Berduka Adalah Perjalanan Paling Jauh dan Rapuh yang Pernah Kutempuh

Kehidupan harus terus berlanjut dan kami yang ditinggalkan harus belajar menata hati perlahan-lahan.

Berduka Adalah Perjalanan Paling Jauh dan Rapuh yang Pernah Kutempuh

Kehidupan harus terus berlanjut dan kami yang ditinggalkan harus belajar menata hati perlahan-lahan.

11/08/2026

Barangkali, perpisahan memang tak pernah datang tepat waktu dan tak ada satu pun dari kita yang akan benar-benar siap menghadapi hari itu

Sampai detik ini, memori tentang hari itu masih terpatri jelas dalam kepalaku. Orang-orang datang dengan pakaian berwarna gelap dan ucapan belasungkawa, sebagian besar berusaha menahan isak tangis dan menyeka air mata. Di samping Ayah, aku berusaha tetap tegar. Menyalami setiap wajah yang kukenal, mengucapkan permintaan maaf, dan menyambut setiap sahabat dan rekan kerja orang tuaku yang hadir untuk melayat. Untuk beberapa saat, aku merasa tak punya waktu untuk meratap. Sebab masih banyak yang harus dilakukan untuk mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. 

Siang itu, aku ikut memandikan Ibu, membasuh rambutnya untuk terakhir kali, hingga mengecup kedua pipinya sebelum kain kafan ditutup. Meski tampak pucat, wajah Ibu tak terlihat seperti orang yang sedang bersedih; beliau tampak begitu tenang dan damai. Barangkali karena segala lelah dan perjuangannya untuk melawan penyakit akhirnya telah selesai. Sementara bagiku, kepergian Ibu adalah babak baru menuju sebuah fase yang mengubah hidupku selamanya. Fase itu adalah berduka. 

Selama beberapa minggu, hidupku ramai dengan ucapan turut berduka cita. Beberapa orang datang dengan pertanyaan-pertanyaan singkat tentang riwayat penyakit dan kondisi terakhir sebelum beliau wafat. Beberapa menanyakan keadaanku dan tak sungkan memberikan pelukan hangat serta kalimat-kalimat menguatkan penuh ketulusan. Aku menjawab setiap pertanyaan dengan lancar seolah sudah hafal mati kata-kata yang harus kuucapkan. Tak lupa memberikan seulas senyum tipis serta ucapan terima kasih atas segala waktu dan kepedulian yang telah diberikan. Semuanya berlalu begitu saja, hingga masa-masa ‘ramai’ itu habis waktunya. 

Sanak keluarga yang berkunjung telah kembali ke rumah masing-masing. Tenda-tenda dibongkar, karangan bunga disingkirkan. Seolah menandakan bahwa kehidupan harus terus berlanjut dan kami yang ditinggalkan harus belajar menata hati perlahan-lahan. Di saat yang sama, perasaan hampa dan kehilangan mulai merayapi setiap sudut rumah. Rasa kehilangan itu semakin jelas ketika memandangi tumpukan baju yang menyimpan sisa wangi tubuh Ibu, kamar yang kini kehilangan pemiliknya, serta berbagai obat dan alat medis yang menemani sisa hidupnya. Tiba-tiba saja, rumah ini berubah menjadi sebuah tempat singgah tanpa nyawa. Meski aku, Ayah, dan adikku masih tinggal di sana, rumah itu tak pernah lagi terasa hidup seperti sebelumnya. 

Di tengah berbagai upaya untuk kembali bangkit, duka kembali menghampiriku tanpa aba-aba. Seolah belum cukup kehilangan Ibu membuat hidupku porak-poranda, salah satu sahabat yang menemaniku melewati masa berduka juga ikut berpulang ke pangkuan-Nya. Ia yang menemani hari-hariku di tanah perantauan, teman berdiskusi panjang tentang buku, tulisan, dan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sering terlintas di kepala. Ia yang ikut bersorak bersamaku ketika tulisanku pertama kali dipublikasikan. Ia yang tak ragu mengakui kesalahannya dan meminta maaf tanpa diminta. Ia yang selalu mengirim pesan dan bertanya bagaimana keadaanku setelah Ibu tiada. Seseorang yang selalu berusaha hadir di tengah kesibukannya, kini telah pergi. Meninggalkan semua ruang percakapan kami yang ramai dan menjelma kesedihan yang tak akan pernah usai.

