Secangkir Kopi

“Tenanglah,” bisiknya. “Kita akan baik-baik saja.”

Pada malam itu, resah berpijar begitu terang di sebuah ruang beratap hujan. Secangkir kopi berdiri di atas sepi, menunggu untuk dijadikan sebagai seorang teman. Barisan tanda tanya mengantre di samping imaji-imaji tak bersuara. Mendesak ruang kepala yang sudah sempit akibat monokrom yang tak juga padam.

“Bertahanlah,” bisik suara itu lagi. Namun kali ini sangat pelan, suaranya nyaris hilang.

Bola-bola monokrom melingkar membesar dan menggelinding menuju sudut yang satu ke sudut yang lain. Menggumpal-gumpal bagai awan, lalu terbang di ruang barisan imaji mengawang-awang. Perempuan itu menghirup luka.

“Apakah langit tengah menangis, lantaran tak kuasa menahan badai yang dipikulnya?”

Secangkir kopi itu habis. Tujuannya telah tercapai, untuk menjadi seorang teman.

Kini yang tersisa hanyalah memori yang sudah dipanggang dan ditaburi salju-salju kehidupan. Sepi telah berlari menuju tempat peraduannya bersama kekasih baru. Menunggu untuk dihangatkan kembali. Menunggu untuk disuarakan kembali.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top