Kepada: Yang Tak Ada

Cerita tentang hidup dan rasa yang pernah sama-sama kita lewati, ternyata tak serta-merta membuatmu menjadi pribadi yang punya empati. Lidahmu yang kukira bisa menenangkan hati, ternyata malah menggores luka baru di hati.

Padahal waktu itu kamu sudah berjanji untuk menjadi seorang teman di saat hariku terasa sepi. Sebab kamu tahu betul, aku bukan seseorang yang bisa berdiri di atas kaki sendiri. Kamu tahu betul aku sangat tidak bisa mengemban segala kesedihanku seorang diri. Kamu paham dan tahu betul segala keluh kesahku yang mengganggu hari-hariku.

Kamu pun saat itu mengiyakan segala ucapanku. Tentang resah dan depresiku, tentang mimpi-mimpi gilaku, bahkan tentang fantasi-fantasi tergelapku. Kamu mengiyakan seolah kamu paham dengan apa yang sedang aku lewati. Aku pun tahu, saat itu, kamu sedang tidak berbohong. Kamu sedang mengalami kehampaan yang sama. Kamu juga sedang butuh bahu untuk sekadar bersandar. Kamu butuh seorang teman untuk diajak minum yang paham bahwa kamu sedang berusaha menenggelamkan segala kehampaan. Dan dari situ aku jadi tahu, kamu tak pernah benar-benar mendengarkanku. Kamu larut di dalam duniamu sendiri.

Entahlah. Mungkin aku yang terlalu naif. Mungkin pertemuan pertama kita sangat berkesan dan aku menjadi terlalu bersemangat untuk menjadikanmu buku diary baruku. Sehingga secara tak sadar, aku jadi langsung menaruh kepercayaan dan ekspektasi yang tinggi pada dirimu. Tapi, ya, bagaimana tidak, sih? Kamu membawa kehangatan yang sedang sangat aku butuhkan. Di saat sekujur tubuhku sedang menggigil dan penuh ketakutan, kamu datang dengan senyuman yang seolah memberiku harapan, bahwa dunia tak semenakutkan yang aku pikirkan.

Ya, jelas. Kamu yang salah. Kamu yang berjanji, kamu juga yang pergi. Kamu pergi sambil membawa cerita-cerita kita yang kita bungkus dengan mimpi. Semoga kita bahagia selamanya. Semoga mimpi-mimpi kita terkabul satu per satu. Semoga aku selalu ada untuk kamu, dan kamu selalu ada untuk aku. Tapi kamu malah pergi. Padahal kamu yang membangunkan mimpi-mimpiku lagi. Tapi sekarang kamu sudah tidak mau melihat wajahku lagi. Bahkan kamu bilang ke teman-temanmu bahwa aku tidak pernah ada di dalam hidupmu. Kamu pergi. Kamu pergi. Kamu pergi. Kamu meninggalkan aku seorang diri.

Sekarang, aku jadi tidak tahu harus percaya kepada siapa lagi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top