Semuanya terjadi terlalu cepat, terlalu tiba-tiba, dan terlalu sulit untuk dicerna. Duka yang belum kering itu kembali menganga dan duniaku kembali runtuh untuk kedua kalinya. 

Pada momen itu, rasanya sulit untuk tidak mempertanyakan takdir Tuhan. Terlalu sulit untuk tidak memproyeksikan kesedihan menjadi sebuah penyangkalan dan kemarahan. Kalimat-kalimat seperti “mereka sudah tenang” atau “ini takdir yang terbaik” berlalu begitu saja di telingaku. Meski tak pernah mengungkapkan kemarahan itu secara harfiah, kepalaku terus mengulang pertanyaan yang sama: kenapa dua orang yang kusayang, harus berpulang begitu cepat? Kenapa hidup seolah ingin terus menjerumuskanku ke dalam kesedihan?

Untuk beberapa waktu, aku masih menyangkal kepergian mereka dengan alasan-alasan yang kubuat di kepala. Anggap saja Ibu sedang dirawat di rumah sakit atau sahabatku sedang sibuk dengan sidang tesisnya. Alasan-alasan itu terdengar masuk akal dan lebih mudah kuterima daripada realitas yang sesungguhnya. Keberhasilan dari cara ini tak bertahan lama, sebab kepergian mereka meninggalkan kehampaan yang tak akan pernah ada penawarnya. Kehilangan bertubi-tubi membuatku terpaksa berkawan dengan sepi dan berduka membawaku ke dalam sebuah perjalanan panjang yang begitu sunyi. 

Dari semua perjalanan yang pernah kutempuh, berduka adalah perjalanan paling jauh dan rapuh. Sebab aku tak pernah tau kenyataan apa yang akan kuhadapi dan perasaan apa yang akan datang menghampiri. Sering kali, kesedihan tak datang seorang diri, ia muncul bersama dengan berbagai lapisan emosi yang berontak menuntut untuk diakui. Kebanyakan orang bilang, berduka tak pernah punya tenggat waktu. Kabar baiknya, aku tak perlu menjalaninya dengan terburu-buru. Kabar buruknya, tak ada kesedihan yang lebih mudah dihadapi hanya karena waktu terus berlalu. 

Aku mungkin bisa kembali melanjutkan hidup, tertawa, dan menata kembali hidupku selangkah demi selangkah. Walau nyatanya, duka selalu punya tempat untuk bersemayam sampai aku benar-benar ikhlas menerima kehadirannya. Tak jarang aku merasa hidupku berhenti di satu titik, satu waktu. Sekeras apa pun aku berusaha berjalan, selalu ada momen yang menarikku kembali ke dalam kesedihan. 

Hari-hari yang berlalu tak pernah membuatku menjadi lebih piawai dalam menghadapi duka. Dalam banyak kesempatan aku masih menemukan diriku belajar mengeja kehilangan, tenggelam dalam penyesalan, dan terlelap dalam kesedihan. Yang bisa kulakukan sampai saat ini hanya terus berjalan: berbahagia sebisanya, menangis secukupnya. Sisanya? Hanya bagian dari upaya-upaya untuk kembali menjalani hidup dan berdamai dengan duka, selamanya. 

Meski kerap kali terasa menyesakkan, barangkali, duka adalah bentuk cinta yang tetap hidup walau telah dipisahkan kematian. Rasa kehilangan menjadi bukti bahwa setiap jiwa yang pergi meninggalkan memori istimewa yang layak untuk selalu dikenang. Teruntuk setiap raga yang juga masih memeluk erat duka: tak apa untuk menikmati kenangan dan kesedihan dengan cara-cara yang berbeda.

Iin Isnaini

Kadang-kadang menulis, full-time seorang melankolis.
  • Kadang-kadang menulis, full-time seorang melankolis.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga