folder Filed in Prosa, Sekitar, Yang Sekarang
Bungkamnya Dunia
Manusia semakin tak terjamah. Sibuk memperkaya diri, menumpuk harta, berlomba memenangkan tahta. Sampai lupa, saudaranya sendiri tengah melawan dunia di sebrang sana.
Yani Nuraeni comment 0 Comments access_time 1 min read

Tangis itu nyata, tercekat tak menggema. Tangan kurus penuh luka itu, menjamah cahaya dunia, memohon ditoleh barang sebentar saja. Desau erangan lapar, jeritan ketakutan, mengundang ngilu di pendengaran. Ribuan pasang netranya yang sayu menerobos gemerlap dunia, sedang meminta derma.

Penuh Sesal, dunia tak memberi apa yang mereka minta.

Mendadak senyap. Ia enggan berkomentar walau seucap saja. Tengah repot terayun kemilauannya sendiri, sampai meredam pedih di sudut sana.

Dunia seketika hilang fungsi.

Kemana penghuninya pergi?

Hari itu, aliran kemanusiaan tak lagi terpatri.

Manusia semakin tak terjamah. Sibuk memperkaya diri, menumpuk harta, berlomba memenangkan tahta. Sampai lupa, saudaranya sendiri tengah melawan dunia di sebrang sana.

Uluran tangan tak lagi banyak mengantri. Seakan berat dan tak lah berarti. Kata mereka, “kesejahteraan semesta ada pada kemajuan pengetahuan dan teknologi.”

Tapi;

Bagaimana semesta bisa sejahtera? Jika saudaranya saja tidak merasakan hal yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment