Aku masih ingat waktu kecil betapa semangatnya menyambut Hari Kemerdekaan RI, atau biasa kita sebut 17-an. Aku masih tinggal di perumahan lamaku saat TK dulu, berjalan ke lapangan terdekat, melihat meriahnya warga berkumpul. Balap karung, lomba makan kerupuk, kelereng. Gambaran khas yang biasa kita lihat di buku pelajaran ketika menggambarkan suasana 17 agustusan.
Satu lomba yang dulu kuanggap sebagai tontonan utamanya adalah lomba panjat pinang. Mungkin karena tubuhku yang kecil saat itu, atau karena aku paham hanya orang dewasa yang bisa mengikuti lomba tersebut, tapi kupikir hebat sekali orang-orang itu memanjat pohon setinggi itu dengan sangat gigih.
Mengingat 17-an masa kecilku, seru sekali ya cara kita merayakan hari kemerdekaan. Lucunya, meski berlomba satu sama lain, rasanya semua itu adalah selebrasi kebersamaan. Penuh tawa dan sukacita, walau tentu ada satu-dua orang yang tidak terima kalau anaknya kalah.
Sayangnya, semakin dewasa semakin jarang kutemui tawa dan sukacita menyambut 17-an. Perlombaan itu tetap kulihat, tapi kini dalam wujud yang berbeda. Perlombaan yang dulu merekatkan tetangga, kini menjadi pertarungan antarwarga yang melelahkan. Saling sikut, saling tunjuk, dan saling menjatuhkan. Setidaknya setahun belakangan ini, rasanya amarah kita tak pernah benar-benar reda, hanya terus berputar dan dilemparkan dari satu warga ke warga lain, dari satu kelompok ke kelompok lain.
Di awal tahun 2026 ini, kita ramai membicarakan seorang peraih beasiswa LPDP yang membagikan rasa bahagia karena anaknya yang bukan WNI. Kasus itu ramai karena dipandang tidak etis, dinilai menjelek-jelekkan negara yang membiayainya ke luar negeri. Lebih dari sekadar persoalan moral dan etika, kasus itu membuatku semakin melihat bagaimana pendidikan di Indonesia masih diperlakukan sebagai privilese, alih-alih sesuatu yang seharusnya menjadi hak semua orang.
Aku rasa kita tidak perlu sampai ribut-ribut kalau kesempatan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas bisa lebih setara. Punya hak dan kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan sesuai yang diinginkan, termasuk kesempatan untuk belajar sampai ke luar negeri. Atau bahkan punya hak dan kesempatan yang sama untuk memutuskan tidak berkuliah, tidak menjadikan gelar sebagai satu-satunya jalan menuju hidup yang lebih layak.
Karena pada akhirnya, bukankah kita semua hanya ingin hidup dengan layak?
Seperti kasus baru-baru ini tentang seorang pasien BPJS yang meninggal dunia dan memicu kegaduhan akibat komentar nirempati oknum tenaga kesehatan (nakes) di Threads. Kejadian itu tentu membuat warga bersedih, berduka, sekaligus marah. Publik menghujat nakes yang dinilai tidak berempati, sementara nakes merasa berhak untuk melampiaskan rasa lelah dan frustrasinya.
Semua ini berakar pada masalah sistemis yang seharusnya menjadi prioritas para pembuat kebijakan. Masalah yang membuat kita terus-menerus bertemu sebagai lawan, padahal kebutuhan kita sering kali sama. Keributan ini mungkin tidak perlu terjadi kalau sistem dapat memastikan layanan yang tepat dan cepat untuk pasien, sebagaimana nakes juga dapat diberikan upah dan kondisi kerja yang layak untuk memberikan layanan terbaik.
Salah satu bentuk kesenjangan yang paling menyedihkan adalah ketika tidak semua orang sadar bahwa kita berhak mendapatkan yang lebih baik. Terlalu banyak hal yang salah dan telanjur jadi hal yang biasa, mungkin karena tidak banyak yang tau kalau dunia bisa berjalan dengan cara yang berbeda.
Tak bisa disalahkan memang, melihat pemimpin negara seperti senang memelihara rakyatnya dalam kegelapan.
Kita terbiasa menganggap pendidikan berkualitas sebagai privilese, layanan kesehatan yang baik sebagai kemewahan, pekerjaan yang layak sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan mati-matian.
Sedihnya, sehari-hari kita lebih sibuk salah-salahan dan berkutat di konflik horizontal. Berlomba mendapatkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperebutkan, padahal sekali lagi, kita semua cuma mau bertahan hidup.
Belakangan ini rasanya tiap minggu ada saja berita viral silih berganti. Semua direkam dan disebarluaskan, berlomba-lomba menyebarkan kebencian dari offline ke online. Menjadi polusi informasi yang memenuhi tempat di kepala kita yang sudah cukup penuh, menyamarkan kita dari informasi yang benar-benar penting.
Yang lain ikut berlomba-lomba berkomentar, melampiaskan amarah tak beralasan, bahkan mengarahkan kebencian pada kaum marjinal yang makin tersudutkan. Kita saling menghakimi, menunjuk siapa yang paling kurang bermoral, hanya demi merasa diri kita lebih besar, lebih benar, dan lebih suci dari yang lain. Mungkin karena rasanya lebih mudah menunjuk orang lain daripada mempertanyakan kenapa kita semua sampai berada di posisi ini.
Perlombaan antarwarga ini terus berlangsung.
Kita dipaksa memanjat “pohon pinang” kehidupan yang dilumasi oli ketidakadilan. Berlomba-lomba bertahan hidup, kita terpaksa menginjak kepala warga lain. Padahal, di akhir hari, yang menang bukanlah kita yang berlomba ini, melainkan mereka yang menaruh oli di batang pinang dan menonton kekacauan ini dari atas panggung yang nyaman.