folder Filed in Adalah, Prosa, Yang Lain
Berita Kehilangan
Tak apa, beristirahatlah. Ada rasa yang harus berhenti mengeja. Ada raga yang harus berhenti terjaga.
Yuan Twindi Aninda comment 0 Comments access_time 1 min read

Sejenak berceritalah saya kepada diri sendiri. Tentang yang hilang, datang, pergi lagi, lalu tak pernah kembali. Saya pernah menitipkan tatap pada waktu yang kian berderap, yang kala itu perlahan membeku.

Pada satu ruangan ketika doa-doa paling keras dipanjatkan, tangis-tangis kian kering mulai tertahan, suara-suara alat bantu nyaring terdengar. “Sudah, sudah waktunya, berpasrah saja,” ucapku lirih mencoba tegar.

Lalu berkali-kali saya berlari mencari ruang untuk sembunyi. Namun lagi-lagi saya kembali, pada tenang yang tak lagi riuh, pada dekat yang benar-benar menjauh. Duduk berdampingan dengan segala keheningan dan kekosongan.

Doa akan selalu mengiring bersama bunga yang tak sempat mengering. Memori kian usang dengan rekam jejak yang dipaksa menghilang. Bersama rindu yang dengan tak tahu diri setiap hari terus berkembang.

Matahari itu telah sepenuhnya tenggelam di akhir senja yang sudah Dia gariskan. Tak lama setelahnya, suara-suara menyeruak serupa elegi memuakkan. Tak apa, beristirahatlah. Ada rasa yang harus berhenti mengeja. Ada raga yang harus berhenti terjaga.

Kepada yang ditinggalkan, tak ada pilihan lain untuk tidak menerima. Waktu dan matahari terbenam tidak menunggu mereka yang terlena.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment