Dua Ribu Rupiah

Tiga tahun yang lalu di sebuah antrean ATM di pinggir jalan sore itu, ketika aku tengah menunggu giliran, tiba-tiba tanganku disentuh oleh seorang adik yang kira-kira mungkin saat itu sedang duduk di bangku sekolah dasar. Entah dari mana datangnya, adik itu membawa beberapa koran. “Dua ribu rupiah saja kak,” katanya tersenyum seraya mengulurkan satu korannya itu kepadaku. Aku balas tersenyum sembari mengambil uang di dalam tasku. Tak lupa kuucapkan terima kasih atas korannya, lalu kuberikan dua ribu rupiah pada adik itu.

Mataku masih terus mengikuti ke mana adik itu pergi. Aku melihat adik itu melambaikan tangannya kepada anak-anak lain di seberang jalan. Aku menduga mereka semua adalah teman-temannya. Adik itu berlari menghampiri mereka. Ketika dia tiba di seberang, mereka berjalan menuju ke gerobak dorong abang es cendol. Satu per satu dilayani dengan ramah oleh si penjual. Setelah mereka semua sudah memegang es cendol yang dibungkus dengan plastik bening itu, mereka duduk berjajar di pinggir jalan memangku koran-koran mereka sambil menyeruput es cendol itu sampai habis. Terlihat senyum merekah dari wajah mereka masing-masing. Barangkali, es cendol itu sebagai pelepas rasa haus mereka setelah seharian menjual koran. Aku merasa terharu, dua ribu rupiah yang mungkin selama ini tak begitu ternilai bagi hidupku, ternyata menjadi sangat berharga bagi hidup mereka.

***

Dari kejadian sore itu, aku jadi sering bertanya pada diriku sendiri tentang kebahagiaan yang selama ini aku cari. Dulu aku belum bisa mengerti apa itu bahagia. Aku memahami bahagia ketika aku mendapat sesuatu yang besar, bertemu orang-orang yang membuatku tertawa, melakukan pekerjaan yang kusuka, atau berhasil mencapai hal yang luar biasa. Setelah melewati itu semua, memang rasanya menyenangkan tapi perasaaan bahagia sifatnya hanya sementara. Terkadang aku berpikir bahwa kebahagiaan datangnya hanya dari hal-hal yang sudah terencana, padahal kebahagiaan tidak bisa diduga datangnya dari mana. Teringat kalimat “bahagia itu sederhana” memang ada benarnya, ternyata kebahagiaan datangnya juga dari hal-hal yang sederhana. Tidak perlu seberapa besar atau kecil, tergantung bagaimana kita menerima dan memaknainya.

Mungkin selama ini, kita terlalu sering menghindari kesedihan hingga terus mencari kebahagiaan. Padahal ada banyak kebahagian-kebahagian kecil di sekitar kita. Ibu yang selalu menyiapkan sarapan, ayah yang tak pernah lupa mengingatkan agar kita hati-hati selama di perjalanan. Hingga malam tiba pulang ke rumah berkumpul di meja makan, menikmati makanan kesukaan, sekadar saling bertukar cerita aktivitas seharian. Terlihat sederhana, tapi ketika kita berhasil memaknai hal-hal kecil yang kita dapat tersebut, selalu menikmati dan mampu mensyukuri hidup yang sedang kita jalani, tanpa kita sadari, kita telah menerima kebahagiaan itu setiap hari.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top