Ada banyak sekali alasan untuk marah. Mulai dari urusan ngaret janji pertemuan, macet di jalanan, antrean yang diserobot, hingga pejabat petantang-petenteng. Bahkan, luka kehilangan–entah kehilangan orang tercinta atau apa pun yang selama ini ada di dalam diri–atau cedera masa lalu bisa berbuah trauma dumping yang malah membidik jidat orang lain.

Masalahnya, waktu yang begitu sempit sering kali memerintahkan kita untuk memendam semuanya; merawat amarah sebagai bom yang bakal meledak tanpa diproses, bukan sebagai pintu untuk mengurai benang kusut di baliknya. Lagi-lagi, waktu yang setipis helai rambut juga membuat kita untuk mencokok leher orang lain sambil bernasihat (dengan marah pula!), “Lu jangan marah-marah mulu.” Duh ilah, andai bisa segampang itu ya. Padahal imbauan untuk meregulasi emosi menuntut ongkos (waktu dan akses) yang tidak bisa dibayar oleh semua orang.
Iliad, puisi epik Yunani Kuno yang kerap disebut ditulis oleh Homer pada rentang abad ke-8 sampai 7 sebelum masehi, menempatkan mênis sebagai kata pertama. Artinya mewakili makna wrath atau rage yang dialami Achiles setelah merasa dihina. Sekitar 400 tahun setelah Homer, Aristoteles juga menyiratkan bahwa perasaan terhina dapat memantik amarah. Tiga ratus tahun kemudian, Seneca menulis bahwa dia dan kelompoknya setuju terhadap pernyataan Aristoteles.
Dari dulu, semua orang punya luka personal, semua orang boleh marah. Dari dulu pula, banyak orang mengalami penghinaan struktural, kita berhak untuk marah-marah. Lagian, struktural dan personal saling berkelindan. Wawan ditembak aparat. Negara diam. Bu Sumarsih merawat warna hitam setiap Kamis di depan Istana Negara sejak 18 Januari 2007. Simbolnya payung hitam karena “payung itu adalah lambang perlindungan, perlindungan dari panas dan hujan, perlindungan ketika kami ini tidak dilindungi negara.”
Masa kita tidak marah kalau orang yang kita sayang disakiti, dilecehkan bos, diperbudak orang kaya, diminta sabar setelah racun dalam MBG, diludahi sistem timpang, diminta percaya kalau semuanya salah angin, disiram air keras, dipukul polisi, diculik Pr…., akh.
“So whether you live in the most remote rainforest in the world or the most cosmopolitan city, you’re wired to experience anger,” tulis Raymond “Chip” Tafrate, seorang Psikolog Klinis. Samsak kolektif di ruang maya menyisakan kesimpulan yang itu-itu saja: lagi-lagi, warga melawan warga atau seperti yang ditumpahkan Dongker dalam “Metafora Berpelukan”: Anjing, aku lelah, anjing / terus bermusuhan dengan sekitarku. Ya, itu tidak bisa ditampik, kok. Selama kita sibuk memukul tinju ke sekitar, mereka (silakan tafsirkan sendiri siapa mereka) tertawa saja. Tidak perlu menciptakan api. Kobarnya sudah menyala sendiri. Tinggal tumpahkan bensin, semua terbakar.
Mulai dari era Homer, Aristoteles, Seneca, hingga Prabowo, mungkin, yang kita butuhkan bukanlah tips untuk tidak marah, melainkan panduan untuk marah: cara mengenalinya, memprosesnya, dan menyalurkannya tanpa salah sasaran atau kehilangan kendali. Ini yang rasanya perlu diobrolkan pelan-pelan sejak lingkaran paling kecil supaya kita tidak jadi kanibal untuk satu sama lain.