Si Baik Hati

Semesta pernah bilang, pertemuan itu tidak ada yang kebetulan. Sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya, maka aku percaya. 

Dua bulan lalu, nama kami berada dalam satu lembar yang sama. Tidak saling tahu, bahkan namanya juga asing di telingaku. Kami dipertemukan dalam salah satu kegiatan. Awalnya memang tidak peduli, namun karena nama kami kembali dipertemukan saat pemilihan kelompok secara acak, maka mau tidak mau kami harus bekerja sama. 

Satu dua minggu, aku menghilang. Memang sengaja hilang dengan banyak alasan. Tanpa sadar, sosok ini datang. Berulang kali menghubungi untuk sekadar mengajak diskusi dan membuka obrolan. Aku tidak tertarik dan sangat terganggu dengan kehadirannya. Tapi, usahanya memang luar biasa. Dia berusaha mencairkan suasana dengan disertai perkenalan singkat yang menjelaskan siapa dia sebenarnya.

Memasuki minggu ketiga, aku mulai tertarik dengan caranya mengajakku untuk berkontribusi dalam kegiatan ini. Sekali dua kali, dia mengajak untuk bertemu agar dapat bertukar pikiran satu sama lain. Akhirnya aku mengiakan kehadirannya. Perlahan aku mulai sadar bahwa tanggung jawab kami adalah menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajiban. Kesabaran yang ia tanam berujung pada kalimat, “Kita harus prioritaskan ini.” Baiklah, aku semakin paham.

Setelah hampir setengah jalan, kendali atas emosiku berubah menjadi ketergantungan dengannya. Dalam beberapa kesempatan, aku menjadikan kehadirannya sebagai syarat agar mau menyelesaikan tugasku. Jarak puluhan kilometer tidak membuatku mengurungkan niat untuk memintanya hadir ke sini. Bahkan dua puluh empat jam pun dia siap untuk mengangkat panggilan masuk via WhatsApp maupun ajakan komunikasi via Zoom. Dalam beberapa kesempatan, dia harus izin ketika hendak pergi sebentar sehingga tidak dapat membalas pesan singkat atau panggilan masuk dariku.  

Senang. Aku senang. Kami menjadi teman baik. Aku mulai berani untuk izin jika memang tidak bisa mengikuti kegiatan sehingga dia paham ketika aku memang tidak bisa diganggu. Dalam beberapa kesempatan, dia juga pamit ketika ingin bersepeda di sore hari, pergi survei untuk mengerjakan proyek bersama ayahnya, bermain dengan teman-temannya, hingga pergi bersama keluarga. Bahkan saat bertemu pun, dia mau menungguku saat harus rapat di tengah kegiatan kami. Aku juga sempat menemaninya mengerjakan desain proyek sembari ribut menanyakan “Ini apa sih namanya? Apa sih fungsinya?” dan masih banyak lagi.

Perlahan aku merasa kehadiranku justru sangat mengganggunya di beberapa waktu. Tingkat ketergantunganku semakin meningkat. Alhasil, keinginanku untuk menyelesaikan kegiatan ini seolah hanya karena kehadirannya. Aneh. 

Satu bulan berlalu, keakraban dan teamwork yang dibangun membawa kami menyelesaikan kegiatan ini. Berkat si baik hati, aku menjadi percaya bahwa hidup kita akan selalu dikelilingi dengan orang baik sepertinya. Terlepas dari seburuk dan semenyebalkan apa sikap kita, pasti tetap akan ada sosok yang mau menerima kita seadanya. 

Semesta benar, pertemuan tidak ada yang kebetulan. Terima kasih untuk si baik hati. Kesempatan yang singkat ini menjadi pelajaran baik untukku. Bahwa segala hal harus dilakukan dengan sepenuh hati. Bahwa kita memang perlu membangun prioritas. 

Setelah ini aku kembalikan dia kepada pemiliknya. Ternyata dua bulan ini, aku hanya meminjam dia darinya. 

Hindia sebagai musisi kegemaran kami pernah berpesan melalui lirik lagunya, “Di kehidupan kita singgah dan pergi. Apapun yang terjadi kita abadi”.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top