Aku Berhak Atas Pilihanku

“Kalau saja dulu kamu tidak melakukan itu, mungkin tidak akan begini pada akhirnya…”

Sepenggal kalimat tersebut masih saja menempel di ingatanku. Pendapat mereka tentang diriku begitu beragam walau nyatanya masih banyak yang tidak sesuai dengan kondisi hidupku. Jujur, aku masih merasa sangat sedih dengan keputusan yang pernah kupilih waktu itu. Sudah lebih dari tiga tahun belakangan ini, rasa sesal dan putus asa mengganggu pikiran juga hatiku. Mungkin sebagian dari kalian juga pernah merasakan hal demikian: menyesali keputusan dan pernah merasa berada di titik terendah dalam kehidupan.

Terlahir dari keluarga yang broken bukan menjadi impian setiap anak, termasuk aku. Namun hal itu bukanlah sesuatu yang bisa kita pilih. Sebagai anak yang tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis, aku sering merasa tidak nyaman, tertekan, bahkan sedih yang berkepanjangan. Alih-alih tetap tinggal dan bertahan, keinginan untuk pergi dari rumah rasanya menjadi salah satu tujuan utama yang ingin kulakukan. Tanpa berpikir nasib apa yang akan kualami nanti setelah memilih pergi. Dulu, bagiku yang terpenting bisa berhenti mendengar pertengkaran orang tua. Barangkali dengan mencari kesenangan di luar sana, aku bisa melepaskan segala penat yang selama ini teramat sesak di dada.

Kepergianku tiga tahun yang lalu, membuat banyak orang di sekelilingku merasa berhak untuk mengomentari hidupku.

“Seharusnya waktu itu kamu jangan begitu, supaya kamu enggak jadi begini,”

“Lebih baik kamu begini, supaya enggak begitu,”

Sering kali mereka menganggapku sebagai anak ceroboh yang tidak mempertimbangkan matang-matang ketika menentukan sebuah keputusan. Ya, aku sadar, keputusanku untuk pergi dari rumah bukan pilihan yang baik, namun bukan berarti keputusan untuk tetap tinggal adalah pilihan yang paling benar. Rasanya sah saja bahwa setiap manusia memiliki cara yang berbeda-beda untuk hidup bahagia. Begitu juga denganku, keputusan untuk pergi dari rumah bagiku adalah caraku untuk bertahan. Memang tidaklah mudah, aku perlu berjuang pada jalan yang telah kupilih sendiri. Melalui begitu banyak momen sulit dalam kehidupan–pengalaman menjadi karyawan di warung makan, pedagang kue kecil-kecilan, bahkan hingga berhutang tempat tinggal pada teman-teman–cukup memberikanku banyak pelajaran.

Pertengkaran yang saat itu kuhindari, akhirnya kutemukan lagi di berbagai situasi. Saat itu, aku bukan lagi menyaksikan, tapi aku yang melakukan. Jujur saja, aku tidak suka jika orang lain ingin tahu segala tentang diriku, hanya karena mereka merasa telah membantuku lantas mereka berhak atas hidupku lalu aku harus melakukan apa yang mereka mau. Bukankah hidup yang menjalani adalah diri kita sendiri, bukan orang lain? Apakah orang lain berhak mengontrol hidup kita? Tentu saja tidak, ‘kan?

Aku mulai membatasi diriku dengan mereka. Alih-alih supaya tidak membebani, aku justru dianggap tidak tahu terima kasih. Yah, apa pun pandangan mereka terhadapku, biarlah menjadi urusan mereka. Aku tidak ingin terlalu memusingkan, isi kepalaku lebih rumit dibanding harus memikirkan mereka. Lagi pula, mereka tidak tahu apa yang aku rasakan. Sekadar empati tapi tidak menjalani, tetap saja tidak akan tahu bagaimana rasanya. Apalagi luka mendalam yang selama ini kusimpan, orang lain tidak akan tahu betapa sulitnya aku berada dalam keadaan yang begitu pahit.

Situasi saat itu sangat mendesakku, rasanya hidup begitu keras. Tak jarang aku ingin menyerah begitu saja. Tapi, hati kecilku selalu mengatakan bahwa aku masih bisa bertahan, hanya saja aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa memulihkan luka batinku. Beruntung, aku masih percaya dan bisa mendengar suara-suara kecil itu. Seiring berjalannya waktu, aku tersadar bahwa aku sudah terlalu lama jatuh dalam kesedihan, tenggelam dalam penyesalan, aku harus berusaha berdamai dengan keadaan melawan kejamnya dunia, meski segalanya terasa hampa, tapi aku harus yakin bahwa setiap kejadian yang kualami memiliki makna tersendiri.

Di mana saat ini, aku harus bisa mensyukuri apa pun hasil dari pilihanku di masa lalu. Tidak banyak mengeluh, mencoba menerima kenyataan walau begitu sulit. Aku mencoba belajar memaafkan diriku sendiri dan orang lain, menjadikan semua momen sulit itu sebagai bentuk pembelajaran hidup. Barangkali dengan kejadian tiga tahun yang lalu itu, aku bisa lebih bijak dalam menentukan sebuah pilihan, lebih baik lagi dalam menghadapi permasalahan hidup, terus bangkit dari keterpurukan, dan berani menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab untuk kehidupanku sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top