Tak Apa Berhenti Sejenak agar Dapat Berlari Lebih Kencang

Banyak orang yang berasumsi negatif tentang kata berhenti. Aksi berhenti lebih sering dianggap sebagai tanda menyerah, kematian, dan keputusasaan. Namun, apabila ditilik lebih dalam, berhenti juga memiliki makna beragam. Terdapat definisi positif dari arti kata tersebut: berhenti untuk beristirahat, berkontemplasi, dan menjadi tenang. Hal ini saya sadari benar setelah selesai berbincang dengan salah satu seorang teman, mengenai pergumulan hidup. Kami bersama-sama membuat sebuah konklusi tentang arti dari berhenti. 

Semakin bertumbuh menjadi manusia, kami merasa banyak sekali tantangan hidup yang membuat lelah dan frustasi. Baik secara emosional, mental, juga fisik—energi kami kering. Hal ini bersumber dari banyak faktor, mulai dari keraguan akan pilihan-pilihan hidup, pertentangan dengan orang tua terhadap pilihan karier, dan berada di lingkungan kerja, keluarga, atau sosial yang toxic. Problematika kehidupan seakan menyerang dan tanpa hentinya mencuri sukacita dalam berproses mencapai tujuan hidup yang diimpikan. Tidak hanya sampai di situ saja, masih banyak hal kompleks lainnya. Semuanya itu cukup menguras tenaga, pikiran, dan meredusir tingkat kesabaran. 

Perihal yang disebutkan sebelumnya mungkin tercipta dari pergerakan dunia yang yang begitu cepat, terkadang kita tertatih-tatih mengikuti ritmenya.  Hal ini menjadikan manusia tanpa sadar terus berlari, mengikuti perkembangannya yang tiada henti. Pada akhirnya kita semakin tenggelam dan larut dalam arus pergumulan. Kemudian lupa untuk sadar, mencari solusi dari jiwa yang terluka dan batin yang sesak. Sehingga banyak dari kita yang menjadi kaum “people hurt people”. Namun, ada hal menarik lainnya, yang kami temukan, yaitu perihal toxic positivity. Alih-alih mendapat ketenangan sejati, justru kami menjadi semakin lelah karena toxic positivity yang kerap kali dikumandangkan ketika kami sedang merasa lelah, dan ingin berhenti terhadap rutinitas kehidupan yang semakin berat. 

Lingkungan sekitar mengajarkan untuk terus bersemangat dan berpikir positif, jangan mengeluh. Sejatinya manusia memiliki titik jenuhnya sendiri-sendiri dan hal ini wajar adanya. Setiap manusia mempunyai cara dan ketahanannya masing-masing. Manusia diciptakan unik dan berbeda antara satu sama lain. 

Lelah bukan berarti malas. Mengeluh bukan berarti tidak bersyukur. Berhenti bukan berarti putus asa. Adakalanya kita ingin diam sejenak untuk berkontemplasi, menjadi tenang di tengah suara-suara gaduh, dan beristirahat sejenak di waktu lelah agar dapat memulihkan tenaga dan memperoleh pikiran yang jernih. Oleh karena itu, berhentilah apabila ingin berhenti; berdiam sejenak apabila merasa lelah dan berbeban berat agar dapat berlari lebih kencang menuju tujuan yang ingin kalian capai. 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top