Apa Hal yang Membuatmu Sanggup Bertahan di Ibu Kota?

Besar di sebuah kota kecil menyadarkanku perihal sulitnya menjalani keseharian yang teratur saat tinggal di ibu kota. Perpindahan ke ibu kota, 3 tahun lalu, membuka mataku akan berharganya setiap waktu yang kita habiskan. Di sini, segala hal terasa begitu cepat–aliran informasi, tunggakan kerjaan, tagihan bulanan–sementara untuk sampai ke suatu tempat tujuan saja terkadang mampu bikin kita ngedumel seharian. Belum lagi tuntutan kerja atau studi yang memaksamu menjadi serbabisa dan serbacepat. Segala hal itu menghantam kita secara simultan setiap harinya.

Dirundung rentetan tanggung jawab secara terus menerus kadang bikin aku lupa memperhatikan kondisi diri sendiri. Bukan hal aneh jika tiba-tiba aku jatuh sakit. Pemberhalaan kecepatan khas ibu kota membuatku keblinger dengan kesehatanku sendiri. Aku sering lupa kalau aku bukan robot serbabisa yang mampu menyelesaikan segalanya dengan cepat dan presisi. 

Pada kondisi depresif seperti itu biasanya ketakutan muncul, mengetuk pintu hati untuk mengingatkanku sejauh mana cita-cita dan tujuanku telah aku susun. Keadaanku yang sedang buruk diperparah oleh kecemasan tentang masa depan. Di tengah kemelut antara akal sehat dan tubuh yang sakit, aku selalu menelepon orang-orang terdekatku: Ibu, Ibu, Ibu, Ayah, dan teman-temanku.

Mereka selalu punya cerita untuk dibagi. Tidak selalu menarik, namun sudah pasti menghibur. Aku selalu menyempatkan berdoa untuk mereka di waktu-waktu sempit. Kehadirannya sering jadi oasis bagiku–waktu yang menyenangkan di tengah suasana serbakalut dan tak keruan. Di akhir obrolanku bersama mereka, muncul sebuah pikiran: aku pun harus punya cerita untuk dibagi.

Atas dasar itu, aku selalu punya cara untuk menunda kekalahan dan memilih untuk tetap gigih menjalani hidup dengan tawa dan sedikit keberanian, merawat kembali kondisi mental, tubuh, dan hati; menjalani hidup dengan sepenuhnya. Dengan begitu aku akan bisa membagikan sebuah cerita, yang barangkali menjadi alasan mereka bertahan menjalani hidupnya, seperti cerita-cerita mereka, yang membuatku bertahan melawan sunyi dan gemerlapnya hidup di ibu kota.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top