Dua Kata dari Mereka Kembali Menyapa

Terlahir sebagai anak terakhir di keluarga menjadi patokan bahwa hidupnya pasti bahagia; mendapat curahan kasih sayang berlebih dari orang tua, diberi perhatian dan dijaga oleh kakak-kakaknya, dituruti kemauannya dan dapat melakukan hal apa pun sesukanya. Padahal belum tentu demikian adanya. Terkadang menjadi anak bungsu malah dianggap sebelah mata, bahkan sebutan lain juga sering disematkan oleh orang-orang di sekitarnya pun orang-orang terdekatnya.

“Anak manja”

Sering kali mereka menyapa tanpa lebih dulu mengenal jauh pribadinya. Sewaktu kecil ketika diberi julukan anak manja, aku merasa baik-baik saja. Tak ada salahnya mereka memanggilku dengan sebutan itu, mengingat hubunganku memang terlalu dekat dengan ibu. Namun seiring berjalannya waktu, sapaan mereka berubah menjadi sindirian yang semakin ramai didengar telinga. Berawal dari dua kata, kini ada kelanjutannya.

“Anak manja, bisa apa?”
“Bisanya cuma meminta,”
“Tak bisa melakukan apa-apa,”
“Tidak berguna,”
“Hanya menyusahkan saja,”

Kalimat itu mungkin terkesan biasa, tetapi luar biasa membebani kepala. Semakin dewasa, semakin banyak stigma dari mereka. Menjadi anak bungsu memang serba salah. Mengaduh keluh kesah, terus-menerus dianggap bocah. Orang tua dan kakak bertengkar di rumah, tak heran jika anak bungsu yang dianggap sebagai sumber masalah.

Aku lahir sebagai anak kedua, lebih tepatnya anak bungsu dari dua bersaudara. Jika bisa memilih untuk dilahirkan menjadi anak urutan yang ke berapa, aku tidak ingin memilih. Toh, anak pertama yang dianggap lebih dewasa dan mendapat perhatian dari orang tua, memiliki beban harus menjadi teladan dan menjaga adik-adiknya. Anak tengah, yang katanya paling menarik dan berbeda dari saudaranya yang lain, juga memiliki beban harus menghormati kakaknya dan mengalah pada adiknya. Terakhir anak bungsu, yang katanya anak paling manja di keluarga dan paling disayang oleh orang tuanya, namun bukan berarti ia tidak punya beban. Ia dituntut lebih unggul dari kakak-kakaknya.

Menjadi sulung, tengah, atau bungsu, bagiku tidak ada yang lebih baik dari ketiganya. Setiap anak memiliki peran dan bebannya masing-masing yang tidak bisa dipukul rata. Namun apalah daya, label anak manja, anak mama, atau yang lainnya, sepertinya sulit dilepaskan karena terlanjur melekat pada anak bungsu.

Stigma dari mereka, berupa sapaan atau sindiran, tak perlu berlarut-larut dijadikan beban pikiran walau rasanya melelahkan karena harus menampung setiap kata dan kalimat yang tak mengenakkan. Cobalah untuk tidak terlalu peduli kepada mereka yang meremehkan, mencela, atau bahkan menghina. Mereka boleh mengganggu telinga kita, tapi tidak jiwa kita. Berusahalah fokus kepada diri kita, karena apa pun yang membuat kita berbeda-beda, sejatinya kita semua sama; sama-sama manusia yang ingin hidup bahagia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top