Apa Pilihan Hidup yang Tetap Kamu Jalani Sampai Saat Ini, meskipun Orang di Sekelilingmu Tidak Menghargainya?

Tiga setengah tahun lalu, saya dihadapkan dengan dua pilihan yang gampang-gampang sulit: kuliah sastra atau jadi insinyur. Tanpa pikir panjang saya tarik garis kehidupan saya ke atas kertas daftar ulang jurusan sastra. Belum genap sehari, orang-orang di sekitar saya sudah menyenandungkan kalimat yang aduhai: Kuliah sastra, lulus mau jadi apa?

Pilihan saya itu seperti menandakan hari lahir senandung-senandung lainnya. Seperti bayi yang selalu penasaran atas kelahirannya di dunia ini, senandung itu pun selalu curiga dengan prospek kuliah sastra. Sering kali, ia berakhir menjadi nyanyian jitu stereotip ala lulusan sastra: paling-paling jadi guru.

Puncak rasa ingin tahu bayi-bayi yang baru lahir itu adalah hari raya lebaran. Senandung dan nyanyian itu bersatu padu menjadi nada minor yang dilantunkan dengan indah para choir kawakan. Sayangnya, konser paduan suara itu bagi saya bernada sumbang. Saya seperti disuruh mendengarkan rekaman delapan track yang kusut dan hanya mampu mengeluarkan suara yang itu-itu saja.

Suara-suara itu mengalun, sedikit banyak mempengaruhi saya: apakah benar pilihan yang telah saya tentukan? Akan ke mana garis hidup membawa saya nantinya setelah studi saya selesai? Suara-suara itu hampir berhasil memangkas tunas mimpi yang telah saya pupuk dan siram setiap harinya; kuncup bunga yang hampir saja terbawa angin lalu yang liar dan merasuk sukma.

Di antara senandung sumbang dan embusan angin, saya menyadari perilaku saya yang tidak adil. Bagaimana bisa saya melupakan suara hati saya yang jauh lebih dekat dan usaha yang selama ini telah saya lakukan atas pilihan yang saya buat? Bukankah adil jika saya memiliki cita-cita dan memilih jalan yang saya lalui atas dasar cinta?

Dari situ, kuncup-kuncup itu mulai mekar, pecah merekah meski belum indah sempurna. Saya telah memupuknya dengan suka cita, cinta serta kasih sayang, dan keteguhan hati. Tidak adil rasanya bila saya harus mengubur bunga yang belum tumbuh hanya karena orang-orang merasa tidak pasti akan keindahan kembang itu nantinya.

Keyakinan itu timbul dan mengokoh, menjadi akar akan keindahan kembang yang sedang tumbuh perlahan. Bukan tugas setangkai bunga untuk menyenangkan makhluk hidup lainnya. Ada makhluk hidup yang alergi terhadap bunga-bunga. 

Ada bermacam obat untuk berbagai alergi. Penawar atas mimpi dan pilihan kita tampaknya sudah jelas: keteguhan hati, cinta, dan kasih sayang. Sementara penawar untuk orang lain, bisa kita berikan dengan cara memperlihatkan kesungguhan atas pilihan yang telah kita tentukan. Dengan itu, barangkali komposisi terakhir untuk mencapai keindahan yang sempurna atas tunas kembang mimpi yang kita pupuk terpenuhi: apresiasi dan penghargaan orang lain.

Kemantapan, keteguhan, cinta, dan kasih sayang adalah penawar bagi hati yang bimbang. Tentu saya pun merasa marah dan kesal dan lebih ingin melahap mereka yang tidak mampu menghargai pilihan yang telah saya buat. Namun sikap dan perasaan itu justru akan menjadi bahan bakar senandung sumbang orang lain terhadap pilihan kita. Sedikit banyak mereka peduli atas pilihan kita. Hanya saja mereka belum tahu cara menyampaikannya dengan baik. Maka dari itu, mari kita berterima kasih dengan cara yang lebih baik, dengan cara berteguh pada pilihan kita sebaik-baiknya, semulia-mulianya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top