Menguatkan Hati Menyatukan Harapan

“Sebenarnya saya juga ingin seperti yang lain, bekerja dari rumah, tapi perusahaan tidak meliburkan karyawan.”

“Saya tidak bisa bekerja dari rumah, karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.”

“Kalau saya tidak bekerja. Bagaimana kebutuhan pangan keluarga saya? Kami bisa kelaparan.”

 

Sedih mendengar ungkapan yang belakang ini beredar di media sosial dan lingkungan sekitar, mengingat keadaan dunia yang sedang dalam bahaya. Virus yang namanya tidak asing di telinga semakin merajalela. Mereka yang ingin tetap rumah agar semua baik-baik saja, terpaksa harus pergi bekerja dan berjumpa dengan banyak orang. Ada yang terpaksa bekerja karena kebijakan perusahaan yang tidak memberi libur karyawannya, ada yang memang pekerjaannya tidak dapat dikerjakan dari rumah, dan ada pula yang terpaksa bekerja demi menghidupi keluarganya.

Buruh harian, kuli bangunan, karyawan swalayan, supir angkutan, petani, pedagang, polisi, pekerja pelabuhan, pekerja stasiun, pekerja bandara, pekerja kantoran, tenaga kesehatan rumah sakit, dan yang lainnya; mereka memiliki perannya masing-masing, memiliki kesusahannya masing-masing. Tidak ada yang berhak untuk membanding-bandingkan mereka yang pergi bekerja dengan mereka yang memilih di rumah saja. Mereka yang terpaksa melakukan pekerjaannya keluar rumah, sedang berjuang untuk menyelamatkan banyak raga, pun berjuang demi menghidupi keluarga. Siapa pun dari mereka sama-sama bertaruh nyawa jika tidak bisa saling menjaga.

Terhitung sejak diterapkannya social distancing dan work from home membuat banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa emosi kita menjadi tinggi karena terlalu cemas terhadap situasi saat ini. Memang sangat sulit bagi kita menghabiskan seharian penuh berada di rumah: yang seharusnya saat berada di rumah, kita istirahat dengan tugas-tugas kerja dan ketika berada di tempat kerja, kita istirahat dengan tugas-tugas rumah. Sementara saat ini, tugas-tugas keduanya kita kerjakan bersamaan. Terasa bosan dan melelahkan, namun bukan alasan untuk membandingkan kondisi kita dengan orang lain. Mereka di luar sana sedang berjuang untuk kita. Kita pun harus berjuang untuk mereka dengan menjaga kesehatan kita, bukan hanya fisik namun juga mental. Supaya tidak ada dari kita yang merasa kesepian, kehilangan, nafsu makan berkurang, suasana hati dan pikiran menjadi tak terarah. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita adalah manusia yang notabene, mahluk sosial dengan kebiasan bersosialiasi, berkumpul, berinteraksi. Namun untuk sementara, menjaga jarak sosial harus kita lakukan dan perlu pemahaman. Kita yang dapat memilih untuk tetap di rumah saja tidak cukup jika hanya memikirkan kapan rantai penularan virus ini mereda dan terhenti. Pikirkan juga sejauh mana kontribusi yang sudah kita beri. Sudahkah kita saling melindungi? Saling berbagi? Apa pun bentuknya baik berupa materi, isolasi diri, pembatasan interaksi, jangan sampai kita lupa untuk saling menyemangati bahwa kita semua mampu melewatinya. Ini tidak akan berlangsung lama, jangan putus asa. Kita terpisahkan oleh jarak hanya sementara, mari berjuang bersama-sama.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top