Barangkali keadilan bukan sesuatu yang diberikan cuma-cuma. Hak asasi adalah omong kosong yang walau sering kali disuarakan, pada akhirnya tetap menjadi angan belaka. Sialnya, meski keadilan digadang-gadang sebagai sesuatu yang harus dinikmati seluruh manusia, kekuasaan lebih menggoda untuk dimiliki dan menjadi jurang pemisah jalan menuju keadilan. Seperti rindu yang harus tandas pada kuasa jarak, atau pertemuan yang terpaksa tuntas pada kuasa waktu. Maka, pada suatu malam yang amat panjang di Ibu kota, ketika engkau masih meringkuk dalam perutku, diam-diam kulambungkan sebuah doa dari atas sajadah.

Tidak kusadari bahwa doa itu kemudian menjadi pengakuan paling rahasia yang pernah kuungkapkan. Sebab pada panjangnya permohonanku, nama ayahmu di dalamnya. Betapa pun ayahmu bilamana tidur aliran ilernya sampai ke bantalku dan membuatku kaget, atau bau badannya acap usai tanding bulu tangkis bagai kecoak, serta janjinya berhenti merokok juga belum ditepati, rupanya hanya dia dan memang hanya dia satu-satunya kejujuran atas bahagiaku.

Meski tidak pernah kuungkapkan, mana sanggup aku berpura-pura tenang ketika belum ada kabar sama sekali ketika telah dua hari ayahmu pamit meninggalkan rumah. Kepalaku pusing ampun-ampunan dibuatnya. Aku bahkan berjanji untuk menyemprotnya dengan kopi pahit bila pulang nanti saking ampuhnya membuatku khawatir.

Sayangnya, doaku tidak terkabul. Ayahmu tidak juga pulang. Kawan-kawan persnya yang ikut meliput aksi di DPR pun tidak jelas bagaimana nasibnya. Memang, kudengar siaran televisi soal penculikan aktivis. Tapi, rasanya amat kejam bila ayahmu harus menjadi salah satu yang tidak kembali karena merekam kabar keserakahan di DPR.

Kiranya begitulah hak asasi yang konon dimiliki setiap manusia harus kalah oleh kekuasaan. Berbulan-bulan kulalui hidup hampa yang berkepanjangan. Meski pada akhirnya rezim maruk itu tumbang, janjiku untuk menyemprot ayahmu dengan kopi panas tidak pernah terpenuhi. Hingga kemudian, engkau lahir menitiskan cinta ayahmu. Engkau menjadi satu lagi rahasia atas bahagiaku.

Lihatlah, betapa waktu amat cepat berlalu. Baru kusadari engkau kini telah menjadi dewasa dan senyummu pada foto profil Whatsapp bukan main cantiknya. Telah kubayangkan pula betapa engkau akan semakin tambah cantik dengan kebaya pada acara wisuda yang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi, bukan main kagetnya ketika kubaca pesan Whatsapp darimu di saat negara sedang meresahkan begini.

“Bu, hari ini aku ke DPR atas nama keadilan. Kalau seandainya aku harus seperti Ayah, mohon ikhlaskan aku. Kupastikan Ibu akan tinggal di negara yang menjamin hak rakyatnya. Maafin aku. Aku sayang Ibu. Terima kasih buat semua yang indah di hidup aku.”

Belum sempat kubalas pesanmu, air mata telah kadung tumpah. Dadaku sesak. Setelah bertahun-tahun aku berdamai dengan kejadian yang menimpa ayahmu, ingatanku akan keadilan yang diperkosa kekuasaan waktu itu menyeruak lagi. Dalam pandangan yang mulai samar itu, tubuhku jatuh. Tanpa suara, sekali lagi aku berdoa seperti dulu.

 

Ya, Allah.. Lindungi seluruh yang sedang berjuang atas nama keadilan bagi rakyat. Sebab, anakku salah satu di dalamnya.

 

 

 

Photo credit: Bhagavad Sambadha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Ya Allah!!!!!!! Ini aku nangesssssssss 🙁 inget dulu waktu 98 papaku ga pulang karena jalanan rusuh