Kisahmu Berakhir di Sini, Kasihmu Tersimpan di Hati

Ketika malam tiba dan tak ada lagi yang mengalihkan perhatianku, kenangan-kenangan tentang kita dengan sengaja kembali kuingat. Ibu pernah bilang, katanya kau amat menyayangiku. Tapi aku tak memercayai ucapannya.

Aku masih ingat betul ketika kau melarangku untuk bermain di luar dengan alasan aku harus belajar, belajar, dan belajar, supaya aku jadi anak pintar. Nyatanya, ketika aku berhasil menggapai mimpi yang kau mau, kau pun tak pernah memberikanku hadiah, bahkan sekadar memberi ucapan selamat tak pernah kau lakukan, yang kau lakukan hanya tersenyum bangga di hadapan teman-temanmu lalu menceritakan kepada mereka bahwa anakmu ini berhasil, anakmu ini pintar, anakmu ini hebat. Jujur saja, aku tak suka kau melakukan hal itu, bagiku kau sungguh berlebihan dengan menyombongkan diriku yang masih belum apa-apa ini.

Kau sosok yang menyebalkan, kaku dan tak banyak bicara, bahkan ketika aku bertanya, terkadang kau hanya diam saja. Apalagi jika kuminta uang bayaran sekolah, kau langsung pergi sebelum aku selesai menjelaskan secara rinci. Lagi-lagi kau membuatku kesal, hingga aku malas berbicara denganmu jika tak ada hal penting yang ingin kusampaikan.

Aku pun masih ingat dengan jelas, ketika aku pulang terlambat, kau dengan tega membentakku, memarahiku, mengekangku, hingga ibu yang tidak tahu-menahu harus menjadi korban pelampiasan atas kemarahanmu padaku. Lalu yang bisa kulakukan hanya menangis, menghindar, lari, dan mengurung diri ke kamar.

Sejak saat itu hubungan kita menjadi renggang. Aku benci dengan sikapmu yang keras, pemarah, dan overprotective. Temanku bilang, ayahnya adalah sosok pelindung bagi dirinya, lelaki yang amat begitu mencintai putrinya. Berbeda halnya denganku, bagiku kehadiranmu justru membuatku tidak nyaman bahkan kaulah sosok yang paling aku takuti. Kerap kali aku merasa sedih, takut, kecewa, dan marah. Perasaan itulah yang selalu datang menghampiriku setiap kali kau menatapku, setiap kali aku mendengar suaramu.

Malam ini, perasaan itu datang kembali bukan hanya sekadar menghampiri, tapi datang menemani. Menemani malam-malamku yang penuh dengan penyesalan yang belum sempat kuakui. Aku banyak menyiakan-nyiakan waktu yang Tuhan berikan kepadaku. Selama ini, aku tak cukup bersyukur untuk memaknai kehadiranmu di hidupku. Kau pernah berkata kepadaku bahwa kita akan berjumpa pada peristiwa-peristiwa yang tak terduga dalam perjalanan hidup kita. Saat itu, aku terlalu kecil untuk memahami maksud dari ucapanmu. Namun bukan berarti setelah aku dewasa, aku siap untuk berjumpa dengan peristiwa yang tak pernah kuduga itu. Kau harus tahu, bahwa kehilangan dirimu adalah peristiwa yang paling tak bisa aku terima.

Aku tak bisa membohongi diriku, aku tak kuasa membendung air mataku saat aku mengingatmu, terlebih ketika aku melihat seorang ayah mengantar anaknya pergi ke sekolah, ketika aku menyapa bapak tua dengan para kerbaunya yang tengah beristirahat duduk di pinggir sawah, ketika aku mendengarkan guruku berbagi cerita bahwa ia sangat bangga karena anak bungsunya yang berprestasi mendapat beasiswa untuk lanjut kuliah.

Hatiku hancur, begitu banyak waktu kubuang yang seharusnya dapat kuukir bersamamu. Aku sadar, aku tidak lebih dari putri kecilmu yang penakut dan sering kali merepotkanmu. Meski pernah ada jarak yang membelenggu di antara kita, aku rindu peluk dan dekap darimu. Sudah hampir satu tahun, aku kehilangan kehangatan seorang ayah. Kau yang selama ini malu mengutarakan perasaanmu padaku. Sikap overprotective-mu yang tak kusuka, semata-mata kau lakukan agar aku terhindar dari segala yang membahayakan. Aku sekarang mengerti, sikap acuhmu menyimpan begitu banyak harapan untuk anak-anakmu, bahkan diammu menyembunyikan banyak luka hanya demi supaya aku tetap bisa menjadi juara.

Mungkin selama kau masih ada di dunia, aku sering kali membuatmu kecewa. Cintaku bahkan tak pernah cukup untuk membalas kebaikanmu. Tak ada kata yang pantas kusampaikan selain maaf dan terima kasih sudah menjadikanku ada, selalu setia menjaga putri kecilmu yang manja, kau selalu menjadi pembela di saat putrimu berhadapan dengan orang banyak di luar sana, kau memberikan banyak pelajaran berharga yang tak pernah ada duanya.

Meski hadirmu kini tak lagi terlihat oleh mata, suaramu kini tak lagi terdengar oleh telinga, namun aku percaya, ketika aku menyebut namamu dalam doaku, kau tengah memandangku dari kejauhan sana sambil berkata, “Nak, Papamu baik-baik saja di Surga. Jaga dirimu dan jadilah anak kebanggaan Papa.”

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
4 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ambar Sari
Ambar Sari
10 months ago

Siapapun kamu, aku harap kamu selalu kuat dalam menjalani kehidupan. Semoga kamu selalu bahagia dan dilindungi oleh Tuhan. Aamiin.

Yufita
Yufita
10 months ago
Reply to  Ambar Sari

Terima kasih 🙂 Kamu juga bahagia selalu yaa 🙂

Triaaa
Triaaa
10 months ago

Tulisannya menyentuh banget.
Jadi kangen ayah 🙁

Yufita
Yufita
10 months ago
Reply to  Triaaa

Terima kasih sudah membaca 🙂
Salam untuk ayahmu yaa 🙂

Top