Kata mewakili memori, bisa jadi rasa hangat sampai pada relung hati atau mungkin rasa pedih yang kembali menghampiri?

Januari 2019

Aku memutuskan untuk membuka hati pada seorang lelaki berumur 27 tahun. Sedari awal sudah kukatakan bahwa bersamaku akan menjadi hal yang sulit. Dia menjawab dengan tenang, “Kalau aku mampu, kamu mau menerima kan?”

Oktober 2019

Belum genap satu tahun, dia sudah hampir menyerah dan aku bertanya, “Mengapa?”. Jawabnya singkat, “Aku hampir tak bisa mendamaikan hatimu tapi aku masih berusaha.” Aku tertampar dengan kata-kata itu. Aku kembali mengorek isi palung hati. Ternyata benar, ada rasa perih yang besar tersimpan di sana. Bapak dan ibu masih lengkap tapi tidak harmonis. Sedari kecil, aku sering menerima kekerasan fisik. Dan ketidakharmonisan keluargaku berlanjut sampai hari ini. Aku pernah menjalin asmara dengan seorang lelaki umur 24 tahun dan aku sangat menyayanginya, tetapi nyatanya Tuhan lebih sayang dia yang meninggal karena kecelakaan. Ibuku sering masuk rumah sakit karena jantung yang lemah. Aku pernah memutuskan untuk bunuh diri karena setelah kehilangan yang belum aku ikhlaskan tersebut. Dan sejak saat itu aku menutup rapat pintu hatiku dan aku kubur dalam-dalam rasa sakit yang ada.

Januari 2020

Hari ini, aku curahkan semua rasa. Kini aku sudah baik-baik saja. Aku memperbaiki hati sedikit demi sedikit. Tidak berpura-pura lagi untuk menjadi ceria. Bisa mengutarakan semua sedih yang menumpuk dan menjadi lega. Aku sudah tidak lagi menyakiti diri, sudah bisa mengontrol emosi, dan sudah tidak berpikir untuk mengakhiri hidup. Rasa duka selalu datang, tapi kini aku bisa menepisnya perlahan. Aku masih memiliki Ibu dan adik, sumber kuatku. Kini pun aku sudah memiliki bahu untuk bersandar dan telinga untuk mendengar setiap keluhku, terima kasih. Aku harap aku akan terus membaik dan walaupun segalanya tak baik, aku bisa kembali menjadi lega seperti saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment