahwa hidup memang tidak sempurna, lalu menertawakannya, sudah cukup untuk membuat kita terus berjalan.