Bunga yang Sudah Cukup untuk Mekar

Kamu, kita, yang sebatas perumpamaan. Temu tercipta karena sepi dan kembali menjadi sepi. Kala itu hadir dipaksa berakhir, rasa sakit tak kunjung sembuh atas pamit yang benar-benar menjauh. Lalu saya memilih sembuh dengan melangkah tak tentu arah. Tapi entah sembuh, entah menjadi semakin parah. Tak pernah ada genggaman erat untuk nyaman yang kian lekat. Pun tak lagi bisa mengulang, kini kamu sudah berpulang. Apa kamu sudah bertemu dengan sahabat karibmu? Sudah Dia cukupkan pula tugasnya di dunia. Pun sepertinya Dia sudah terlalu rindu dengan kamu.

Saya rasa, saya sudah mampu berdamai atas rasa sakit yang bisa jadi saya ciptakan sendiri; rasa sakit yang menjadikan kamu sebagai alasan paling utama. Siapa lagi tersangkanya selain saya—membayangkan hidup saya jauh di depan sana kalau saja ada kamunya. Betapa lucu imaji manusia, melabeli dengan rasa kecewa pada angan-angan yang dipatahkan sendiri. Dasar manusia. Memanipulasi pikiran sendiri kok dijadikan hobi. Lalu kesadaran menampar saya tepat di muka mengembalikan nyata di depan mata.

Mungkin saja ingatan tentang kamu masih keras kepala. Pikiran saya masih belum mau melepas kamu dari sana. Sepertinya, terlalu pekat rasa yang saya ingat. Bohong bila saya katakan sudah habis rindu yang tertumpuk sekian waktu. Tentu saja, mengingat kamu dengan seutas senyum sejenak saja tidak akan dosa, bukan? Sungguhlah sudah lebih dari cukup sekilas mengingat kenang, yang kian memudar dan juga samar-samar.

Tidak apa, saya menulis ini sudah bukan dengan air mata—sudah baik-baik saja. Saya sudah sepenuhnya menerima, hadirmu memberikan saya takdir untuk kehilangan kamu. Hadirmu hanya menciptakan kenangan, tanpa ada masa depan. Tapi izinkan saya membiarkan kamu tetap hidup, dengan menulis cerita yang ada kamu di dalamnya. Melewati ikhlas yang sama sekali tidak mudah; terpaksa, terbiasa, dan sampai benar-benar bisa.

Pada satu titik sadar itu, akhirnya saya mampu menerima: bahwa tak bisa mencapaimu; tak memilikimu, itu juga tak apa. Lagi pula siapalah saya berani-beraninya ingin punya hak penuh atas ciptaan-Nya. Saya kembali pada diri sendiri—tempat paling baik untuk saya bisa bertahan. Mampu memahami isi kepala yang pasti ada bahagianya, bukan siapa-siapa yang bisa selain saya. Menjadikan diri sebagai prioritas di atas segala yang hanya fana. “Kalau kamu merasa melihat seseorang sedang berusaha kembali tumbuh, tolong bantu kuatkan akarnya, ya. Mereka yang sudah cukup waktunya untuk mekar, biarlah sudah …”

4 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Laelatul Fitri
Laelatul Fitri
14 days ago

Hai kak yuan,
Tulisannya bagus dan aku suka.
Terimakasih telah menulisnya. Ada banyak hal positif yang bisa aku ambil dari tulisan ini. Sehat-sehat yaa ?️

Top