Sumber Foto: Dok. Poplicist
Dulu saya seperti Willa, bahagia karena makan pisang.
Menonton Na Willa membuat saya mengecek ulang klaim tentang sederhananya kebahagiaan anak-anak. Buat kita, jalan ke pasar dan menenggak minuman segar di sana terasa mudah. Makan pisang itu biasa, sama seperti menyantap ikan bandeng. Dalam kacamata kita, semua sederhana pada tempatnya. Tapi buat Na Willa, mereka adalah semesta yang warna-warni, bahkan debu kasur bisa jadi kelap-kelip bintang.
Kita menganggap anak-anak belum mengerti banyak hal, termasuk soal kenapa orang dewasa mudah berbohong. Berdusta sama seperti memasukkan kerikil ke dalam sepatu. Jadinya, kita susah untuk berjalan. Sakit. Kalau berjalan saja pilu, bagaimana kita mau menari? Bagaimana caranya menikmati hidup? Kenapa orang dewasa berbohong, sedangkan mereka tau berbohong juga merugikan diri sendiri?
Nggak sesederhana itu, jawab kita, atau Kamu belum mengerti. Tapi buat Willa–dan mungkin juga kita yang pernah anak-anak–, jujur itu tinggal mengatakan yang sebenarnya, apa pun yang terjadi–simpel.
Kayaknya, sudah terlalu sering kita membedakan sederhana dan tidak sederhana dengan lensa yang hitam putih, begitu juga menyangkut konflik dramatis. Ada yang berpendapat “Yaudahlah namanya juga film bocil” ketika film anak gagal memenuhi ekspektasi orang dewasa. Dari lensa kita, Na Willa bukan film dengan konflik besar dan karakterisasi yang berlapis. Apabila hampa twist atau tidak ada makna yang menggugah setelah lampu bioskop kembali menyala, cerita rentan diberi stempel: membosankan, bikin ngantuk. Namun, label demikian seringnya membuktikan standar dahaga terhadap peristiwa-peristiwa yang layak dianggap besar.

Seorang anak merasa bosan dan sepi karena teman-temannya bersekolah serta mengaji. Dia mencari cara untuk menikmati waktu: mengoprek radio. Dia mencari cara untuk fit in: menciptakan mukena. Tidak ada teman main adalah kesedihan. Juga, menakutkan sekali untuk menghadapi guru yang tegak tinggi dan lingkungan yang mengolok. Sama seperti Na Willa, saya dulu sering menangis ketika masuk TK. Rasanya seperti tidak ada ruang aman yang saya kenal. Itu konflik batin yang dramatis, lho. Untuk masuk ke sana dan memahaminya, bukan cuma melepas kacamata orang dewasa, kita pun perlu merunduk dan menekuk lutut, merasakan dunia dari mata anak-anak.
Dulu saya seperti Willa, bahagia karena makan pisang.
Tapi pelan-pelan, saya belajar menyukai pepaya dan bahagia karenanya, juga kemewahan ikan bandeng. Berpisah dari teman lama, bertemu dengan teman baru. Kita juga banyak kikuk di hadapan tanggung jawab. Hidup berganti babak ketika kita sadar bahwa jajan harus bayar dan orang dewasa mahir berbohong. Kita terus mencari cara untuk menikmati semuanya dengan menari-nari, tanpa kerikil di dalam sepatu.
Dari ulat, menjadi kepompong, lalu terbang sebagai kupu-kupu. Untuk setiap hal baik yang telah dan akan terjadi di antaranya, kita berharap: aku ingin besok, besok, besoknya lagi, begini terus.